Ini Loh, Ilmu STy yang Bukan Hanya untuk Timnas, Tapi untuk Sepak Bola Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

STy

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 19 Mei 2021 14:59 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Ini Loh, Ilmu STy yang Bukan Hanya untuk Timnas, Tapi untuk Sepak Bola Indonesia

    Apa yang diharapkan STy kepada para pemain timnas yang kini sedang diasuh di Dubai, juga diperhatikan dan dipraktikkan dalam pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi di sepak bola nasional mulai dari akar rumput hingga klub Liga 1. Ingat, jangan lelet/lambat, jangan suka bawa bola sendiri lewati lawan, jangan gaya saat passing, dan miliki stamina/fisik yang kuat. Pondasi untuk melatih dan mempraktikkan itu semua kuncinya adalah cerdas intelegensi dan cerdas personaliti (mental, emosi).

    Dibaca : 701 kali

    PSSI memang mengontrak Shin Tae-yong (STy) untuk mengampu timnas sepak bola Indonesia. Tapi, berkat berbagai sepak terjang STy sejak bersama timnas U-19 hingga kini sedang mendampingi timnas senior di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghadapi lanjutan Babak Kualifikasi Piala Dunia 2022, banyak kritik dan masukan STy dalam setiap sesi latihan yang dapat dijadikan ilmu pengetahuan baru bagi pembinaan pelatihan, dan kompetisi sepak bola Indonesia mulai dari akar rumput (usia dini dan muda) sampai tingkat tertinggi, yaitu Klub Liga 1.

    Empat ilmu

    Ilmu yang saya maksud adalah, segala kritik dan masukan STy untuk timnas, tapi sejatinya sangat-sangat signifikan untuk sepak bola Indonesia pada umumnya. Artinya, saat STy mengkritik kinerja pemain timnas, itu sama saja bahwa STy sedang menunjukkan rapor sepak bola nasional kepada PSSI, stakeholder terkait, dan seluruh publik sepak bola nasional, selama ini. Dan hasil perkembangan sepak bola nasional, tergambar dan terdeskripsi pada para pemain yang dianggap terbaik hingga dipanggil masuk timnas.

    Tetapi, meski pemain yang dipanggil adalah talenta terbaik di setiap kelompoknya, kritik STy, jelas harus dipahami bahwa itu adalah kritik untuk semua level sepak bola nasional hingga ke akar-akarnya.

    Beruntungnya lagi, ada media massa nasional yang senantiasa meliput setiap agenda kegiatan timnas dan terus memberitakan hal positif yang keluar dari pikiran dan hati STy. Jadi, ini adalah menyelam sambil minum air. STy dibayar untuk timnas, tapi berkat media massa, kritikan STy untuk pemain timnas, menjadi ilmu bagi seluruh stakeholder sepak bola nasional.

    Karenanya, apa kritik dan masukan STy, perlu diapungkan, dicamkan, lalu belum terlambat untuk diterapkan dan dipraktikkan di sepak bola nasional dari usai akar rumput hingga klub Liga 1.

    Apa yang  dilontarkan oleh STy dan telah terpublikasi di berbagai media nasional, pertama soal sikap pemain timnas yang lambat atau lelet. Kedua, soal pemain yang terbudaya melewati lawan, ketimbang mengoper bola ke teman. Ketiga, soal pemain timnas yang kebanyakan gaya saat passing. Dan, keempat soal pemain depan yang harus turun membantu pertahanan.

    Apa kata STy soal pemain timnas yang lelet dan lambat? Dalam satu kesempatan, saat STy mengungkap kesan bahwa pemain timnas Indonesia terlalu lelet dibandingkan atlet di Korea Selatan. STy melihat sendiri, kebiasaan pemain-pemain Indonesia yang betah berlama-lama ketika bersiap menjelang latihan, berbeda dengan perilaku pemain-pemain di negara asalnya. Di Korea, persiapan latihan membutuhkan waktu tiga menit, sedangkan di Indonesia persiapan latihan membutuhkan waktu 15 menit. STy sampai bilang bisa membuat orang gila karena sangat lambat.

    Selanjutnya, soal pemain yang terbudaya melewati lawan, ketimbang mengoper bola ke teman. Dalam satu kesempatan latihan game internal, STy juga mengeluhkan aksi para pemain timnas Indonesia yang terlalu sering satu lawan satu ketimbang mengoper bola. STy pun mengungkapkan bahwa main bola dengan banyak passing lebih mengalir. Jangan terlalu sering satu lawan satu, atau berusaha melewati lawan, lebih baik passing karena itu akan menghabiskan tenaga.

    Berikutnya soal pemain timnas yang kebanyakan gaya saat passing. STy menilai beberapa pemain timnas Indonesia terlalu banyak gaya dalam bermain dan menyebut kalau mau passing langsung saja, jangan banyak gaya. STy menambahkan kalau mau ambil bola, intersepnya jangan terlambat, jangan lemah, komunikasi juga, panggil teman.

    Dan, soal pemain depan yang harus turun membantu pertahanan. Selama ini timnas mudah kebobolan, karena pemain depan sering tak turun membantu pertahanan. Bahkan, untuk masalah ini, STy sampai mencontohkan dan menyebut salah satu pemain depan timnas senior. Untuk itu, stamina memang harus prima. Bila fisik kuat, maka tim juga akan kuat, sebab saat diserang semua pemain juga turut bertahan. Sebaliknya saat menyerang, semua pemain juga seirama dalam serangan.

    Cerdas intelegensi-personaliti, kunci

    Semoga dalam 5 laga, 2 uji coba dan 3 laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia yang semua dihelat di UEA, semua pemain timnas senior menyetop kebiasaan buruknya dalam sikap lelet dan lambat, membuang budaya suka membawa bola dan melewati lawan, mengubahnya menjadi suka mengoper kepad teman.

    Pemain timnas juga menghilangkan budaya kebanyakan gaya saat passing, serta memiliki stamina/fisik kuat, sehingga saat menyerang dan bertahan, semua pemain terlibat dan seirama plus terus mengasah kecerdasan intelegensi dan personaliti.

    Apa yang diharapkan STy kepada para pemain timnas yang kini sedang diasuh di Dubai, juga diperhatikan dan dipraktikkan dalam pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi di sepak bola nasional mulai dari akar rumput hingga klub Liga 1.

    Ingat, jangan lelet/lambat, jangan suka bawa bola sendiri lewati lawan, jangan gaya saat passing, dan miliki stamina/fisik yang kuat. Pondasi untuk melatih dan mempraktikkan itu semua kuncinya adalah cerdas intelegensi dan cerdas personaliti (mental, emosi).

    Lebih dari itu, pesan ini juga bisa dimaksudkan untuk para pembina dan pelatih, tak perlu banyak gaya dalam membina dan melatih, karena akan ditiru pemain. Jadi pembina dan pelatih harus terlebih dulu cerdas intelegensi dan personaliti.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.