Andai Saya Jurnalis, Kemarin - Analisis - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Andai Saya Jurnalis, Kemarin

    Fungsi media massa termasuk memberi pendidikan, bukan saja menyampaikan fakta. Sudahkah?

    Dibaca : 3.666 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Andai saya seorang jurnalis, kemarin, saya akan beritakan selain pengeboman Sarinah di Jalan Thamrin. Mungkin, saya mulai dengan membuat data segala kejadian yang terjadwal kemarin tetapi batal akibat tragedi pengeboman, juga semua kejadian yang potensial menjadi berita, tapi turun peringkat dan tergeser dari prioritas pemberitaan. Saya ingin publik tetap mengetahui apa yang harusnya mereka ketahui kemarin seandainya tragedi pengeboman tidak terjadi.

    Misalnya, kenyataan 14 Januari 2016 sebagai masa jatuh tempo Freeport menawarkan divestasi. Berapa besar divestasi yang akhirnya dilepas Freeport untuk Indonesia dan bagaimana pemerintah bersikap terhadap divestasi, yang harusnya bisa diketahui publik sejak kemarin, bisa jadi prediksi masa depan Indonesia. Harusnya publik bisa tahu sikap pemerintah terhadap perusahaan asing raksasa yang tengah mengelola kekayaan tanah air Indonesia, menguasai sebagian besar sahamnya, dan menikmati keuntungannya. Jika pemerintah menerima divestasi, kemungkinan besar kontrak Freeport diperpanjang nanti 2019, atau dua tahun sebelum usai masa kontrak sesuai jadwal yang diperbolehkan Undang-Undang, karena divestasi berarti penyerahan atau pengambilalihan suatu satuan aset yang artinya dua belah pihak terikat kerja sama lain, sedangkan jika pemerintah mengabaikan alias tidak mengambil divestasi, bisa jadi ini tanda-tanda 2021 Freeport harus angkat kaki dari bumi pertiwi.

    Berita itu kemudian saya kembangkan menjadi panjang. Seumpama kenyataannya pemerintah menerima divestasi, saya bisa meliput daerah terpencil di Papua, yang sering terisolasi akibat cuaca, sampai-sampai penduduknya pernah menderita kelaparan saking buruknya perhatian negara, yang sedikit banyak akan memperjelas manfaat kehadiran Freeport selama 49 tahun di Papua. Freeport berguna bagi seluruh Indonesia, termasuk utamanya warga Papua, atau tidak, biar orang menelaah. Yang penting, sebagai jurnalis saya hadirkan berita-berita pendukung berpikir kritis.

    Tapi umpama sebaliknya, jika pemerintah menolak divestasi, saya bisa ‘mengejar’ menteri ESDM untuk membahas panjang kesiapan Indonesia mengelola kekayaan di Papua secara mandiri. Atau, kalau mau sedikit sensasional, saya bisa tampilkan pendapat seorang pakar migas atau ekonom dalam kalkulasi kekayaan yang bakal dikelola langsung Bangsa Indonesia setelah Freeport hengkang, berarti tanpa berbagi persen kepemilikan dan keuntungan dengan asing. Asumsi saya dari logika, angka-angka bakal melonjak fantastis. Semoga bisa jadi mimpi indah seluruh warga republik, mengalihkan mereka dari kesedihan tragedi pengeboman, pun saya rasa akan sanggup menyemangati Indonesia untuk optimis.     

    Dari daftarkejadian batal, saya akan meliput Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka, yang sedianya didatangi kepala negara untuk silaturahmi dengan para kyai pemimpin, kemarin. Saya akan menemui calon tuan rumah kunjungan kerja presiden itu sembari membahas pandangan-pandangan Islam tentang aksi brutal teroris dan harga nyawa manusia. Bagaimana Islam, yang mengakui Tuhan itu ada, dan Tuhan itu satu, juga Tuhan itu Muqollibal Qulub atau Yang Maha Membolak-balikkan Hati atau Sang Maha Penggenggam Jiwa yang berarti dalam kehendak-Nyalah rasa di tiap relung hati manusia, meletakkan kuasa Tuhan tadi itu sebagai acuan memandang perbedaan. Saya akan menutup berita dengan meminta pendapat para kyai tentang seringnya Islam menempel pada aksi kekerasan dan cenderung anti kemanusiaan akhir-akhir ini, apa sebab, juga sejak kapan generasi teroris seperti ini terbentuk. Sebagai akhir manis, sepertinyakan lebih menggelitik nalar jika mengungkap pandangan kyai-kyai tentang kualitas pendidikan Islam di sekolah-sekolah, yang resmi diselenggarakan sebenarnya oleh pemerintah sebuah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, ya di Indonesia ini, sejak dulu sampai sekarang.

    Lain judul, saya akan memberitakan pabrik rotan Desa Tegal Wangi dan Pasar Batik Trusmi, Cirebon, yang kemarin batal dikunjungi Presiden. Saya akan ungkap Indonesia negara penghasil rotan terbesar di dunia dan kaya warisan budaya sambil mencari tahu agenda awal kunjungan Pak Jokowi kesana, agar Bangsa Indonesia semakin sadar dan terus sadar bahwa negaranya besar, negaranya kaya, sehingga dikelilingi ancaman kejahatan, kecurangan, penindasan, pemerasan, sangat masuk akal meski bukan berarti bisa didiamkan. Saya ingin bangsa saya melawan segala ketidakadilan dan segala penindasan seperti dulu kita memerangi penjajahan. Sangat penting mendidik bangsa paham posisinya di lingkaran internasional dan andai saya jurnalis, itu tanggung jawab saya.

    Seandainya saya jusnalis, tugas saya menyajikan kejadian-kejadian benar, harus seiring dengan tugas memberikan pendidikan. Memberitakan bukan melulu sekedar soal faktual tapi juga bertanggung jawab tidak mengerdilkan pemikiran-pemikiran, yang muncul dalam diri manusia hakekatnya untuk pencarian kebenaran. Kewajiban sayalah mendidik bangsa, mengobarkan niat mencari pengetahuan yang adalah kebenaran, andai saya jurnalis. Orang harus jadi berpikir benar dengan pemberitaan-pemberitaan saya. Saya tidak boleh membuat orang sekedar menerima temuan-temuan fakta, tapi harus juga sanggup menerbitkan kemungkinan kebenaran - kebenaran lain, yang akan memunculkan semangat mencari kebenaran yang sebenar-benarnya.

    Banyak teori memuat tugas media massa dan otomatis menjadi tugas jurnalis yang  ujung tombak pemberitaan. Setahu saya, seluruhnya mengandung unsur pemberi pendidikan pada warga. Ambillah contoh menurut Profesor Joseph R Dominick, ilmuwan komunikasi dunia, yang mencantumkan surveillance, interpretation, linkage, entertainment, dan akhirnya transmission of values sebagai fungsi media massa yang notabene tugas para jurnalis. Values yang dimaksud ya social values, nilai-nilai dalam masyarakat, dan sudah tentu identik nilai-nilai baik, karena tidak ada masyarakat yang menginginkan tumbuh dalam kekacauan.

    Atau menurut Undang-Undang kita yaitu UU No.40 tahun 1999 tentang Pers, yang mencantumkan poin-poin utama fungsi media massa dan jurnalistik, yang adalah memberi informasi, memberi pendidikan, menghibur, dan sebagai kontrol sosial, sehingga jelas media bukan cuma penyampai berita tapi ada tanggung jawab lebih, bahkan besar, mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Andai-andai saya saja. Andai saya jadi jurnalis, kemarin.

     

     

    Sumber foto: gulfnews.com

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.