x

Iklan

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ketupat Tradisional Versus Ketupat Plastik

Ketupat plastik itu bungkusnya bukan isinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada Lebaran Ada Ketupat

Lebaran tanpa ketupat ibarat sayur tanpa garam. Bayangkan makan sayur tanpa rasa, pasti hilang selera. Demikian juga dengan lebaran. Kurang nendang rasanya kalau di hari lebaran Ketupat tradisonel dibuat dari pelepah daun kelapa atau janur. Janur diambli dari pohon kelapa paling atas, dipilih yang masih muda dengan tanda warna kuning. Janur di rekayasa dalam jalinan khusus sehingga jadilah dia tempat atau rangka daun untuk menampung beras.

Awak masih teringat kisah sewaktu masih kecil di Kampong Tempino. Sehari menjelang tibanya hari raya idhul fitri setiap rumah di komplek pertamina bersibuk diri membuat sarang ketupat. Janur kuning terhampar di serambi rumah, tampak ibu ibu dan anak padusi dan anak lelaki sibuk merangkai sang janur menjadi ketupat. Bagi anak anak yang belum bisa merangkai ketupat maka sang ibu atau yang senior turun tangan untuk mengajarkan sang pemula sampai dia bisa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Si pemula terpaksa bisa kalau tidak ada cerita mistis berbau horor bahwa kalau ada anak anak tidak mampu merangkai ketupat daun maka dia akan diangkat brata kala kelangit. Inilah model motivasi tradisional dimana pembelajaran menjadi sangat ampuh ketika dilakukan melalui sedikt ancaman. Hasilnya anak anak segenerasi awak tahun 50- an dapat dipastikan mampu membuat ketupat. Tadi siang awak mencoba mempraktekkan lagi cara merangkai ketupat. Alhamdulillah memory ketrampilan jari masih bagus sehingga ketupat tersebut berhasil dibuat.

Anak anak generasi setelah itu apalagi anak yang dilahirkan di Jakarta terlihat bengong ketika menyaksikan orang kampong merangkai daun janur. Dalam benak mereka timbul pertanyaan bagaimana sih membuat ketupat. Kog aneh daun janur yang panjang melebar bisa direkayasa bentuknya menjadi ketupat yang indah. Yes peradaban berjalan terus anak anak kota ini nampaknya enggan belajar merangkai ketupat, bisa jadi karena ada ketupat plastik yang katanya lebih praktis.

Ketupat Bungkus Plastik

Ribut ribut beras plastik beberapa bulan lalu menyebabkan warga super hati hati terkait asupan makanan pokok penduduk nusantara. Awak juga tadinya super hati hati ketika melihat ketupat plastik. Namun rasa ragu ragu itu serta merta hilang setelah melihat, menymak dan mempelajari dan kemudian menyentuh si ketupat plastik itu.

Ketupat plastik itu ternyata yang terbuat dari plastik hanya bungkusnya doang. Seperti sobat saksikan di dokumentasi foto diatas ketupat itu sebenarnya bernama ketupat mini. Kemasan ketupat mini memang menarik, berisi 30 bungkus plastik berisi beras. Setiap bungkus kecil beratnya 20 gram. Di kemasan tertulis tanpa bahan pewangi. Ketupat mini ini produksi dari negara mtetangga Ma Sang-jilaysia, namun telah tersedia di toko All fresh.

Uni Husna Bundo Kanduang Kaum Petokayo membawa 2 saset ketupat mini ke rumah kami di Tempino. Uni Lies istri Uda Buyung diajarkan bagaimana cara memasak ketupat plastik itu. “ cuci dulu karngka plastik berisi beras itu sampai bersih, kemudia rebus di dalam air hangat penuh selama 90 menit. Awak menyaksikan ketupat yang telah direjang itu berwarna putih transparan dan masih panas “ biarkan ketupat itu letakkan didandang tunggu sampai dingin, nanti ketupat bungkus plastik itu akan mengeras dan siaop untuk santap bersama rendang atau gulai nagka plus ayam.

Jadi tahun ini Uda Buyung si pemilik rumah tidak usyah lagi memanjat pohon kelapa mengambil janur. Kita coba dulu pola instan modern ketupat yang dikemas dalam kantong plstik. Namun awak agar suka ria juga ketika melihat di rumah mertua ketupat daun janur masih hadir disini. Terlhat nenek, Lidan adik istri tercinta serta sepupu Uni Aya sedang merangkai daun ketupat. Alhamdulillah tradisi ini masih lekang di kampong kami. Rangka ketupat yang besar itu nanti diisi beras dan ketupat yang kecil akan kita isi dengan ketan hitam demikian arahan Mertua Hajjah Yunidar.

Apapun Ketupatnya,….

Uni Aya sepupu yang juga guru SD itu memberi komentar yang hebat juga ketika awak membawa sampel ketupat bungkus plastik. ‘Uda . Aya sudah lama menggunakan plastik untuk membuat kletupa, besarannya bisa lebih besar sesuai kebutuhan’ walah ketinggalan zaman pulak awak. Malah istri mengatakan nbahwa langganan lontong sayur kita di BHP juga memakai plastik untuk membuat ketupat. Mati aku ternyata gue ngak perhatikan perubahan kuliner selama ini.

Tahun 2015 ini awak sekeluarga berlebaran di tanah kelahiran Tempino jambi. Desa penghasil minyak mentah pada zamannya itu kini terlihat sepi. Untunglah di rumah peninggalan Bapak Haji Dahlan Bin Affan dan Ibunda Hajjah Kamsiah Binti Sutan Mahmud masih kokoh berdiri. Demikain pula rumah Istri semakin indah dengan cat dinding yang baru. Semetara perumahan peninggalan Pertamina terlihat tak terawat, malah sebagian rumah kosong itu atapnya sudah bolong bolong dan daun pintu entah raib kemana.

Ada semangat baru pulang kampung kali ini, selain melihat perkembangan Perpustakaan Kasidah, awak akan bertemu tatap muka dengan sahabat sekampong yang terhimpun dalam group facebook Wonderfull Tempino. Beberapa perantau ini ada yang mudik ada pula yang hanya berkirim salam jarak jauh. Insha Allah dengan anggota WA yang mudik dasn anggota WA yang menetap di Tempino dan sekitarnya , kami akan menyelenggarakan copy darat di Tempino. Mumpung harin raya kenapa tidak dimanfaatkan persahabatan lintas generasi ini dari teman dunia maya menjadi kawan di dunia nyata..

Selamat hari raya Idhul Fitri 1436 Hijriah. Mohon maaf lahir bathin. Apapun ketupatnya apakah dari janur atau bungkus plastik yang penting ada pelengkap rasa seperti sayur opor ayam, rendang, sayur nangka. Inilah kenikmatan luar biasa mudik setlah sungkem kepada orang tua maka menikmati kuliner super syedap sebagai pamungkas setelah sebulan penuh berpuasa.

Salamsalaman

Ikuti tulisan menarik Thamrin Dahlan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu