Orang Lain Bisa Tak Respek, Muak, Iri Hati, Karena? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Pahlawan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 14 Januari 2022 07:11 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Orang Lain Bisa Tak Respek, Muak, Iri Hati, Karena?

    Penyebabnya ada beberapa faktor. Di antaranya, suka berbohong, tidak jujur, cari untung sendiri, tak tahu berterima kasih, tak tahu membalas budi, kacang lupa sama kulitnya, berbuat lancang, tidak sopan, tidak berterus terang, bicara tak sesuai fakta, meninggikan diri sendiri, sombong, ingkar janji, dan lainnya.

    Dibaca : 1.461 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perbuatan benar dan baik, selalu datang dari hati yang bersih dan otak yang cerdas. (Supartono JW, ditulis ulang 06082021)

    Mengapa ada orang yang sampai enek, muak pada orang lain? Apa salah orang itu, sampai orang lain enek? Sementara, banyak juga orang yang respek, hormat kepada orang lain. Mengapa ada orang yang sampai dihormati oleh orang lain?

    Untuk mendapatkan respek atau rasa hormat dari orang lain, bagaimana sih?Apa harus kaya harta? Punya kedudukan, pangkat, atau sejenisnya? Apa harus ganteng, cantik, jadi orang terpandang dan lain sebagainya?

    Sekarang di televisi nasional malah sedang trend, menayangkan tokoh-tokoh muda kaya harta di Indonesia. Sebutannya crazy rich, super kaya. Dijadikan tayangan komersil yang tujuannya untuk pamer atau menginspirasi?

    Apakah acara crazy rich itu akan membikin masyarakat respek, menaruh rasa hormat? Atau sebaliknya malah enek, muak? Harapannya menginspirasi.

    Dalam perkembangan global sekarang, saat media sosial menjadi dewa bagi umat manusia, sebab bukan hanya untuk berbagai kegiatan di dunia maya, media sosial juga sudah menjadi kendaraan untuk mengeruk dan menghasilkan uang dengan berbagai ragam.

    Tak terkecuali, media sosial juga menjadi sarana setiap orang, dari mulai rakyat jelata hingga kaum elite di negeri ini, sampai lahir istilah artis selebgram, untuk mengaktualisasi diri, hingga aktivitasnya yang tak henti, menjadikan seseorang ada yang diganjar respek, rasa hormat atau enek, muak oleh orang lain.

    Rasa respek, rasa hormat atau rasa enek, muak seseorang kepada orang lain, kini terjadi akibat perilaku dan sikap seseorang baik dalam dunia nyata maupun dunia maya.

    Kira-kira, di dunia nyata, apakah banyak orang yang enek, muak kepada saya, karena sikap, perilaku, dan perbuatan saya di hadapan dan di belakang mereka? Kira-kira, di dunia maya, apakah banyak orang yang enek, muak kepada saya, karena sikap, perilaku, dan perbuatan saya di media sosial?

    Budaya lazim

    Selama ini, dalam kehidupan nyata dan dunia maya, sudah lazim, orang tidak menaruh respek atau enek kepada orang lain. Apalagi kepada para orang-orang yang duduk di parlemen dan pemerintahan yang tak laik dijadikan panutan dan teladan. Para pengikut dan kroninya yang terus menciptakan permusuhan dan perseteruan. Terus bercuit di media sosial dan media massa menjual kebohongan demi keuntungan junjungannya.

    Penyebabnya ada beberapa faktor. Di antaranya, suka berbohong, tidak jujur, cari untung sendiri, tak tahu berterima kasih, tak tahu membalas budi, kacang lupa sama kulitnya, berbuat lancang, tidak sopan, tidak berterus terang, bicara tak sesuai fakta, meninggikan diri sendiri, sombong, ingkar janji, dan lainnya.

    Ada suka, orang yang tak amanah, suka membuka aib orang lain, membocorkan rahasia orang lain, suka mencampuri urusan pribadi, suka menggunjing, suka memfitnah, suka menggadu domba, suka memperkeruh suasana, suka menjadi biang rusuh, suka mencari dan membesarkan masalah (Trouble Maker), ucapannya kasar, suka meninggikan diri sendiri, sering merepotkan atau meminta atau meminjam dan lainnya.

    Bila itu semua ada pada diri saya, maka dapat dipastikan, orang lain akan tak respek dan enek kepada saya.

    Karenanya, agar orang lain respek dan tidak muak kepada saya, saya tak boleh memiliki sifat, sikap, dan perbuatan tersebut.

    Banyak orang dalam kehidupan nyata, ternyata tetap mendapatkan respek dari orang lain, karena memiliki sifat, sikap, dan perbuatan kebalikan dari yang saya sebutkan itu.

    Tetapi, faktanya, tetap saja, orang yang memiliki sifat, sikap, dan perbuatan benar dan baik dan patut diteladani, sebab orang lain menaruh respek kepadanya, ternyata, tetap saja tak luput dari tindakan iri hati dari orang lain.

    Orang yang iri hati ini, sudah pasti tak akan menaruh respek kepada orang yang memiliki sifat, sikap, dan perbuatan benar dan baik, karena hatinya telah tertutup.

    Hatinya dipenuhi oleh perasaan dengki hasad, yaitu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan, baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya, tetapi menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya.

    Jadi, mengapa ada orang yang tak respek , tak hormat dan enek, muak kepada orang lain, selain disebabkan oleh faktor ekternal dari atau orang lain itu yang tak direspeki, ada juga faktor internal, yaitu sifat dan sikap iri hati si pelaku tak respek dan enek.

    Baik faktor eksternal mau pun internal, juga sangat ditentukan oleh tingkat kecerdasan intelegensi dan personaliti seseorang. Meski cerdas intelegensi, tetap saja orang akan tak respek, tak hormat, enek, muak, dan iri hati kepada orang lain, karena tak cerdas personaliti atau emosi.

    Semoga, saya akan selalu menjadi orang yang respek dan tak enek terhadap orang lain. Pun tak iri hati kepada orang lain. Bila ada orang yang tak respek, enek, muak, dan iri kepada saya, mohon maaf atas sifat, sikap, dan perbuatan saya yang demikian. Saya akan berupaya berubah.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali