Sesuatu di Masa Kelam - Analisis - www.indonesiana.id
x

Foto oleh Eu_eugen dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 15 Februari 2022 17:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sesuatu di Masa Kelam

    Pandemi sudah pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, seperti wabah Black Death. Sesuatu dari peristiwa wabah Black Death yang mirip muncul di keresahan masyarakat terkait pandemi yang kita hadapi saat ini. Sesuatu yang kelam.

    Dibaca : 1.070 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Mengapa saya menyebutnya masa kelam? Masa pandemi ini merebut banyak hal dari kehidupan kita. Hubungan, aktivitas, dan kebiasaan, semua ini harus menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Satu hari yang paling ditunggu dan paling bermakna bagi kaum perantau, yaitu hari raya dapat menjadi hari yang sepi dan kurang bermakna. Olahraga di luar bersama teman-teman menjadi larangan baru di masa normal yang baru ini. Kunjungan dan silaturahmi juga harus dibatasi bahkan disarankan untuk tidak melakukannya sama sekali di masa pandemi ini. Kita sebagai manusia, yang telah banyak melalui masa kelam harus bisa beradaptasi untuk menghadapi masa kelam yang baru ini. Kita yang telah menganggap diri kita maju dan meningkat dari zaman-zaman terdahulu seharusnya dapat melalui masa kelam ini dengan lebih baik. Apakah pernyataan ini benar? Saya belum bisa membenarkan pernyataan ini. 

              Salah satu masa kelam yang paling berbekas yang dihadapi oleh umat manusia adalah wabah hitam atau Black Death. Mereka yang melalui wabah tersebut banyak yang gugur sampai hanya menyisakan sepertiga penduduk di Eropa. Mereka yang selamat harus melakukan sesuatu untuk dapat melihat kembali matahari di pagi hari. Apakah sesuatu tersebut? Penulis dari Italia, Giovanni Boccaccio, yang melihat langsung peristiwa wabah hitam ini menyadari sesuatu dari perilaku masyarakat Italia dalam menghadapi wabah tersebut. Dia menyebutnya sebagai “Kehilangan Norma dan Sosialisasi Warga”. Dia melihat warga yang menghindari warga lain, tidak ada komunikasi, dan yang paling parah adalah orang tua yang tidak ingin melihat anak mereka yang sudah terinfeksi. Hal ini menyebabkan setiap orang mengurus diri mereka masing-masing. Wabah ini banyak memakan rakyat kalangan bawah. Mereka sangat mengharapkan bantuan kesehatan namun tidak memiliki uang, bahkan petugas kesehatan pada masa itu sama sekali tidak ingin melakukan tugas mereka walaupun diberi upah yang lebih tinggi. Semua ingin menyelamatkan diri mereka masing-masing. Itu adalah wabah yang terjadi di masa peralihan dari zaman kuno ke zaman modern. 

             Bagaimana dengan zaman modern ini? Apakah kita mengalami kemajuan dalam menghadapi satu musuh yang sama? Tentu saja ada kemajuan terutama di bidang teknologi. Kita dapat melihat di masa pandemi ini seberapa cepat kita membuat vaksin untuk virus COVID-19. Bagaimana dengan pola pikir kita? Bagaimana dengan sesuatu tersebut? Apakah kita mengalami perubahan? Saya tidak mengatakan bahwa kita sama sekali tidak mengalami perubahan, namun saya juga tidak bisa mengatakan bahwa kita sudah mengalami kemajuan pola pikir dalam hal menghadapi suatu krisis yang melibatkan semua orang.

    Perilaku masyarakat Italia di masa wabah hitam mirip dengan perilaku kita di masa pandemi ini. Tentu saja kita harus menjaga jarak atau fisik kita dengan sesama manusia agar tidak mengakibatkan penularan, namun apakah kita juga perlu menjaga jarak hati nurani kita? Jika pada masa wabah hitam mereka menjaga jarak baik fisik maupun hati nurani, hal ini diakibatkan karena mereka di zaman tersebut belum memiliki penanggulangan atau countermeasure dalam menghadapi wabah tersebut. Bagaimana dengan zaman modern sekarang? Kita sudah memiliki masker, hand sanitizer, dan masih banyak countermeasure lainnya. Hal ini tentu saja harus membuat kita dapat berbeda daripada masyarakat wabah hitam dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini. 

             Kita tentu saja tidak ingin mengulangi kejadian hilangnya norma dan sosialisasi warga lagi terutama masa di mana anak SD sudah diajarkan pendidikan norma dan kewarganegaraan. Janganlah biarkan sesuatu ini menghalangi kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia baik di new normal maupun normal. Apakah kita sudah pernah melihat tetangga kita baik yang berpendapatan rendah maupun tinggi? Apakah kita pernah menanyakan kondisi mereka? Bagi mereka yang berpendapatan tinggi akan merasa diperhatikan atau akan sadar bahwa kepada sesama manusia harus saling membantu walaupun dengan hal sekecil seperti pertanyaan singkat tentang kondisi dan kabar. Bagi mereka yang berpendapatan rendah akan merasa diperhatikan dan setelah itu kita bisa bertanya apakah mereka masih bisa makan untuk esok hari atau tidak. Bantuan sosial memang diadakan oleh pemerintah, namun kendala di lapangan tentu saja dihadapi oleh mereka terutama di negara kepulauan Indonesia di mana masalah transportasi adalah masalah utama.

    Kita bisa meringankan beban di pundak mereka dengan persediaan makanan dan minuman. Saya menyarankan untuk tidak memberikan dalam bentuk uang. Manusia penuh dengan kesalahan, mereka bisa saja menyimpan uang tersebut atau membelanjakannya untuk hal yang kurang penting di masa pandemi ini. Kita yang memberikan makanan kita untuk membantu mereka lebih terkesan membantu dalam hal kelangsungan hidup daripada bantuan dalam bentuk kertas. 

             “Bagaimana dengan keluarga kami untuk dua bulan ke depannya?” Jika anda masih bisa mengatakan hal tersebut, berarti rasa empati anda harus ditingkatkan ke level selanjutnya. Anda yang mengkhawatirkan jatah makanan di dua bulan yang akan datang dan mereka yang mengkhawatirkan jatah makanan untuk esok hari. Jika anda menanyakan ini ke saya, tentu saja keduanya sangat berbeda jauh. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus memotong jatah makanan kita untuk mereka, namun saya hanya meminta kita semua untuk lebih peka, lebih peduli terhadap sekitar kita. Kita yang sudah percaya diri mengatakan diri kita telah maju dan bermoral harus memegang teguh pengakuan ini. Jika kita bisa membeli makanan empat sehat lima sempurna ditambah dengan rokok dan hp model baru, marilah kita korbankan dulu hp model baru tersebut atau pun mengurangi konsumsi rokok untuk membantu mereka yang lebih membutuhkan.

    Apakah anda pernah merasa tidak nyaman atau sesuatu menjadi salah ketika kita senang namun di sekitar kita mengalami kesusahan? Jika tidak pernah, anda masih menerapkan hukum rimba di kehidupan anda. Apakah anda pernah memberikan mainan kepada anak jalanan dan melihat senyum tulus mereka berterima kasih kepada anda? Apakah hati anda tersentuh? Semua pertanyaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah anda menerapkan sesuatu tersebut di masa norma dan kewarganegaraan sekarang ini. Tentu saja, sesuatu yang saya maksud adalah antipati. Mereka yang menghadapi wabah hitam tersebut harus menerapkan antipati tersebut untuk dapat selamat. Hal ini karena mereka belum memiliki countermeasure atau penanggulangan untuk menghadapi wabah tersebut yang jauh berbeda dengan kita yang sudah bisa memakai masker dan memiliki hand sanitizer untuk mencegah penularan.

    Apakah kita sudah maju jika dibandingkan dengan peristiwa wabah hitam dalam hal antipati? Tentu saja kita mengalami perubahan. Kita telah bisa berempati dengan lebih aman jika dibandingkan dengan mereka di wabah hitam. Kita dapat menolong sesama tanpa harus khawatir untuk menularkan dengan syarat absolut yaitu mematuhi protokol kesehatan. 

             Bantulah mereka yang menjulurkan tangan kepada anda. Anda tidak akan tahu apakah anda suatu saat nanti berperan menjadi pihak yang mengulurkan tangan atau tidak. Jadi, selalu bersiap menerima tangan mereka agar suatu saat tangan kita juga akan diterima oleh orang lain. Mungkin tidak akan langsung terjadi, mungkin masih lama, oleh karena itu terapkanlah pola pikir jangka panjang yang beranggapan bahwa perbuatan kita suatu saat nanti akan dibalas setimpal tanpa kurang sedikit pun namun bisa lebih oleh Yang Maha Kuasa. Kita sering mendengar kalimat ini, manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. “Berlarilah menggapai mimpimu, Teruslah bergerak, Jangan pernah menyerah”, sebelum kita menerapkan motto atau slogan tersebut terhadap diri kita, terapkanlah terlebih dahulu kalimat tersebut. 

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi