Partisan

Senin, 5 Februari 2024 12:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Strategi money politic, alias sesat langkah di ranah pikir politik modern dunia terkini-kalau masih ada loh-konsep pandir itu menunjukan kelemahan mendasar era dunia kemodernan. Pemilik semesta maha tahu, apapun tujuan dari konsep itu, tapi toh oknum makhluk kelas raksasa masih saja mau mengadopsi.

Kupu-kupu lebih paham mandiri, berani tampil dengan warna-warni berbeda, mengarungi udara tantangan, di antara burung elang penguasa angkasa. Kupu-kupu, tak selemah dugaan sains manusia-dia keluar dari kepompong terbang dengan bias warna memikat tak kenal takut bentuk ancaman apapun.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beterbangan bersukaria, bodok amat burung pemangsa pengejarnya. Terpenting bagi kupu-kupu berani tampil beda dengan warna-warni keren memikat. Realitas fantastis-fotografis sejauh mata memandang. Hal mengagumkan dari kupu-kupu kesadaran regenerasi cepat-sekilat bertelur di daun dimanapun dia hinggap.

Tak ada hambatan bagi makhluk indah nian kupu-kupu sekalipun paruh para burung pemangsa mengancam setiap saat, dia tak peduli, tetap terbang seindah warna aslinya. Kalau akhirnya dia mati dalam sekejap oleh paruh burung pemangsa-bagi kupu-kupu metamorfosis generasi telah berlangsung, tanpa diketahui musuhnya. 

"Kamu suka kupu-kupu?" 
"Warna-warninya aku kagum say."
"Melihat ulat daun. Kamu teriak dunia kaget."
"Cinta tak perlu alibi. Selamatkan aku dong."
"Hah! Aku fobia ulat my darling."
"Apaan sih darling-darlingan."
"Mesra kayak di pelem layar tancep gicu loh."
"Buktiin! Tangkap ulatnya taruh di telapak tanganku."
"Ogah!"
"Aku kasih semiliar."
"Boro-boro semiliar. Ini kiloan kardus masih numpuk tau!" Sejoli terpingkal-pingkal.

"Cinta oh cintrong." Sejoli berkejaran di antara gerbong kereta masa lalu. Bulan sepotong di langit cekikikan menyaksikan perpaduan kasih. Baja dingin rel kereta memantulkan sinar bulan alegoris lampu kilat memotret gemintang ke langit. Rumah kardus istana pujaan mahligai kebanggaan takhta peraduan, sejarah persinggahan sejak mereka bulan madu setelah menikah waktu lampau. 

Sang maha kasih mempertemukan sejoli itu. Perayaan tetabuhan rebana langit terang bumi. Penduduk sekitar mengenal keduanya si jujur penemu uang sejumlah miliar di dalam beberapa tas mewah tertutup nomor kode misterius-lantas menyerahkan barang bukan milik mereka kepada petugas berkompeten.

Kasih, di taman hati bunga-bunga nurani tak perlu pamrih tralala sekalipun tralili. Senantiasa badai alami menerpa-menguatkan cinta sejoli. Tak ada senyum kecut hari-hari kreditur, sejoli tak membutuhkan pangkat macam itu. Keduanya setia memelihara harapan sekalipun badai menerbangkan rumah kardus miliknya, selalu.

"Lebih indah dari rumah kardus kemarin ya my darling."
"Sayang aja. Enggak usah sok inggris deh say."
Mengecup kening isterinya "Kan keren my darling."
"Aku hamil say."
"I love you my darling."
"Hih! Sayang aja! Enggak usah darling! Sebel tau!"

Matahari terpingkal-pingkal. Bulan pun muncul barengan gemintang kebyar-kebyar siang bolong memberi ucapan selamat atas kelahiran buah hati sejoli. "Nama anak kita, Madusuci. Semoga menjadi pendidik ya sayang." Memeluk isterinya tengah menyusui bayi pertama penuh kasih.
   
***

Jakarta Indonesiana, Februari 05, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Antumbra

Selasa, 2 Juli 2024 19:30 WIB
img-content

Eskrim Pop Up (35)

Selasa, 25 Juni 2024 19:34 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua