x

ilustr: clipart.email

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 19 Juli 2022 09:17 WIB

Keledai Tidak Tersandung Dua Kali

Kita punya warisan tak benda dari nenek moyang. Itu bisa kita pakai dalam parenting. Apakah warisan itu? Sila baca terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

Obat tidur

 

Saya masih ingat ketika  di SMA mendapat pelajaran sejarah.  Itu tidak ada bedanya dengan obat tidur.  Memang tidak sampai tidur beneran sih tapi empat puluh menit terasa lama sekali.  Belakangan ketika kuliah saya menemukan buku buku sejarah yang menarik. Mungkin metoda mengajar dulu itu yang membuat kami mengantuk. Perintah menyimak paparan guru lalu menghafal angka tahun dan peristiwa itu sungguh sebuah beban.

Menemukan pola

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Pada hakekatnya belajar sejarah itu bukanlah menghafalkan kejadian dan angka tahunnya.  Hakekatnya belajar sejarah adalah menemukan pola kejadian, menemukan keajegan tingkah laku manusia pada situasi tertentu.  Lalu idealnya merumuskan kode tingkah laku (code of conduct) untuk menyiasati jebakan sejarah.   Kode tingkah laku ini adalah semacam ‘rambu navigasi’ dalam perjalanan kehidupan manusia.

Warisan budaya yang berharga

 

Itulah yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita.  Buktinya mereka sudah mampu menuliskan banyak peribahasa, pepatah, kata mutiara atau apapun namanya.    Kata bijak itu berisi saran untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar perjalanan hidup kita selamat tidak hanya di dunia tapi sampai ke tujuan akhir di akherat. Salah satu contohnya  yaitu “Mélik nggéndong lali”, ”Sabdo Pandito Ratu”  dll.    Selain itu masih banyak lagi kata mutiara pusaka nenek moyang kita.  Mungkin lain kali saya akan membahasnya.

 

Kalimat mutiara itu ditulis dengan singkat tapi jelas.  Namun karena latar belakang orang beragam, kadang ada orang yang tidak menyadari keunggulan, keutamaan dan manfaatnya.  Oleh karena itu dibutuhkan pembahasan dalam sebuah artikel pendek atau bahkan mungkin sebuah buku.  Keduanya memiliki plus minusnya.  Bahasan dalam buku lebih mendalam dan tuntas.  Namun artikel pendek seperti ini juga memiliki keunggulannya sendiri berupa kecepatannya mencapai pembaca ketika dipromosikan  melalui medsos.

 

Pelajaran kehidupan yang dirumuskan dalam peribahasa itu adalah warisan budaya non benda dari nenek moyang kita yang sangat berharga. Warisan budaya itu seharusnya kita lestarikan.

 

Disadari atau tidak manusia dipengaruhi oleh budaya tempatnya tumbuh.  Perilaku manusia dengan latar budaya Eropa berbeda jauh dengan manusia yang tumbuh dalam budaya Jawa.  Value system yang terkandung dalam budaya membentuk perilaku dan pola pikir manusia penganutnya.  Itulah sebabnya ada sekelompok orang yang bercita cita menjadi penguasa, ada yang memandang tinggi kekayaan dari perdagangan, ada yang bercita cita menjadi ilmuwan, penemu, industrialis dsb.  

Hubungan dengan parenting

 

Apa relevansinya dengan parenting?  Demikian mungkin pertanyaan Anda.  Pasti adalah.  Karena manusia dipengaruhi oleh budaya maka ketika mulai membangun keluarga mestinya (calon) pasutri membahas dengan mendalam untuk menentukan budaya apa yang akan dianut keluarganya. Value system (nilai nilai) seperti apa yang akan ditanamkan kepada anak anaknya mesti dibahas dan diputuskan sebelum menikah dan diterapkan setelah menikah.

Tidak mudah memang memilih dan memilah warisan budaya yang mana yang akan kita pakai.  Paling tidak peribahasa seperti di atas masih kita pakai dan ajarkan kepada anak cucu. Lain kali kita bahas lagi peri bahasa yang berharga.

 

Tujuannya tentu agar perjalanan hidup kita sukses di dunia dan akherat. Konon keledai saja tidak tersandung dua kali pada batu yang sama. Apalagi kita manusia seharusnya lebih cerdas lagi.

Ringkasan

 

Belajar sejarah adalah menemukan pola dalam kehidupan, bukan menghafal peristiwa dan angka tahun.  Nenek moyang kta sudah mampu melakukan itu. Mereka lalu merumuskan dalam peri bahasa yang merupakan rambu kehidupan.  Warisan budaya tak benda itulah yang masih patut kita lestarikan.

 

 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler