Labuh Saji, Teologi sampai Konservasi (Bagian 2) - Urban - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Labuh Saji, Teologi sampai Konservasi (Bagian 2)

    Kalau dulu Raden Patah serta-merta melarang segala kebiasaan rakyat Demak yang tidak sesuai Islam, kira-kira, apa jadinya?

    Dibaca : 3.783 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sultan terpaksa mencabut keputusan melarang pelaksanaan kurban setiap tahun baru, yang disebut rajameda, demi menentramkan negara setelah para ilmuwan menjamin akan sekuat tenaga meluruskan akidah. Waktu itu, temurun, masyarakat memperingati tahun baru dengan menyembelih kerbau untuk meminta keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh nagari, awalnya dipanjatkan pada makhluk-makhluk halus dari hutan Krendowahono, yang pernah suatu masa, konon, menebar penyakit menular. Sultan menilai ini melenceng dari tuntunan Islam, yang keyakinannya, karena memang tidak ada ibadah berkurban menyembelih kerbau menandai tahun baru, apalagi diniatkan memohon keselamatan kepada selain Tuhan.

    Tapi negara kemudian kisruh (rusuh). Saat kembali terjangkit wabah, Sultanlah yang disalahkan. Penduduk menganggap itu kutukan buah mbalelo Sri Sultan pada warisan nenek moyang.  Negeri jauh dari tata tentrem. Penduduk resah.

    Saat itulah para ilmuwan bergegas menjalankan peran. Sembilan orang membujuk Sang Sultan membatalkan larangannya, sambil meyakinkan, mereka akan bekerja keras mengupayakan seluruh penduduk terentas dari kesesatan. Mereka berjanji akan turun ke tengah masyarakat, menyampaikan ilmu, dan meluruskan kekeliruan. Akhirnya rajameda langgeng diiringi tumbuhnya kesadaran penduduk, bahwa berkurban adalah keikhlasan, dan segala pengharapan harus dipanjatkan hanya pada satu-satunya Penggenggam Semesta, Tuhan.

    Tidak lama setelah penobatan Raden Patah menjadi Sultan Pertama Demak, peristiwa tadi terjadi di Jawa. Demak yang berdiri dekat pusat Majapahit, bahkan menurut beberapa sumber berada di tlatah Majapahit (ini mungkin terjadi karena Raden Patah adalah putra Raja Majapahit kala itu, Brawijaya V), berpenduduk masyarakat yang lama telah berbudaya Majapahit, sehingga perjalanan Raden Patah membangun kesultanan diuji benturan-benturan. Para ilmuwan yang saya maksud memperkuat madeg-nya (bedirinya, kukuhnya) kesultanan adalah sembilan orang wali atau Wali Songo.

    Pengalaman itu pelajaran besar, membentuk Raja-Raja Jawa tidak gegabah menghapus tradisi. Sultan-Sultan umumnya mendulukan pendidikan atau penyampaian kebenaran ke tengah masyarakat hingga massa mengubah sendiri, mungkin prosesi, terutama niat. Keyakinan bukan soal ini boleh ini tidak, tapi soal rasa batin dalam hati yang hanya dalam genggaman Tuhan. Tugas negara, pemimpin, dan para ilmuwan, memberi pendidikan, luas menyampaikan kebenaran, pada masyarakat.

    Upacara Rajameda berakhir seiring runtuhnya Majapahit, berganti tradisi serupa seperti wilujengan nagari menandai hari jadi, juga suroan yang kemudian khusus di wilayah pesisir, berbentuk petik laut, hajat laut, sedekah laut, juga nyadran, atau labuh saji hingga sekarang.

    Selain rajameda, labuh saji tidak lepas dari craddha menurut saya. Ini memperjelas labuh saji di beberapa tempat kemudian, hingga hari ini, disebut nyadran. Nyadran, berasal dari kata sadran sebenarnya srada, tulisan aslinya sraddha, dari bahasa kawi craddha, berarti keyakinan, kepercayaan, bisa juga dada (simbolis), maksudnya sesuatu yang tersimpan dalam dada, hal-hal batiniah, menurut filolog Prof. Dr. R. Benecdictus Slamet Moeljana. Sraddha juga nilai dalam Hindu berupa lima prinsip atau lima keyakinan.

    Nyadran adalah laku tua keyakinan Hindu yang mendahului Islam di Jawa sekaligus dianut Majapahit. Berdasar penelitian Prof. Meoljana, dokumen tentang craddha ada yang menunjukkan tahun 1362, dalam kitab Negarakertagama karya Kanakamuni atau Empu Prapanca. Tertulis craddha, kala itu, digelar Prabu Hayam Wuruk memperingati meninggalnya sang ibunda, Ratu Tribhuwana Tunggadewi, yang mangkat 1350, sekaligus diniatkan mengantar arwah agar sempurna menghadap Tuhan sesuai laku Hindu.

    Craddha dimulai doa-doa atau pamojan atau pemujaan agar arwah mendiang menghadap Tuhan dengan sempurna. Pamojan diteruskan dengan bubakan, berarti membersihkan petilasan atau makam, diakhiri membagi makanan berupa tumpeng nasi putih, bukan nasi gurih juga bukan nasi kuning, melambangkan kesucian, dilengkapi lauk pauk.

    Era Kesultanan Demak, Sunan Kalijaga berusaha meng-Islamkan keyakinan dan niat melatari upacara ini. Jadilah Srada tetap ada, tetapi berubah diadakan ajeg tiap bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Garis besar prosesinya sama ialah doa, bersih-bersih terutama makam, kemudian berbagi makanan. Distorsinya pada niat, dulu seluruhnya untuk mengenang sosok Tribhuwana, menjadi ibadah mengingat kematian seperti tujuan utama ziarah makam dalam ajaran Islam. Paling tidak, itu yang disebarkan Sunan Kalijaga. Bersih-bersih makam dan sedekah makanan masih bertahan hingga sekarang.

    Perjalanan labuh saji  sarat teladan bersikap. Bagaimana pemimpin dan ilmuwan memerankan bagian dalam negara adalah kearifan yang menjadikan ini budaya mahal, menurut saya. Belum lagi sisi lain seperti model ikatan masyarakat sampai manfaat bagi lingkungan.

    Latar perayaan craddha dan rajameda sedikit banyak membuat labuh saji tidak mungkin gaya individu. Sejatinya ini khas. Upacara ini lumrahnya menjadi salah satu simpul teladan dan pelestari kebiasaan gotong royong masyarakat karena menyiapkan upacara besar, yang dulunya bahkan dirayakan satu negara, mustahil sendiri-sendiri. Tuntunan bersikap dalam ikatan diperkuat lagi dengan prosesi sedekah makanan.

    Selain perlu disiapkan bersama-sama, labuh saji juga bukan perayaan sehari. Di Banyuwangi dan Pangandaran, misalnya, petik laut dan hajat laut bahkan perlu beberapa minggu sebelum hari H untuk berbenah, untuk bersih-bersih sedesa, sampai mengecat ulang kapal. Nelayan sibuk mempercantik perahu di darat artinya nelayan tak melaut. Nelayan tak melaut artinya laut terbebas dari pemanfaatan sementara waktu.

    (Bersambung)

     

    Sumber :

    • Akulturasi Agama dan Tradisi Sedekah Laut – Jurnal Unnes
    • Komodifikasi Ritual Sedekah laut – Digital Library UIN Sunan Kalijaga/digilib.uin-suka.ac.id
    • Misteri Bulan Suro : Perspektif Islam Jawa - Muhammad Solikhin/books.google.co.id
    • Simbolisme Grebeg Suro – library.uns.ac.id
    • Sraddha -  Babad Bali
    • Kraton, Upacara, dan Politik Simbol – Jurnal UGM
    • Panca Srada Booklet Duta Muda Hindu – kmhd.ui.ac.id

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.