Pengeritik dan " Pengalok " - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Juli 2020 13:59 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pengeritik dan " Pengalok "

    Artikel tentang seorang pengeritik dan seorang pengalok atau dalam bahasa Toboali dikenal dengan sebutan pengalok.

    Dibaca : 1.274 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Budayawan Seno Gumira Ajidarma mengatakan dunia bertambah sempurna karena kontribusi sikap kritis. Karena itu berlaku diktum bahwa kritik sangat diperlukan demi kemajuan zaman dan kebaikan bersama. Lenyapnya tukang kritik kata budayawan ini, merupakan awal ketertindasan baru.

    Tak heran, ketika tukang kritik dibungkam, demokrasi akan menemui ajal. Matinya tukang kritik melahirkan pemerintah yang tirani dan otoriter. Hadirnya tukang kritik menjadi pilar sebuah pemerintahan yang demokratis dan kuat.

    Fungsi preventif kritik adalah mengingatkan agar segala kemungkinan negatif tak terjadi dan harus diantisipasi. Sementara itu fungsi kuratif kritik bertujuan memperbaiki kesalahan atau menormalkan situasi. Seorang pemimpin yang rasional akan selalu melihat kritik dari dua fungsi tadi. Bila tidak, sang pemimpin akan mudah tersinggung.

    Profesor Selo Soemarjan mengatakan, masyarakt Indonesia penganut kebudayaan malu. Bahkan dibeberapa daerah, nilai-nilai budaya nya membenarkan orang menembus malunya dengan jiwa sendiri atau orang lian. Carok di Madura atau Siri di Bugis.

    Dalam masyarakat yang menganut kebudayaan malu, perkara kritik menjadi sangat pelik. Bagaimana menyampaikan kritik menjadi sangat pelik. Untuk itu profesor Selo Soemarjan bernasihat, melakukan kritik itu sedemikian rupa manisnya, sehingga yang dikritik bisa ketawa terbahak-bahak, sekurangnya tersenyum geli.

    Seorang teman saya pernah bercerita, bagaimana dirinya mampu mengkritisi seorang pemimpin daerah tanpa membuat sang pemimpin itu marah. bahkan mereka berdua bisa jadi sahabat baik. Caranya? Dalam pertemuan itu teman saya selama 15 menit pertama memuji atau dalam bahasa Bangka-nya ngalok atau diangkat dulu keberhasilannya. Tensitas ngalok tadi menurun dalam 15 menit berikutnya. Dan selanjutnya teman saya mulai mengkritisi pemimpin tadi habis-habisan dengan fakta-fakta yang real. Pemimpin daerah tadi mengakui kritik yang dilontarkan teman saya itu benar berdasarkan fakta dan menerimanya dengan lapang dada sebagai bagian untuk mereparasi kepemimpinannya yang akan datang.

    Namun ternyata teman saya tadi nyaris celaka saat berdialog dengan pemimpin daerah yang hobbi minta dipuji atau minta di-alok. Kendati kritik  disampaikan teman saya sarat dengan fakta-fakta realita, pemimpin yang hobbi minta alok tadi berasumsi teman saya menghina dan memfitnah dirinya. Dibenak pemimpin minta alok ini, kritik yang disampaikan teman saya adalah pil pahit dan bukan vitamin yang menyehatkan dirinya. Padahal pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang merangkum semua aspirasai dan mendengarkan apa yang disampaikan rakyat, termasuk pahitnya kritik,karena itu semua untuk kebaikan bersama.

    Tantangan kedepan bagi mereka yang merasa dirinya pemimpin rakyat adalah siap untuk menerima kritik dengan lapang dada dan menerima pujian sebagai bekal dalam mengaplikasikan visi dan misi nya untuk kepentingan rakyat. Oleh sebab itu tukang kritik jangan sampai hilang dan tak bersuara di bumi nusantara tercinta ini.Namun biarkan tukang alok dan pengalok (pemuji) gugur tergilas dimakan perubahan zaman.
     
    Toboali, Juli 2020

    Ikuti tulisan menarik Rusmin Sopian lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.