Sampai Kapan Indonesia Harus Bergantung Pada TKI untuk Mendulang Devisa? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tania Adin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Jumat, 23 Oktober 2020 07:32 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sampai Kapan Indonesia Harus Bergantung Pada TKI untuk Mendulang Devisa?

    Sampai kapan Indonesia harus mengimpor tenaga kerja manusia ke luar negeri untuk menghasilkan devisa bagi sebuah negara? Sedangkan cara untuk mendapatkan devisa sangatlah banyak, salah satunya adalah mendatangkan investasi asing ke Indonesia. Sampai kapan kita harus merelakan mereka pergi dan malah meregang nyawa di negara lainnya?

    Dibaca : 375 kali

    Merujuk pada data BP2MI, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, menjelaskan bahwa jumlah remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada tahun 2019 mencapai Rp 160 triliun dari jumlah 3.742.440 pekerja Indonesia di luar negeri. 

    Dari jumlah tersebut, dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih kerap menggenjot devisa negara melalui remitansi TKI. Padahal, menjadi TKI memiliki resiko yang sangat tinggi terutama pada sisi keamanan. Beberapa TKI tak jarang pulang tinggal nama alias harus meregang nyawa di negeri orang. Hal yang miris ini terjadi pada mereka. 

    Di negara kita tercinta ini, kurangnya lapangan kerja membuat Indonesia terpaksa harus mengirim masyarakat untuk ke Arab menjadi TKI atau TKW. Kini, telah ada ratusan jiwa akan dihukum pancung di negara tersebut karena keadilan yang entah bagaimana. Pemerintah Indonesia telah mengusahakan warganya tersebut untuk lepas dari jeratan hukum Arab, namun hanya 100 orang yang berhasil dibebaskan dengan negosiasi oleh pemerintah.

    Sampai kapan Indonesia harus mengimpor tenaga kerja manusia ke luar negeri untuk menghasilkan devisa bagi sebuah negara? Sedangkan cara untuk mendapatkan devisa sangatlah banyak, salah satunya adalah mendatangkan investasi asing ke Indonesia. Sampai kapan kita harus merelakan mereka pergi dan malah meregang nyawa di negara lainnya? 

    Dengan adanya modal asing, diharapkan nantinya devisa negara bertambah untuk menstabilkan ekonomi negara. Selain itu, adanya transfer of skill, knowledge, & technology antar pekerja asing dengan pekerja lokal, serta terbukanya lapangan kerja seluas mungkin bagi generasi muda. Inilah wujud dari pembangunan industri padat karya yang sebenarnya dapat menjadi solusi dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. 

    Adanya investasi bukanlah membuat negara menjadi lemah dan terjajah, tidak. Ambil contoh seperti Amerika Serikat, China, Inggris, dan Perancis. Mereka adalah negara besar yang menjadi lebih kuat dan kokoh setelah kucuran dana asing mengalir pada perekonomiannya. 

    Mengapa modal asing pada akhirnya membuat deretan negara tersebut kuat? Mari kita paparkan secara umum, kelebihan kehadiran modal asing pada sebuah negara. 

    1. Dengan tingginya investasi asing langsung, maka semakin banyak perusahaan yang berdiri pada sebuah negara

    2. Dengan banyaknya perusahaan, akan tersedia lapangan pekerjaan dengan berbagai macam bidang sesuai kebutuhan pekerja

    3. Dengan banyaknya masyarakat yang mencari pekerjaan, maka semakin tinggi gaji atau penghasilan pekerja

    4. Dengan tingginya gaji, maka akan tinggi minat belanja kebutuhan sekunder seperti hiburan, pariwisata, festival, dsb.

    5. Dengan banyaknya perusahaan, maka semakin banyak yang akan membayar pajak

    6. Dengan semakin banyaknya yang membayar pajak, maka penghasilan negara yakni devisa akan sebanyak banyak

    7. Dengan banyaknya devisa yang diterima oleh sebuah negara, maka negara akan mampu membuat fasilitas umum seperti rumah sakit, pelabuhan, dan bandara. 

    Dengan segudang keuntungan ini tentu jelas diinginkan oleh semua negara di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia yang kini gencar mengundang investasi asing. Bukan karena pemerintah ingin membuat masyarakatnya terjajah atau didominasi oleh asing, bukan semudah itu pemikirannya, pemirsa. Namun, pemerintah berpikir dan melihat horizon yang lebih luas ke depan untuk kelangsungan hidup masyarakatnya. 

    Jadi, sampai kapan kita harus bergantung pada TKI dan TKW, yang merupakan generasi bangsa Indonesia? Yang malah harus meregang nyawa di negara lain karena tertindas? Tidakkah kita seharusnya peduli dengan mereka? Jika ada cara yang lebih mulia dan melibatkan kontribusi kita sebagai masyarakat: ialah membuka lebar pintu investasi asing ke negara kita. Sudah siap?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.