Puan dan Tantangan Perempuan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Esai Puan Maharani

Apakah menjadi perempuan berarti hidup dalam satu ruang yang jauh dari riuh peranan kehidupan publik? Apakah menjadi perempuan adalah hidup tanpa peran yang penting untuk kemajuan?

Rasanya tidak!

Puan Maharani, melalui staf ahlinya di bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Siqqy Lego Pangesthi Suyitno, dalam “International Woman’s Leadership Conference (IWLC) and Women Empowerment Award” memberi beberapa uraian yang secara keseluruhan menjawab beberapa pertanyaan yang meragukan posisi perempuan seperti di atas.

Menurut Puan, perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun tonggak masa depan bangsa. Di tangan perempuan, pendidikan anak sebagai generasi penerus diletakkan. Perempuan adalah pendidik pertama dan utama bagi keluarga.

Soalnya kemudian, perempuan, yang jumlahnya di Indonesia tercatat sebesar 49.7 persen dari 254,9 juta jiwa penduduk, masih banyak yang mengalami diskriminasi di berbagai bidang, hak-haknya tak terpenuhi, dan seringkali jadi korban kekerasan di ranah publik.

Konferensi IWLC

Salah satu upaya untuk mewujudkan perempuan yang mandiri dan memantapkan peranannya di ranah publik adalah melalui konferensi internasional IWLC ini. Konferensi berpijak pada beberapa alasan normatif.

Pertama, tujuan pembangunan Nasional pada hakikatnya pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Sebab itu, tidak boleh ada yang tertinggal. Baik perempuan, laki-laki, anak-anak maupun penduduk yang rentan seperti lansia dan lainnya, perlu memperoleh hak yang sama dalam porsi pembangunan nasiional ini. Dengan kata lain, ketertinggalan perempuan, misalnya, menjadi alasan untuk terselenggaranya acara ini. Sebab bila perempuan masih tertinggal, itu berarti amanah dari pembangunan nasional belum tercapai.

Kedua, IWLC penting dan berpijak pada alasan peningkatan kualitas perempuan yang diamanatkan dalam RPJMN 2015-2019 melalui strategi pengarusutamaan gender.

Alasan-alasan ini yang menurut Puan memberi legitimasi bagi diselenggarakannya konferensi internasional tentang kepemimpinan perempuan. Konferensi ini merupakan identifikasi atas ragam persoalan dan perumusan solusi terkait dengan perempuan.

Puan menyatakan bahwa saat ini capaian pembangunan gender cukup mengharukan. Misalnya di mata dunia, kemajuan kesetaraan gender di Indonesia patut diapresiasi. Perempuan Indonesia mulai menunjukkan kemajuannya dalam bidang ekonomi, politik dan hal-hal lain seperti soal dalam pengambilan keputusan.

Tetapi jumlah itu belum seberapa. Itu sebabnya, konferensi seperti IWLC ini menjadi penting untuk terus menggugah dan menguatkan peranan perempuan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Abdul Kahir

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler