x

Kolase Foto Tempo.com/untuk Cerpen Antumbra

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Selasa, 2 Juli 2024 19:30 WIB

Antumbra

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.

Apakah makhluk kata-kata ada bersama di antara kehidupan budi daya lampau hingga terkini. Seperti apa wujudnya. Ada atau tidak pun tak tahu. Lantas kalau memang benar ada. Biarkan saja. Dilarang saling menggugat sekalipun satu guru satu ilmu. Apakah termasuk jenis makhluk sel tunggal atau jamak pun terserah saja.

Bayangan maut gigantik melebihi dari objek aslinya. Wah, itu artinya ada horor siang malam. Mencoba memahami menyoal hal itu. Tak seharusnya diam saja. Ogah merespon pendapat. Tak apa-apa santai saja. Khawatir jadi tabu? Saling berteriak, menulis slogan di dalam kepala salah satu cara komunikasi kontemporer.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Mirip di bungkam cuy."
"Hiks! Baru tahu."

"Hahaha oleh satelit ya."
"Bukan. Penyihir nyinyir."

"Apa iya begitu."
"Katanya sih begitu."

"Baru katanya kan."
"Katanya sulit dibuktikan."

"Inklusi flu metal tak ada."
"Sekalipun merujuk sana-sini." 

"Melansir sana-sini sekalipun."
"Penyebab kantong bolong."

"Tak ubahnya cinta anonim."
"Mengintip dari kisi-kisi jendela."

"Prosa musikalisasi anti notasi."
"Apabila mungkin biarkan lewat."

Kurang lebih sembilan puluh persen hampir benar. Menjadi part behind the story. Cuss! Benar sekali. Ternyata lumayan cerdas piawai bernas. Jangan memandang dari pandangan filsafat ini itu loh ya. Ba! Be! Bo! Loh! Maaf. Tuduhan tidak mendasar sekalipun mengacu pada psysichoanalytic frame of reference. Oooh!

"Ora nyambung."
"Sing penting yakin."

"Hurufnya tebal tipis."
"Wooke! 

"Cuek bebek. Wek! Wek!"
"Ora ngepek cuy."

"Biarin." Serentak lantas menyanyi lagu rindu.

Memakai istilah meninggikan abstraksi trotoar kepribadian. Terlihat fales bunyinya meski nyaring sekali. Oh! Maafkanlah. Semoga arogan tak menjadi kepribadian di antara suara aum harimau. Wow! Santai. Tolong tak menduga seperti itu. Tawaduk lebih baik untuk kemaslahatan kesehatan dalam arti seluas langit.

"Kalau gagal paham baca lagi."
"Akibat abstraksi info simpang siur."

"Bola memantul di keranjang basket?"
"Tak seberapa kentara."

"Tapi terlihat kan?"
"Iya juga sih."

"Sekalipun tak terlalu jelas."
"Tetap terlihat. Oke..." Serentak manggut-manggut.

Begini ya kawan. Ada sumur di ladangmu bolelah menumpang mandi. Eit! Tidak boleh. Suryakanta kala membesarkan kata-kata dengan bayang-bayang gigantik dari struktur anatomi sebagai objek. Meski bukan pelengkap penderita. Hihihi! Akhirnya memandang materi sebagai subjek dialogis di antara naturalisme.

Hah! Aha. Hebatnya dramatisasi ke-isme-an prosa panggung sandiwara. Tanpa terasa mencabik secara impresionistik di luar tabulasi jurnal ekspresionistik, di antara term of reference dari realisme sekaligus menentang kubisme. Sehingga tak menemukan jawaban pada ranah realisme simbolis ataupun niskala ketentuan dadaisme.

"Apakah ada temuan keanehan?"
"Tidak. Kalau sekadar studi banding."

"Suspensi tak mengayun."
"Properti diganti ban sepeda."

"Beli dari loakan."
"Tak perlu heran."

"Realisme sablonan."
"Sarat gizi bumbu obralan."

"Hahaha. Pantun tak berirama."
"Sekalipun bernada fales merana."

"Tak ubahnya supremasi kata bocor."
"Hampir serupa talang bocor. Hiks!"

"Kocak. Enggak pinter-pinter ya."
"Keasyikan bobo manis bray."

Hohoho! Mural sekali. Sekalipun tak masuk ranah akal sehat gemar sekali berseloroh jungkir balik pisang goreng rasa coklat jadi roti panggang asam manis. Menilik bumbu masak sayur asem; tak peduli sekalipun batuk rejan  menyerang. Ya oh! Kepiawaian membolak-balik menu makanan anonim. Cuss! Balik badan raib woos!

Mohon maaf tak bermaksud mengurangi menu masakan. Antara bumbu sistemis sinonim kolaborasi instan kasat mata. Oh ya. Begitukah cara mengaduk adonan dengan kelingking. Hihihi! Baper ya. Jangan mudah mengartikan makna di balik menu makanan pribadi tentu berbeda; irasional maupun rasional. Nah.

"Aplikasi plagiat."
"Jos banget! Katanya."

"Gagal total hai!"
"Terlihat baik-baik saja."

"Bangga banget." 
"Hua haha sampai mimpi ehem..."

"Hihihi..."
"Hahaha..." Terpingkal-pingkal kursi-kursi berhenti berebutan. Lantas kaget jumpalitan. Nah loh. Mungkin akibat ngakak. Bisa jadi proteksi gambar digitalisasi tak mampu update tekno setara zaman terkini. Loh piye! Sangat mampu kalau benar-benar mau membeli kebenaran hakikat teknologi tercanggih terkini. O! Gitu ya.

"Ya toh?" 
"Yes sekali." Tak perlu melotot begitu. Kalau mata tak cukup jeli melihat tekstur awan senja terindah berarakan. Sila melihat kembali masing-masing hasil loncatan melangit. Manuver kata ozon bolong akibat frekuensi amuk tekno tercanggih uber-uberan. Posmo amburadul polusi sistemis tanpa proteksi. Lah itu cuy! Wah!

Modern super-industri super-tekno unggulan. Oksidasi pemanasan global kalau anti-kontrol. Angin mengurai asap arang pekat memelesat ke awan-awan menembus langit.; Yuk? Menunggu kebaikan bencana iklim gigantik bergoyang-goyang amat mesra. Bumi gelisah. Setelahnya? Enggak tahu deh. 

"Good luck. Kiss." Serentak musikalisasi puisi abakadabra. Jreng!

***

Jakarta Indonesiana, Juli 02, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler