Pementasan Drama “Kapai-Kapai” PBSI UIN Jakarta Sarat Nilai Religiusitas

Rabu, 7 Juni 2023 08:31 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FITK UIN Jakarta gelar pementasan drama selama tiga hari berturut-turut, yakni pada tanggal 5—7 Juni 2023 di Aula Student Center UIN Jakarta.

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FITK UIN Jakarta menggelar pementasan drama selama tiga hari berturut-turut, 5—7 Juni 2023, di Aula Student Center UIN Jakarta.Pada pementasan hari pertama, naskah yang dipertontonkan ialah Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer yang dipentaskan oleh mahasiswa PBSI semester enam kelas C.

Pementasan drama ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Pestarama (Pekan Apresiasi Sastra dan Drama) yang telah mencapai jilid ke-8 yang bertajuk Gelora Cipta Arifin C. Noer. Selain pementasan drama, rangkaian acara dalam perhelatan ini juga terbilang cukup meriah, yakni Lokakarya hingga jilid ke-4, seminar nasional, pameran, bazar, panggung ekspresi, hingga lantunan doa dan persembahan untuk Arifin C Noer.

Naskah drama Kapai-Kapai yang disutradarai oleh Azizah Suryani, Alfiarum Cahyani, dan Maulia Assilmy ini mempunyai daya tarik tersendiri. Hal itu terlihat pada dialog-dialog yang mempunyai makna tersembunyi karena menggunakan bahasa yang puitis.

Kapai-Kapai berkisah tentang pemuda bernama Abu yang selalu berangan-angan atau bermimpi di dunia khayalan, tanpa memikirkan dunia realitasnya. "Jadi, dia terbuai oleh waktu dan sampai akhir jadi gembel tidak punya pekerjaan,” kata Ngaestyono Prayoga, mahasiswa PBSI yang memerankan tokoh Abu.

Abu memiliki istri bernama Iyem dan banyak majikan yang selalu menindas. Abu pada dasarnya merupakan seseorang yang memiliki sifat malas dan suka bermimpi. Dalam setiap khayalannya, Abu selalu dibuai oleh tokoh Emak yang mengiming-imingj bahwa bila mempunyai Cermin Tipu Daya, maka akan bisa membuat hidup seseorang bahagia, sedangkan sosok Yang Kelam selalu penanda kehidupan Abu hingga bertemu pada kematiannya. Abu terus berusaha mendapatkan Cermin Tipu Daya tersebut. Setelah mendapatkannya, pada saat yang sama, justru ia juga menghadapi kematiannya sendiri.

Kapai-Kapai juga sarat akan nilai-nilai religius di dalamnya. Nilai yang berhubungan dengan nilai keagamaan, ini dipertegas oleh pernyataan dari Selvia Parwati Putri, mahasiswa PBSI yang memerankan sebagai tokoh Bulan.

Kapai-Kapai itu ibaratnya meraih sesuatu yang didapatkannya itu fana, si Cermin Tipu Daya itu sebenarnya adalah akhirat itu. Akhirat yang harusnya untuk mendapatkan itu kita harus mati dulu. Makanya tadi ada dialog “Harus mati untuk sampai ke ujung sana?” ucap Selvia.

Cermin Tipu Daya seperti yang dikatakan oleh Selvia itu sama dengan akhirat, karena semuanya akan menemukan kebahagiaannya di sana. Kebahagiaan yang kita dapat di dunia ini sifatnya fana, yang kekal adalah di akhirat kelak.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Meilisna Maulina

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua