Meremehkan, Tak Melihat Diri Sendiri? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Tata Krama

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 10 Januari 2022 13:30 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Meremehkan, Tak Melihat Diri Sendiri?

    Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), remeh itu, tidak penting, tidak berharga, kecil. Sementara, meremehkan adalah merendahkan, mengabaikan, memandang remeh.

    Dibaca : 541 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), remeh itu, tidak penting, tidak berharga, kecil. Sementara, meremehkan adalah merendahkan, mengabaikan, memandang remeh.

    Contoh kasus, dalam berbagai grup Sekolah Sepak Bola (SSB) misalnya, mentang-mentang sudah terpilih masuk tim dan ikut dalam kompetisi, banyak orang tua siswa yang seenaknya meremehkan kehadiran anaknya dalam latihan atau tanding uji coba tim. Menganggap latihan atau uji coba tak harus dihadiri, tak penting. Sudah begitu, tanpa ada komunikasi izin, dan slanang-slonong tak punya etika.

    Ada yang merasa karena sudah jadi pemain yang hebat. Mirisnya, passing-control saja masih jelek, tapi malah merasa hebat sendiri. Itu karena tak memiliki personaliti yang baik. Attitude buruk, tak tanggungjawab dan tak beretika.

    Padahal, permainan sepak bola adalah permainan tim, yang butuh kekompakan dan kerjasama. Tanpa latihan, maka seorang pemain sepak bola yang sedang terlibat dalam sebuah kompetisi, maka sejatinya dia sudah menghambat dirinya sendiri dan menghambat tim. Terlebih bila kompetisi ada peraturan degradasi. Cilakalah tim.

    Kasihan Manajemen SSB, kasihan perjuangan dan pengorbanan orang tua dan siswa lain yang disiplin dan bertanggungjawab, tapi harus menanggung kegagalan.

    Dalam kasus lain, lihatlah apa yang setiap detik terjadi dalam cuitan Twitter manusia-manusia Indonesia. Karena persoalan lawan dan perbedaan dukungan politik, maka persoalan remeh dan meremehkan terus berkibar dan berkobar.

    Yang pasti, semakin ke sini, kita akan sangat mudah menjumpai sikap meremehkan, baik di dalam keluarga, di masyarakat, di perkumpulan atau grup, di sekolah, kampus, di tempat pekerjaan, hingga di parlemen dan pemerintahan. Sikap remeh dan meremehkan bahkan sudah menjadi orkestra di semua lini kehidupan masyarakat Indonesia.

    Ironis, sikap remeh dan meremehkan seolah menjadi Kurikulum Pendidikan Baku di Indonesia, yang dalam realisasi dan penerapan pembelajarannya tidak perlu diajarkan dan didik di bangku pendidikan formal. Sebab, terus menggelora di dunia maya, media sosial, dan dipraktikkan pula dalam kehidupan nyata, mengalahkan Kurikulum Pendidikan yang digariskan dan terus bermasalah.

    Saya pelaku?

    Sikap meremehkan, identik dilakukan oleh orang-orang yang tak cerdas personaliti alias tak cerdas mental dan emosi. Sayangnya, sikap meremehkan yang biasanya dilakukan oleh orang yang tak intelek, tak cerdas intelegensi atau otak, kini justru banyak dilakukan oleh orang-orang yang terkategori intelek dan berpendidikan. Ini akibat adanya degradasi di berbagai bidang, hingga akhirnya moral dan budi pekerti pun tergerus.

    Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), remeh itu, tidak penting, tidak berharga, kecil. Sementara, meremehkan adalah merendahkan, mengabaikan, memandang remeh.

    Apakah saya sering meremehkan sesuatu? Meremehkan orang lain? Baik secara langsung maupun tidak? Menganggap bahwa orang lain memiliki kemampuan di bawah saya? Dan sejenisnya? Yakin, tanpa disadari, secara manusiawi, saya melakukan hal itu.

    Namun, sebagai manusia yang dikaruniai kecerdasan intelegensi dan personaliti, maka sudah pada tempatnya bila saya, kita, jangan sampai terjerumus memiliki sikap dan budaya meremehkan.

    Bila saya melakukan sikap meremehkan, yang ada, tak dapat disangkal, ada dampak ketenangan batin terganggu, meski orang lain tak melihat isi hati saya, kita.

    Pasalnya, meremehkan dalam hal apa pun, pada saatnya, saya percaya akan ada karma menghampiri hidup kita. Ada balasan setimpal yang akan saya terima, yang datangnya bisa dari mana saja. Bukan dari hal atau orang yang saya remehkan.

    Selain itu, bila saya terus terbudaya meremehkan hal atau orang lain, maka sejatinya dalam diri saya tak pernah tertanam tentang bagaimana menghargai sesuatu hal atau orang lain. Sebab, kita hanya sibuk dan sombong, tak pernah belajar kekurangan orang lain. Hingga dalam diri saya tak tertanam bagaimana cara menghargai orang lain.

    Bila saya terbudaya meremehkan, maka sebenarnya, saya pun tak kuat dan tak cerdas dalam membaca dan analisis terhadap hal atau orang lain yang saya remehkan karena cepat menyimpulkan. Tanpa tahu kedalaman orang lain, yang bisa jadi jauh unggul dari diri saya di berbagai hal.

    Wajib saya ingat. Manusia hidup tak bisa sendiri. Pasti membutuhkan hal lain dan bantuan orang lain. Dan, bisa jadi suatu saat saya akan butuh bantuan orang yang pernah saya remehkan. Apakah orang yang saya remehkan akan mau membantu saya?

    Meremehkan juga tak beda dengan merasa superior. Maka dengan merasa superior, saya akan dengan mudah merendahkan orang lain. Tak menganggap orang lain. dan sejenisnya karena saya terlalu sibuk dengan diri sendiri yang merasa superior. Bukan keadaan nyata dan fakta memang superior, tetapi hanya merasa atau perasaan saya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.