Pekerjaanku PRT Bukan Pembantu

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Cerita PRT yang berinteraksi baik dengan majikannya karena mengikuti sekolah PRT

Aku seorang ibu dengan 3 anak. Pekerjaanku adalah sebagai PRT. Pertama – tama saya takut bila bekerja dirumahan. Tapi terpaksa. Ini saya lakukan agar ketiga anak saya bisa bertahan hidup dan bisa sekolah. Akhirnya saya dikenalkan oleh tetangga saya ke Perumahan Karanglo Indah dan mendapat pekerjaan sebagai PRT.

Pertama, majikan saya itu orangnya diam, cuek, dan jarang untuk bicara dengan saya. Mungkin orangnya belum tahu saya, dan saya pun takut. Apalagi orang arab itu terkenal sadis (saya lihat di tivi). Tapi orang arab ini atau majikan saya ini orangnya pendiam. Tapi tiap bulan saya mendapat tambahan uangnya itu gedenya 100 – 200. Mungkin itu uang makan atau uang buat angkot.

Tapi kali ini nggak tahu kenapa majikan saya berubah 100 persen. Nggak tahu apa sebabnya. Sekarang majikan saya lebih dekat dengan saya. Juga anak – anaknya. Lebih ramah, tersenyum dan pokoknya tutur sapanya lebih sopan terhadap saya. Jika aku sakit dikasih uang untuk beli obat. Anak saya sewaktu jatuh dari sepeda dan kakinya luka besar karena kena knalpot sepeda diberi obat. Obatnya mujarab, 2 hari langsung kering dan sembuh. Dan sekarang punya makanan apa saja dikasih. Mungkin ibu tahu kalau aku ikut dalam rapat – rapat dan sekolah PRT ini. Majikan saya pernah bertanya dan tanya kepada saya begini, “Mbak saya mau tanya, mbak rapat itu membahas apa saja? Membicarakan apa saja? Apa boleh saya tahu?”. Terus saya menjawab, “Membahas tentang PRT, apa itu pekerja layak, K3 dan membicarakan undang – undang untuk melindungi PRT di Indonesia.

Apalagi majikan saya sering buka google di hpnya. Majikan saja bilang begini, “wah mbak, ada beritanya kelompok mbak gitu. Jadi saya sekarang merasa nggak takut pada majikan karena majikan saya tahu dan saya tahu majikan dan memahami karakter majikan saya. Sudah tahu jika saya izin pulang siang, Ibu pun izinkan entah saya itu anak saya sakit, badan saya capek, entah pergi ke rumah saudara, majikan saya tetap mengizinkan. Saya disuruh cepat – cepat pulang. Pokoknya sekarang aman dan senenglah bekerja dengan majikan saya.

Ada yang saya suka dengan majikan saya, mulai saya masuk hingga sekarang, anaknya menyebut saya pembantu tidak diperbolehkan, katanya saya bukan pembantu, tapi rewang kerja. Ya walaupun itu cuma penyebutan, tapi saya senang dihargai oleh majikan saya. Sekian cerita pekerjaan saya. Salam.

 

Cerita saya,

Sujarwati Pertiwi

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua