Satu Lubang Biopori untuk Kelestarian Bumi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Minggu, 10 Oktober 2021 06:52 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Satu Lubang Biopori untuk Kelestarian Bumi

    Ir. Kamir R Brata adalah penemu teknologi lubang resapan biopori. Di mata pria sederhana yang merupakan pengajar mata kuliah hidrologi tanah di IPB ini, daun, hujan dan hutan akan menjadi perbincangan yang sangat menarik. Ekosistem alam khususnya hutan, sepertinya sudah mendarah daging dalam tubuh Kamir. Perilakunya, pikirannya, serta kepeduliannya terhadap keberlangsungan mahluk hidup di alam menjadi perhatian khusus Kamir. 

    Dibaca : 490 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Suatu hari langkah kaki seorang Kamir R Brata terhenti, pandangannya serius tertuju pada tanah yang dipijaknya. Perlahan tapi pasti, dirinya memperhatikan dengan sangat, apa yang terjadi pada tanah yang sehari-hari dipijaknya. Tidak ingin berprilaku mubazir dalam hidupnya, Kamir memanfaatkan setiap momentum dalam hidupnya sebagai sarana belajar dan terus belajar. Bahwa alam adalah gudang ilmu pengetahuan, terpatri dalam hatinya.

    Begitu juga dengan kehidupan di dalam hutan, di hutan semua orang bisa belajar banyak hal, daun yang jatuh, hujan yang turun, hingga meresap ke dalam tanah dan rerumputan. Daun yang mulai membusuk dan menjadi sumber makanan dari mahluk yang ada di bawahnya. Renungan tentang alam, yang sederhana namun mendalam menjadi bahan cikal bakal penemuan teknologi lubang resapan biopori. 

    Di mata pria sederhana yang merupakan pengajar mata kuliah hidrologi tanah di Institut Pertanian Bogor ini, daun, hujan dan hutan akan menjadi perbincangan yang sangat menarik bagi siapapun yang mendengarkan. Ekosistem alam khususnya hutan, sepertinya sudah mendarah daging dalam tubuh Kamir. Prilakunya, pikirannya, serta kepeduliannya terhadap keberlangsungan mahluk hidup di alam menjadi perhatian khusus Kamir. 

    “Hutan Adalah Ilmu Pengetahuan,” begitu ucapan Kamir yang fenomenal. Penemu teknologi resapan lubang biopori ini melihat fenomena yang bagi orang alam dianggap sebagai hal remeh-temeh ini, dan merenunginya.

    Sebagai orang yang lama mempelajari ilmu tanah, Kamir terbiasa mengamati tanah bukan hanya pada bagian permukaan, tapi harus juga dilihat bagaimana struktur tanah hingga ke dalam. Itu pula yang dilakukan Kamir untuk menjawab rasa peasarannya terhadap tanah-tanah di hutan. Ternyata, katanya, “Kalau kita lihat ke dalam, akan tampak liang-liang yang ada di dalam tanah. Siapa yang membuat, makhluk Tuhan juga, akar tanaman dan binatang-binatang tanah,” kata Kamir. 

    Binatang-binatang tanah itu bisa hidup dan bahkan membantu kelangsungan hidup tumbuhan di atasnya, lanjut Kamir, karena cukup mendapat makanan. Nah, makanan itu ternyata dari sampah yang jatuh dari pohon yang ada di atasnya, yang dibawa oleh binatang-binatang bawah yang hidup di bawah tanah.

    Di dalam tanah, binatang-binatang itu bekerja membuat terowongan-terowongan kecil sebagai rumah tinggal mereka. Semakin banyak terowongan yang mereka buat artinya mahluk hidup yang tinggal di dalam tanah semakin banyak. Dan, di sanalah air lebih cepat masuk. Terowongan-terowongan kecil itulah yang kemudian disebut biopori. 

    Namun Kamir tetap sadar, teknologi lubang resapan biopori yang ia tawarkan kepada masyarakat memang sangat sederhana. Ia pun tak kecewa bila teknologi konvensional bikinannya mendapat cibiran banyak orang. Namun, Kamir tak pantang menyerah. Sejak menemukan istilah biopori tahun 1990an, lelaki kelahiran Cirebon ini telah bergerilya dengan beberapa rekannya yang kebanyakan berasal dari kalangan petani, LSM, dan pakar dengan berbagai macam latar belakang keilmuan untuk menyebarkan ilmu lubang sumur resapan kepada masyarakat. Ketika itu, secara sederhana, teknologi lubang resapan biopori dikenal masyarakat sebagai sarana untuk membuat rumah cacing. Karena, cacing tanah adalah salah satu binatang penggembur tanah yang baik. Selain tentu saja masih banyak binatang organik yang membantu proses dekomposisi bahan organik di dalam tanah.

    Kini, Kamir tak lagi bergerilnya menyebarkan temuannya. Sebaliknya, saat ini ia malah dicari banyak orang untuk berguru tentang ilmu lubang resapan biopori temuannya. Sejauh itu, Kamir tak pernah berfikir untuk mematenkan temuannya sebagai dalam sebuah hak cipta yang dilindungi undang-undang dari segala macam bentuk penjiplakan. 

    Di akhir Kamir menuturkan, “Kalau kita ingin membantu (memperbaiki) lingkungan ini dengan cepat, kita tidak perlu memikirkan itu (hak paten). Karena menurut agama, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan ke orang lain. Peduli amat ada patennya atau tidak. Itu kewajiban,” begitu tegas dirinya melafalkan hal tersebut. 

    Panjang umur hal – hal baik, semoga semesta merestui kita semua untuk tetap tinggal di atas bumi yang sudah mulai menua ini.  Semoga kita semua yang membaca ini dapat mengambil hikmah dan bisa tetap melestarikan alam walau dengan cara yang sederhana. (*)

    Penulis: Maulana Yusuf



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.