Kisah Mistis dari Dunia Wayang

Sabtu, 28 Mei 2022 17:31 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Beberapa waktu lalu netizen Indonesia sempat heboh tentang wayang. Dunia wayang ini tidka lepas dari kisah mistis. Bagaimana kisah mistis tersebut? Ikuti terus sampai selesai artikel ini.

Oleh Bambang Udoyono, penulis buku

Sebagai orang Jawa saya sudah mengenal wayang sejak kecil. Di kampung saya di Magelang setiap bulan Sapar selalu diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Saya dan teman teman tidak pernah melewatkannya meskipun saat itu kami belum kuat menonton sampai pagi.  Biasanya saya pulang sebelum tengah malam lalu menjelang subuh datang lagi.

 

Dulu ketika saya SD di alun alun Magelang setiap tahun ada Pasar Malem.  Kedua orang tua saya tidak pernah melewatkan pertunjukan wayang wong bersama saya dan kakak saya. Nama groupnya adalah Cipto Kawedar. Berbeda dengan wayang kulit, wayang wong hanya dimainkan sampai tengah malam.  Itupun biasanya saya sudah ketiduran sebelum pertunjukan selesai. Sayang sekali pasar malem itu sudah lama tamat.

 

Ketika kuliah di Yogyakarta ketertarikan saya kepada wayang menjadi semangkin kuat karena sering ada pertunjukan di sana.  Saya sering menonton di Sasono Hinggil. Di kampus juga setiap ada acara Dies Natalis pertunjukan wayang kulit semalaman tidak pernah absen.

 

Saya berasal dari keluarga besar penggemar budaya Jawa.  Bahkan seorang kakak sepupu saya adalah dalang alumni Habiranda (sekolah dalang di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat).  Dulu saya sering mampir di rumahnya di Muntilan untuk ngobrol seputar budaya Jawa.  Dia adalah ketua organisasi seniman wayang Magelang yang menyelenggarakan siaran wayang kulit di RSPD Magelang.  Beberapa kali saya ikut menonton dia tampil mendalang. Salah satu lakon yang saya ingat adalah Alap alapan Sukèsi yang dimainkan di RSPD Magelang. Dari dialah saya sering mendengar kisah mistis dari dunia pewayangan.

 

Ada banyak kisah mistis seputar wayang.  Salah satunya adalah lakon wingit (cerita yang angker).  Konon ada beberapa lakon yang bisa mendatangkan bahaya sehingga tidak sembarang dalang berani memainkan. Salah satunya adalah lakon (cerita) berjudul Sombo Sebit.  Kemudian lakon Baroto Yudo terutama Duryudono Gugur.  Seorang teman bercerita dia pernah nonton lakon ini. Katanya sebelum pertunjukan dimulai sang dalang berpesan agar para penonton tidak meninggalkan tempat sebelum pertunjukan selesai karena kalau ada apa apa di luar dalang tidak bisa menolong.  Kalau masih di tempat tersebut maka dalang dan timnya siap membantu.  Tentu saja kalimat itu menimbulkan suasana tintrim (mencekam).

 

Saya juga sering mendengar cerita lisan bahwa ada dalang yang mendapat order bermain dari dunia lain.  Konon suatu hari seorang dalang memberitahu timnya untuk siap bermain di suatu tanggal tertentu. Ketika mereka siap berangkat sang dalang berpesan agar jangan memakan dan meminum hidangan apapun yang disuguhkan tuan rumah dan agar memakan bekal mereka sendiri.   Paginya dalam perjalanan pulang barulah sang dalang memberitahu bahwa hidangan mereka tidak layak dimakan.  Beberapa niyogo (penabuh gamelan), lantas sakit perut lantaran memakan hidangan tak layak tersebut.

 

Konon ada lagi seorang dalang yang mendapat order bermain seperti itu. Pertunjukan berjalan lancar.  Lalu paginya selesai bermain pihak tuan rumah hanya memberi sebutir kunyit untuk setiap orang.  Beberapa niyogo lantas kecewa, tapi setelah mereka sampai di rumah kunyit itu berubah menjadi emas.

 

Ada lagi kisah aneh yang pernah saya dengar. Konon sang dalang dan timnya suatu sore dijemput wakil tuan rumah, tapi hanya berjalan kaki. Beberapa niyogo sudah ngedumel tapi sang dalang mengatakan jangan kuatir.  Mereka hanya berjalan beberapa menit mendadak tiba di sebuah rumah mewah. Pertunjukan berlangsung lancar jaya. Paginya ketika pulang orang misterius yang kemarin menjemput datang lagi untuk mengantar pulang.   Dia berpesan agar jangan ada yang menengok ke belakang dan kanan kiri. Dia melarang seluruh anggota tim melihat keadaan rumah mewah tersebut.  Seorang niyogo yang penasaran sengaja menengok dan mendadak mereka sudah tercebur ke sebuah sungai tidak jauh dari kediaman sang dalang.

 

Seorang dalang pernah cerita ke saya bahwa di punya sebuah boneka wayang yang dianggapnya pusaka.  Wayang itu adalah Sang Hyang Wenang, tokoh dewa yang tidak ada di cerita India.  Wayang itu dibungkus kain putih dan diberi sesajen dan tidak pernah dimainkan.  Setiap kali dia main wayang tersebut selalu dia bawa dan ditaruh di sebelahnya.  Dia percaya wayang itulah yang melindunginya dari gangguan gaib.

 

Orang Jawa klasik sejatinya memandang pertunjukan wayang kulit bukan sebagai hiburan saja tapi sebagai salah satu cara nglakoni tirakat. Memang sekarang banyak dalang yang pintar melucu tidak hanya dalam adegan goro goro (adegan lawakan) tapi bahkan sepanjang pertunjukan.  Tapi aslinya niat mereka menonton adalah sebagai langkah tirakat.  Orang Jawa percaya bahwa mereka utamanya harus cegah dahar lawan nendro alias mengurangi tidur dan makan. Selain sebagai tontonan mereka percaya bahwa wayang adalah juga tuntunan.

 

Masih banyak lagi catatan saya tentang wayang.  Semoga lain kali saya sampaikan lagi.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler