x

cover buku Panggil Aku King

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 9 Juni 2020 12:51 WIB

Panggil Aku King - Sepenggal Biografi Liem Swie King

Buku ini memuat perjalanan karier Liem Swie King, termasuk beberapa kasus hangat semasa menjadi atlit bulutangkis. Juga memuat kehidupan masa kecilnya dan sedikit tentang keluarganya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Panggil Aku King

Penulis: Robrt Adhi Ksp

Tahun Terbit: 2009

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Penerbit Buku KOMPAS                                                                        

Tebal: xxiv + 456

ISBN: 978-979-709-412-8

Salah satu pebulutangkis yang saya kagumi adalah Liem Swie King. Saya mengagumi Swie King karena dia memperkenalkan cara bermain bulutangkis yang baru. Era bermain dengan reli-reli panjang diubahnya dengan permainan cepat dan smes-smes keras. Jumping smash adalah trademark Swie King. Revolusi raket dari raket kayu ke raket aluminium di tahun 1978 membuat permainan cepat King semakin menggila. Swie King juga bermain di masa bulutangkis mulai diminati banyak negara dan mulai masuk ke permainan dengan hadiah yang wah. Era Swie King adalah era dimana Tiongkok bergabung dengan IBF, sehingga persaingan menjadi semakin panas.

Generasi setelah King diisi oleh pemain-pemain dengan gaya permainan yang dipelajari dari King. Hermawan Susanto (keponakan King dari Agus Susanto dan Megah Idawati), Alan Budikusuma, Ardi Wiranata dan kemudian Harianto Arbi adalah pemain-pemain yang mengadopsi gaya smesh keras ala King.

Dalam situasi yang demikian, Swie King muncul dengan segala sepak terjangnya. Dulu saya selalu bertanya-tanya mengapa Swie King yang penuh bakat kok tidak bisa mencapai prestasi yang lebih baik? Mengapa permainannya seakan angin-anginan? Buku ini menjawab beberapa pertanyaan saya tersebut.

Saya suka cara Robert Adhi Ksp – sang penulis buku ini, yang menggunakan cara bertutur orang pertama. Pilihan tuturan orang pertama ini membuat saya seakan berdialog langsung dengan King. Untuk melengkapi pandangan pihak lain (menurut saya ini sangat bagus, supaya seimbang), Robert Adhi Ksp membuat anak artikel di setiap pokok pembahasan. Jadilah King yang bertutur sebagai orang pertama dilengkapi dengan pandangan-pandangan pihak-pihak yang kompeten.

Saya juga sangat senang dengan tuturan kronologis yang membuat saya mudah mengikuti perkembangan King mulai dari sejak lahir sampai dengan memutuskan berhenti dari dunia bulutangkis. Keunggulan lain buku ini adalah pertandingan-pertandingan penting disajikan dengan sangat detail. Bagaimana kejar-mengejar angka ditulis dengan cermat untuk menggambarkan bagaimana psikologi King saat menghadapi pertandingan tersebut.

Swie King tertarik untuk menekuni bulutangkis karena keluarganya adalah keluarga bulutangkis. Tiga kakaknya adalah atlit bulutangkis. Kakak lelakinya Leim Ming King sudah lebih dulu dikenal sebagai atlit bulutangkis. Namun sayang kakak lelakinya tersebut terlalu cepat berpulang karena kecelakaan sepeda motor. Dua kakak perempuannya adalah atlit bulutangkis. Megah Inawati dan Megah Idawati adalah atlit bulutangkis level nasional di jaman Minarni dan Retno Kustiyah.

King lahir di Kudus pada tanggal 28 Februari 1956. Seperti anak-anak lainnya, King bersekolah di sekolah umum yang ada di Kudus. Ia bermain dengan siapa saja saat kecilnya. Sebab ia bukanlah dari keluarga yang sangat kaya. Apalagi Kudus adalah kota kecil saja, sehingga pilihan pergaulan tidaklah cukup beragam.

Ia mulai serius menekuni bulutangkis saat berusia 15 tahun. Ia dilatih oleh Agus Susanto, kakah iparnya. Agus Susanto adalah atlit bulutangkis asal Kudus yang menikahi kakah Siwe King, yaitu Megah Idawati. King rajin berlatih di “gedung buruh” yang setiap sore disulap jadi tempat Latihan bulutangkis. Dengan dukungan Budi Hartono, sang pemilik Jarum, King berlatih bersama diantaranya dengan Kartono yang juga berhasil menjadi atlit bulutangkis internasional, khususnya di nomor ganda bersama Herianto. Untuk memenuhi penerangan, Budi Hartono memboyong genset dari rumah ke “brak” tempat latihan ini. Sejak itu kariernya muli bersinar di tingkat nasional.

Pada tahun 1973, saat memperkuat PON Jateng, ia sempat berfoto dengan idolanya, yaitu Christian Hadinata di Istora. Momen ini dicatat oleh King semagai sebuah tonggak yang membangkitkan tekatnya untuk berprestasi seperti sang idola. Setelah PON tersebut, Swie King dipanggil ke Pelatnas.

Keikutsertaan King di All England adalah tahun 1974. Ia mencapai perempat finas dan dikalahkan oleh Svend Pri dari Denmark. Pada tahun 1976, seharusnya King sudah bisa menjuarai All England. Tetapi ternyata ia kalah di final oleh Rudi Hartono yang saat itu membutuhkan satu kemenangan lagi di All England supaya bisa memcahkan rekor juara 8 kali. Baru pada tahun 1978 King menjadi juara All England dan mempertahankannya di tahun 1979. Setelah disela oleh Prakash Padukone pada tahun 1980, King kembali juara All England di tahun 1981.

Selain berjaya di nomor perorangan King juga berjaya di nomor beregu. Ia berhasil ikut mempertahankan Piala Thomas tiga kali dari keikutsertaannya sebanyak enam kali. King berhasil mempertahankan Piala Thomas pada tahun 1976, 1979 dan 1984. King juga banyak menjuarai turnamen bulutangkis baik di level Asia maupun dunia. Prestasinya di ganda, baik ganda putra maupun ganda campuran juga sangat membanggakan.

King adalah salah satu dari pemain hebat yang pernah mengalahkan semua pemain hebat di jamannya. Tidak ada satu pun pemain hebat baik dari Eropa maupun Asia yang tidak pernah dikalahkan oleh King. Rivalitasnya dengan pemain Eropa seperti Svend Pri, Fleming Delf dan Morten Frost Hansen serta dengan pemain Asia seperti Hanjian, Luanjin, Zao Xianghua, Yang Yang, Prakash Padukone, Misbun Sidek adalah bukti bahwa tidak ada satu pun pemain hebat yang tidak pernah dikalahkannya. Demikian juga dengan pemain Indonesia seperti Iie Sumirat, Kartono, Rudi Hartono, Tjun Tjun dan Icuk Sugiarto.

Selain memuat kisah sukses King, buku ini juga menjelaskan dengan cukup baik kejadian All England tahun 1976 dan kisah terlambat bangun di Sea Game X tahun 1979 di Jakarta. Tentang kekalahannya di All England, buku ini menceritakan adanya campur tangan dari Pengurus PBSI, supaya Rudi Hartono bisa memecahkan rekor juara All England 8 kali. Suharso Suhandinata memanggil King sebelum pertandingan final. Akibatnya King kalah dengan cepat dari Rudi Hartono. Kekalahan dengan cara yang mudah ini membuat banyak pihak mempertanyakan. Apakah King memang mengalah? Kekalahan ini juga menyebabkan King dimarahi oleh Budi Hartono dari Jarum.

Kisah keterlambatannya dalam pertandingan di Sea Game karena King salah melihat jadwal pertandingan adalah kontroversi lain. Saat itu King menginap di luar Istora. Ia menyangka bahwa ia akan bermain malam. Tetapi ternyata ia bermain pagi. Ia kalah WO. Kesembronoannya ini membuat ia kena skorsing. Sebenarnya PBSI takut skorsing kepada King akan membuat King turun mental. Tetapi ternyata King adalah seorang ksatria. Ia menerima skorsing tersebut sebagai tindakan disiplin.

Saat masa skors tersebut King sempat bermain film. King kapok bermain film karena ternyata ia merasa tidak memiliki bakat, dan selalu diatur.

Saat lepas dari masa skorsing, King diminta oleh PBSI untuk ikut bertanding dalam dwi tanding Indonesia – China. Pertandingan ini membuat ia mengalami masalah mental. Kekalahan beruntun dari Hanjian membuat penampilannya kemudian sangat menurun. Bahkan ia mengalami kekalahan di final All England dari Prakash Padukone di tahun 1980.

Selain berkisah tentang karier bulutangkis King, buku ini juga memberikan warna King sebagai pribadi, sebagai suami dan sebagai ayah. Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa King pernah berganti nama menjadi Guntur, saat ada himbauan (lebih tepatnya aturan) bagi warga keturunan Tionghoa untuk berganti nama. Namun nama Guntur itu tidak pernah digunakannya.

King menikahi Lucia, gadis Jakarta pada tahun 1982. Pasangan King – Lucia dikaruniai dua anak perempuan, yaitu Stephanie dan Michele serta seorang anak lelaki, yaitu Alex. Menurut istri dan ketiga anaknya, King adalah seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab. King berhasil membawa keluarganya sukses dalam pendidikan dan kehidupan. Anak-anaknya tidak tahu bahwa King adalah seorang juara bulutangkis tingkat dunia. King adalah teladan; sukses di karier, sukses di keluarga.

 

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini