Nikmatnya Daging yang Hampir Busuk - Travel - www.indonesiana.id
x

Wawan Priyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Nikmatnya Daging yang Hampir Busuk

    Dibaca : 7.701 kali

    Suatu pagi di pertengahan April 2008 silam (saya lupa persis tanggalnya), Om Bob Sadino mengundang saya minum teh di teras belakang rumahnya yang tak terlalu jauh dari terminal Lebak Bulus. Dari teras, pemandangannya bagus. Sejuk. Saya bisa melihat hijaunya lembah di bawah rumah Om Bob yang asri. Kira-kira jam 7.30 WIB saya sudah duduk di kursi teras, tapi Om Bob belum keluar dari kamarnya. 

    Biasanya sih, Om Bob termasuk rajin bangun pagi. Naik motor skutik, keliling lembah tempat ia memelihara kuda. Tapi rupanya pagi itu kesehatan Om Bob sedang tidak baik, asam uratnya kambuh. Jadi itu yang membuat Om Bob agak lama keluar kamar. "Sebentar lagi ya, mas," kata asisten rumah tangga Om Bob.

    Oh iya, pagi itu saya ditemani seekor kucing ras persia kesayangan Om Bob. Saya lupa namanya, tapi cukup jinak dan glendotan di kaki saya. Tak berapa lama, Om Bob datang. Masih pakai piyama warna biru muda. Saya bangkit dari duduk dan menyodorkan tangan, salaman. Usai salaman, Om Bob menyuruh saya duduk kembali.

    Tidak ada basa basi ketika itu. Om Bob langsung nanya, "Wan, menurut kamu, daging sapi yang paling enak untuk disantap itu yang seperti apa?" Saya yang ngga paham soal daging menjawab ringan, "yang baru disembelih Om. Kan masih segar." Saya sambil menduga-duga, ini pasti pertanyaan jebakan. Dan benar adanya. Jawaban saya itu menurut Om Bob salah besar. "Daging yang paling enak untuk dinikmati (dimasak) adalah daging yang sebentar lagi busuk," kata Om Bob.

    "Hah... Masak iya begitu?" gumam saya dalam hati. Atau jangan-jangan Om Bob kembali memberi saya pertanyaan jebakan. Tapi soal daging ini memang benar adanya. Daging yang sebentar lagi busuk, itulah daging yang paling "matang" untuk dinikmati. Saya semakin penasaran dan masih belum mengerti benar soal daging ini. Singkat cerita, setelah ngobrol ngalor ngidul soal bisnis yang ia kelola, Om Bob menawarkan saya untuk mencicipi daging yang hampir busuk itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan.

    Malam harinya, masih di hari yang sama, Om Bob mengajak saya untuk makan malam. Naik mobil mewah buatan Inggris, Om Bob menyuruh supirnya untuk melajukan mobil menuju kawasan Pondok Indah. Mobil itu kemudian menepi di sebuah restoran Korea. Begitu masuk restoran, kami langsung menuju lantai dua. Wow, ketika berjalan dari lantai satu ke lantai dua, naik tangga (karena tidak ada lift), hampir semua pelayan restoran berebut memberi salam ke Om Bob. Satu per satu berusaha untuk salaman. Saya yang di belakang Om Bob jadi agak grogi karena juga diajak salaman.

    Di lantai dua, sebuah meja bundar telah disiapkan di pojok ruangan. Lengkap dengan alat bakar-bakaran di atas meja. Ada juga alat untuk merebus. "Wah ini pasti untuk manggang daging yang hampir busuk itu," pikir saya. Tak berapa lama, meja kami penuh dengan aneka makanan. Sayuran paling banyak. Sementara, daging yang hampir busuk itu datang agak belakangan.

    Tentu saja, aneka sayuran, tahu putih lembut, jamur, masuk ke dalam panci yang airnya dalam sekejab sudah mendidih itu. Lahap kami makan dan tak banyak bicara. Setelah sayuran, daging datang.

    "Wainiii... daging yang hampir busuk itu," mata saya langsung memandang si daging yang warnanya merah merona. Tidak berwarna hitam buluk seperti yang saya bayangkan. Dagingnya dingin, basah, dan teksturnya lembut. Daging inilah yang kemudian kami pangang.

    Om Bob sekaligus mengajari saya cara menikmati daging yang enak itu. Daging itu dipanggang, tidak terlalu lama. Mungkin kalau steak, kadarnya itu medium rare, ya. Lalu dia bercerita panjang lebar soal daging yang hampir busuk itu.

    Intinya adalah, daging itu telah melalui sebuah proses pengolahan yang panjang. Gampangnya, Om Bob menjelaskan sambil membolak balik daging di atas panggangan, daging itu telah melalui proses pelayuan yang lama. Hingga darah di dalam daging itu tidak ada. Urat dan otot di dalam daging juga mengendor. Benar-benar layu dagingnya. "Itulah yang saya sebut daging hampir busuk tapi paling nikmat," kata Om Bob.

    Belakangan saya baru tahu, daging-daging itu didatangkan dari Kem Chicks yang berada di Kemang. Kem Chicks merupakan supermarket modern milik Om Bod. Jadi yang dimaksud daging hampir busuk itu sebenarnya daging setelah melalui proses pelayuan. Tentu dengan teknologi tinggi yang membuat daging itu tetap higenis dan berkualitas. Tak heran jika daging semacam ini menjadi pilihan bagi ekspatriat yang tinggal di kawasan Kemang dan sekitarnya.

    Dan inilah, menurut Om Bob, sebagai daging yang paling enak untuk dinikmati dalam segala bentuk olahan. Di negara-negara maju, lanjut Om Bob, cara pandang soal daging hampir busuk ini sudah benar.

    Istilah kerennya sekarang ini adalah daging beku yang diimpor pemerintah untuk meredam lonjakan harga daging menjelang lebaran. Daging ini kemudian dijual di supermarket dan beberapa tempat yang ditunjuk pemerintah. Harganya, di bawah Rp 100 ribu per kilogram. Saya sempat membeli di sebuah supermarket di dekat rumah di Jatibening, harganya Rp 85 ribu per kilogram. Ada yang Rp 99 ribu per kilogram. Tapi ada juga yang Rp 140 ribu, daging impor berkualitas tinggi.

    Sayangnya, keberadaan daging beku ini tidak begitu populer di mata orang Indonesia. Mereka lebih memilih daging yang dijual di pasar tradisional. Harganya, bisa di atas Rp 140 ribu per kilogram. Mungkin itulah yang orang Indonesia sebut sebagai daging segar dan paling enak untuk dinikmati. "Padahal urat-uratnya masih kaku," ujar Om Bob sambil kembali membolak-balik daging tipis di atas panggangan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.