Mengapa Pak Jokowi Sendiri yang Harus Menangani Aspal Buton? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo mengikuti upacara bendera 17 Agustus di Istana Merdeka, Jakarta Pusat dengan mengenakan busana adat dari Buton. TEMPO/M Julnis Firmansyah

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Kamis, 25 Agustus 2022 11:12 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mengapa Pak Jokowi Sendiri yang Harus Menangani Aspal Buton?

    Masa pemerintahan Pak Jokowi tinggal tersisa 2 tahun lagi, atau sampai tahun 2024. Pada tahun 2015, Pak Jokowi sudah pernah menginstruksikan kepada semua jajaran Kementerian-kementerian terkait untuk menggantikan aspal impor dengan aspal Buton. Tetapi mirisnya, instruksi tersebut sampai sekarang ini masih belum juga dapat diwujudkan. Oleh karena itu, sudah tiba saatnya bagi Pak Jokowi sebagai pemimpin sejati harus memiliki jiwa satria dengan mengambil alih tanggung jawab dari para Menterinya. Hal ini wajib dilakukan, mengingat masa pemerintahan Pak Jokowi tidak akan berlangsung lama lagi.

    Dibaca : 1.143 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Baru-baru ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah tampil memukau dengan mengenakan pakaian adat Dolomani dari Buton, Sulawesi Tenggara. Hal ini telah menyita banyak perhatian publik. Rakyat bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa Pak Jokowi lebih memilih untuk mengenakan pakaian adat dari Buton? Apakah ini merupakan tanda-tanda alam bahwa sejatinya dalam waktu yang tidak akan terlalu lama lagi Pak Jokowi sendiri yang akan menangani masalah aspal Buton untuk mengsubstitusi aspal impor ?

    Makna pakaian adat “Dolomani” yang dipakai oleh Pak Jokowi merupakan pakaian kesultanan. Sehingga pakaian tersebut menunjukkan status kepemimpinan dari sang pemakai. Dengan demikian Pak Jokowi ingin menunjukkan bahwa Pak Jokowi tidak hanya sebagai seorang pemimpin Bangsa dan Negara Republik Indonesia, namun juga sebagai seorang pemimpin sejati yang akan membawa segenap rakyatnya untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

    Masa pemerintahan Pak Jokowi tinggal tersisa dua tahun lagi, atau sampai tahun 2024. Pada tahun 2015, Pak Jokowi sudah pernah menginstruksikan kepada semua jajaran Kementerian-kementerian terkait untuk menggantikan aspal impor dengan aspal Buton. Tetapi mirisnya, instruksi tersebut sampai sekarang ini masih belum juga dapat terwujudkan . Oleh karena itu, sudah tiba saatnya bagi Pak Jokowi sebagai pemimpin sejati harus memiliki jiwa satria dengan segera mengambil alih tanggung jawab dari para Menterinya. Hal ini wajib dilakukan, mengingat masa pemerintahan Pak Jokowi tidak akan lama lagi.

    Langkah-langkah strategis dan prioritas apa yang akan dapat Pak Jokowi upayakan agar dalam kurun waktu 2 tahun, di akhir masa pemerintahan Pak Jokowi ini, aspal impor akan sudah dapat digantikan dengan aspal Buton ? Berikut ini adalah masukan-masukan untuk Pak Jokowi:

    Alternatif pertama, Pak Jokowi dapat menunjuk dan menugaskan kepada kedua Perusahaan BUMN, PT Pertamina dan PT Wijaya Karya untuk mewujudkan misi dan visi Pak Jokowi untuk menggantikan aspal impor dengan aspal Buton. Sejatinya atas dasar instruksi Pak Jokowi pada tahun 2015 tersebut, PT Pertamina dan PT Wijaya Karya telah menandatangani sebuah MoU untuk memproduksi Aspal Hibrida. Aspal Hibrida adalah campuran antara aspal Buton ekstraksi dengan Decant Oil dari Pertamina.

    Sangat disesali sekali bahwa Proyek Aspal Hibrida ini telah terhenti di tengah jalan. Sekarang ini adalah momentum yang paling tepat untuk Pak Jokowi dapat menginstruksikan kembali kepada PT Pertamina dan PT Wijaya Karya untuk segera melanjutkan Proyek Aspal Hibrida yang sudah sempat tertunda sejak lama itu. Meskipun dalam kurun waktu 2 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk dapat membangun sebuah Pabrik Ekstraksi Aspal Buton, tetapi setidak-tidaknya Pak Jokowi sudah berupaya keras menanamkan pondasi yang kokoh untuk mulai membangun dan mengembangkan industri hilirisasi aspal Buton.

    Alternatif kedua, Pak Jokowi melalui Inpres atau Keppres, menginstruksikan kepada Menteri BUMN, Bapak Erick Thohir, untuk segera membentuk sebuah Perusahaan BUMN baru yang tujuannya khusus untuk mewujudkan visi dan misi Pak Jokowi menggantikan aspal impor dengan aspal Buton. Sekarang Pak Jokowi tinggal mempertimbangkan dan memutuskan alternatif mana yang paling baik rakyat Indonesia, dan ;aling cepat implementasinya. Dengan demikian Pak Jokowi akan masih sempat melihat hasil dari upaya-upaya yang sudah Pak Jokowi laksanakan untuk aspal Buton.

    Apabila visi dan misi Pak Jokowi sudah cukup jelas; yaitu dalam kurun waktu 2 tahun aspal impor sudah harus dapat digantikan dengan aspal Buton, maka semua jajaran Kementerian-kementerian terkait akan jauh lebih mudah dan dapat lebih cepat memahami dan melaksanakan instruksi Pak Jokowi tersebut. Tehnologi ekstraksi aspal Buton sudah tersedia, deposit batuan aspal alam sudah melimpah, permintaan pasar untuk aspal Buton sudah sangat besar sekali, serta dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah sangat kuat. Jadi sebenarnya sekarang ini sudah tidak ada satu alasan apapun mengapa aspal impor tidak dapat segera digantikan dengan aspal Buton.

    Mungkin masalah yang masih perlu menjadi pemikiran Pak Jokowi adalah masalah dana investasi untuk mengembangkan Proyek Hilirisasi Aspal Buton ini. Tetapi dengan pengalaman Pak Jokowi selama 8 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia, rasanya masalah ini bukanlah suatu isu yang besar. Banyak negara-negara sahabat dan pengusaha-pengusaha besar dalam negeri yang akan dengan senang hati dan suka rela dapat membantu. Asalkan visi dan misi Pak Jokowi sudah benar-benar cukup jelas; yaitu membangun dan mengembangkan Industri Hilirisasi Aspal Buton untuk mengsubstitusi aspal impor.

    Dan mungkin juga ada masalah lain yang perlu mendapat perhatian pak Jokowi secara seksama adalah bagaimana masa depan Perusahaan-perusahaan Importir aspal yang selama ini telah banyak berjasa menopang pembangunan infrastruktur jalan-jalan di seluruh Indonesia ? Tentunya hal ini juga bukan merupakan suatu isu besar. Karena kebutuhan aspal nasional tiap tahunnya akan terus tumbuh dan meningkat. Dengan demikian atas instruksi Pak Jokowi, pemerintah dapat mengatur strategi pembagian quota yang adil antara jumlah produksi aspal Buton dengan jumlah aspal impor. Sehingga di antara pemerintah, rakyat, dan pengusaha semuanya akan bisa sama-sama bersinergi dan diuntungkan.

    Memang banyak sekali “Pekerjaan Rumah” yang harus Pak Jokowi tuntaskan sebelum masa jabatan Pak Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia akan segera berakhir. Sekarang peranan semua jajaran Kementerian-kementerian terkait sudah sangat jelas. Mereka dapat memahami, mencerna, dan menterjemah visi dan misi Pak Jokowi dengan lebih akurat dan terukur ke dalam bentuk tindakan dan perbuatan nyata. Hal ini disebabkan karena sekarang visi dan misi Pak Jokowi sejatinya sudah sangat-sangat jelas dan trasparan.

    Mungkin Tugas Pak Jokowi selanjutnya adalah mengawasi pelaksanaan Proyek Aspal Hibrida ini agar dapat berjalan sesuai dengan jadwal dan target yang sudah ditentukan. Diharapkan produksi Aspal Hibrida ini selain menjadi prioritas pertama dan utama untuk pembangunan semua jalan-jalan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemudian juga untuk pembangunan semua jalan-jalan di Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Dengan demikian semua pihak akan merasa senang dan bahagia. Karena apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia dan Pak Jokowi sendiri selama 77 tahun Indonesia merdeka, akhirnya sudah akan dapat Pak Jokowi wujudkan.

    Bisa dibayangkan alangkah betapa bangga dan bersyukurnya rakyat di Pulau Buton melihat kenyataan indah bahwa pada akhirnya aspal Buton mampu juga mensubstitusi aspal impor. Perjuangan menuju cita-cita ini adalah sangat berat dan memerlukan waktu yang sangat lama. Jumlah produksi aspal Buton sementara memang masih terbatas. Tetapi sedikit demi sedikit kapasitas produksinya akan terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional yang terus meningkat tiap tahunnya.

    Kelihatannya memang Pak Jokowi sendiri yang harus menangani masalah aspal Buton untuk mengsubstitusi aspal impor. Semoga Pak Jokowi dapat mengenakan pakaian adat “Dolomani” lagi pada saat peresmian Pabrik Ekstraksi Aspal Buton di Pulau Buton pada tahun 2024 nanti, sebelum masa pemerintahan Pak Jokowi berakhir. Dan peristiwa ini sekaligus untuk memperingati usia 1 abad aspal Buton yang jatuh pada tahun yang sama. Ini adalah sebuah “Maha Karya” dari Pak Jokowi untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Pak Jokowi telah mampu membangun dan mengembangkan Proyek Hilirisasi Aspal Buton untuk mengsubstitusi aspal impor. Dan pencapaian ini akan selalu dikenang sepanjang masa dan dicatat dengan tinta emas pada prasasti sejarah pembangunan Indonesia.

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.