Menulusuri Jejak Nilai Tanda, Simbolik, dan Eksistensi Konsumerisme Masyarakat - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: DNA India

Rizky Ramadhan Fuldya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:20 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menulusuri Jejak Nilai Tanda, Simbolik, dan Eksistensi Konsumerisme Masyarakat

    Menjelaskan bagaimana fenomena konsumerisme masyarakat di Indonesia

    Dibaca : 277 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Manusia tanpa disadari memiliki perilaku konsumtif yang berlebihan. Lewat E-commerce yang sudah merebak di dunia maya, manusia mencuci mata sekadar melihat-lihat tren gaya hidup zaman sekarang. Sifat konsumtif  di kota-kota besar menjadi acuan manusia menunjukkan jati diri mereka. Konsumerisme menjadi nilai lebih bagi mereka. Terutama di wilayah perkotaan, konsumerisme menjadi arena untuk menunjukkan eksistensi diri seseorang.

    Internet yang bukan lagi sekadar dunia maya. Seiringnya perkembangan teknologi, internet menjadi media masyarakat dalam berinteraksi antar individu. Jejaring sosial menjadi dasar dan perkembangan pesatnya teknologi masyarakat. Budaya pop menjadi sebab-akibat dalam konsumerisme masyarakat.

    Teknologi yang semakin canggih menjadi arus informasi masyarakat menulusuri budaya populer di luar Indonesia. Khususnya lewat sosial media. Teknologi sangat memungkinkan menjadi desain dalam ruang konsumerisme.

    Konsumerisme memasuki ranah jagat raya sosial media sebagai relaitas sosial . Eksistensi konsumerisme tidak kalah saing dengan adanya E-commerce (online shop) yang kian digunakan oleh generasi ke generasi.  Terlebih lagi melalui perkembangan teknologi yang berkembang pesat, masyarakat dimudahkan untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dengan klik dan klik melalui aplikasi belanja online. E-commerce yang dapat memudahkan masyarakat dalam memilih dan memilah barang tanpa harus datang lansung ke kios atau toko-toko yang terdapat di pusat perbelanjaan menjadi faktor yang menjadikan masyarakat memulai perilaku konsumtif.

    Tren dan gaya hidup menarik perhatian masyarakat untuk mengikuti dunia fashion. Teknologi yang menjadi faktor serta sebab akibat pesatnya kemajuan penyebaran informasi yang tidak lagi melalui surat kabar atau media massa lainnya. Melalui tren daya gaya hidup dari budaya yang bukan berasal dari Indonesia menyebabkan berbagai pengaruh bagi masyarakat modern. Seperti halnya budaya Korea Populer atau biasa disebut dengan K-pop, tren musik, fashion pada zaman 1970-1980 , dan Cosplayer Jepang dapat menjadi pengaruh bagi perilaku konsumtif masyarakat dalam dunia fashion yang telah tesebar melalui arus informasi di internet.

     

    Penjelasan mengenai budaya populer yang menjadi ruang konsumsi menjadi kegiatan berbelanja bagi masyarakat.  Kegiatan berbelanja khususnya didesain menarik dalam hari-hari besar di Indonesia. Momen-momen hari besar dilihat oleh para kapitalis sebagai momen yang tepat untuk menjual barang dengan keuntungan yang besar. Seperti halnya momen hari besar lebaran, natal, dan akhir tahun yang tepat dalam menjadikan arena perdagangan komoditas. Hal ini bukan terjadi karena adanya hari raya besar, tetapi tanpa disadari bahwa masyarakat dimanfaatkan melalui momen hari raya tersebut. Tanpa sadar pemanfaatan momen tersebut kapitalis menjadikan internet sebagai agen untuk meraup laba yang menguntungkan dengab momen tersebut. Pada dasarnya terdapat penanaman norma yang telah disisipkan dan seolah memaksa masyarakat pada setiap momen hari raya untuk berbelanja.

     

    Perilaku konsumtif sendiri terjadi pada masyarakat yang merasa tidak pernah puas pada tren dan gaya hidup mereka. Keinginan dalam membeli barang-barang yang menjadi sifat dasar tanpa disadari manusia itu sendiri dapat menjadi perilaku konsumtif. Gambaran perilaku konsumtif ini tanpa sadar menggambarkan bahwa konsumerisme yang menjadi nilai tanda dan simbolik tanpa dilihat dari fungsinya, sehingga mereka mengkonsumsi komoditi secara berlebihan untuk menunjukkan eksistensi nilai tanda mereka.

     

    Pada intinya, tanpa kita sadari konsumerisme telah menjadi eksistensi dan menjadi identitas dalam masyarakat di era modern ini. Alhasil masyarakat menjadikan simbol untuk menjadikan eksistensi mereka melalui komoditi yang telah mereka beli dan memberi tanda atau nilai tertentu dalam perilaku konsumerisme tersebut. Gambaran konsumerisme sudah semakin jelas terlihat melalui budaya konsumerisme dengab adanya nilai tanda dan simbolik komoditi masyarakat. Menelusuri pemikiran Jean Baudrillard melalui konsumerisme dan kelas sosial menjadi tidak relevan dalam dunia simulasi dimana citra visual dianggap lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Baudrillard melihat logika nilai-tanda sebagai kemenangan besar kapitalisme dalam upayanya untuk memaksakan tatanan budaya yang sesuai dengan tuntutan produksi komoditas skala besar (Miles, 2006: 46). 

     

    Bahwa pada dasarnya seperti yang telah kita lihat sendiri melalui realitas sosial bahwa individudapat menunjukkan jati diri mereka melalui tren dan gaya hidup yang telah mereka sisipkan nilai tanda dan simbolik yang tanpa disadari mereka lakukan. Sehingga menimbulkan kelas diantara kelompok masyarakat melalui komoditi. Termasuk juga bahwa seperti nilai-guna material telah dihiraukan oleh masyarakat modern saat ini, bahwa mereka menunjukkan simbolik mereka dalam menggambarkan jati diri mereka melalui eksistensi komoditi barang yang telah dibeli.

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.