Sulebar M Sukarman: Mencari Identitas Lukisan Abstrak Indonesia - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Foto Sulebar M Soekarman. Dicomotkan dari blog Catatan Volunteer http://emha42yogya.blogspot.com/2013/02/jalan-jalan-1.html

Rasp Rasp

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 September 2019

Sabtu, 28 September 2019 07:41 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Sulebar M Sukarman: Mencari Identitas Lukisan Abstrak Indonesia

    Dibaca : 91 kali

    Hasratnya tak pernah usai untuk membangun lukisan abstrak yang beridentitas Indonesia. Apa pentingnya ttu?

    Tubuhnya kecil dan ramping dengan rambut panjang hingga bahu berwarna putih, gerakannya gesit. Pada raut mukanya tampak kacamata berkilau, memancarkan kecerdasan. Lahir di Bandung 23 Juli 1943, Sulebar M Soekirman usianya saat ini telah mencapai 76 tahun. Tapi semangatnya masih seperti 30-an tahun. Di studionya di kawasan Yogyakarta, tampak beberapa lukisan berjenis abstrak bersama lukisan isrinya Nunung WS  (71).

    “Saya membantu mempersiapkan pameran Tiga Matahari, Kartika Affandi, Nunung WS  dan Dyan Anggreini untuk bulan Juli nanti” kata dia.

    Tahun 1960-an, Sulebar M Soekirman adalah pemuda yang terpesona oleh kesenian. Sebab itu ia hanya memiliki satu keinginan, yakni menjadi seorang seniman lukis. Pada masa itu, perang dingin antara Timur (Rusia) dan Barat (AS) tengah mencemaskan dunia. Bahkan di beberapa tempat terjadi perang regional seperti di Korea dan Vietnam.

    Di Indonesia, ketegangan itu juga menular tidak saja pada kaum ideologis-politis, tapi juga seniman dan sastrawannya. Satu berkubu pada Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), berkiblat pada Partai Komunis Indonesia (PKI), dan satunya cenderung mendukung semangat humanisme univesal yang antikomunis. Sulebar muda secara ideologis memilih bersama barisan Goenawan Mohamad, Arif Budiman dan lainnya di kubu Manikebu.

    Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada tahun1967, Sulebar memutuskan belajar Jurusan Seni Murni Akademi Seni Rupa LPKJ atau sekarang menjadi Institut Kesenian Jakarta (1970-1978).  Pada tahun 1972-1974 Sulebar memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk studi perbandingan di Akademi Seni Rupa, Rotterdam, museum-museum di Belanda. Selama di sana juga mengikuti workshop grafis di studio Lantarn, Rotterdam.

    Pada saat itu lukisan modern bergaris abstrak tengah menjadi tren dunia melalui lukisan Jackson Pollock berjenis abstrak-ekpresionisme yang disebut-sebut sebagai puncak dari seni modern. Aliran ini merupakan bagian dari perkembangan aliran lukisan abstrak yang dibangun oleh seniman Rusia Wassily Wassilyevich Kandinsky sejak 1911, yaitu lukisan non-object. Sulebar pun memutuskan mencurahkan ekspresi seninya melalui lukisan abstrak. Ia juga sempat belajar pada maestro Affandi ketika beberapa tahun mnjadi asistennya.

    “Lukisan abstrak memiliki keidahan yang murni karena berasal dari dalam," kata dia. “Dia tak lekang karena tak berobyek. Saya terus berupaya untuk aktif bergerak mewujudkan identitas lukisan abstrak Indonesia.”

    Apa pentingnya itu identitas yang dicari? Menjawab pertanyaan itu Sulebar menjelaskan bahwa lukisan abstrak Indonesia harus bisa diakui sebagai seni rupa modern. Karena sejauh ini belum ada pengakuan dunia terhadap seni modern Indonesia. Hal itu disadarinya ketika tahun 1992 diundang ke Amerika untuk melakukan pameran di sana bersama istrinya Nunung WS yang juga pelukis abstrak.

    “Saya kaget, di Amerika, mereka belum bisa mengakui seni modern Indonesia hingga saat ini. Ini bukan sekadar soal lukisan semata, tapi penting bagi eksistensi bangsa.”

    Kenyataan itu membuat Sulebar mengingat semangat Sudjojono bersama  Agus Dajajasoeminta, S. Toertoer dan Emiria Sunasa membuat Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada  tahun 1938 dengan tujuan merumuskan seni rupa Indonesia baru.

    Sulebar berkisah bahwa pada mulanya kelompok itu diniatkan agar memudahkan mereka mengikuti pameran-pameran lukisan, setelah Sudjojono melihat pameran maestro-maestro dunia di Bataviasch Kunstkring.

    Soedojono kemudian mengkritik keras lukisan yang hanya memcerminkan sekadar keindahan visual, tapi tak mencerminkan pengalaman batin manusia secara universal. Lukisan mooi indie atau lukisan cantik menurut Soedjojono tak memberikan kontribusi bagi karya seni rupa Indonesia. Menurut Sulebar, Sudjojono punya kredo, yaitu agar bisa diakui dunia, seni rupa Indonesia harus memiliki corak sebagai identitas

    Meskipun gerakan Sudjojono ini mencoba merumuskan dan melahirkan seni rupa baru Indonesia, tapi cita-cita itu berhenti di tengah jalan, tahun 1970an-an. Artinya, gerakan menemukan identitas seni modern Indonesia menjadi redup. Sementara itu pergeseran narasi kebudayaan dari modern menjadi pascamodern membuka gerakan baru yaitu kontemporer di tahun 1980-an mulai merambah di Indonesia.

    Abstrak Indonesia

    Menurut Sulebar, lukisan abstrak baru diterima secara akademis di Indonesia sekitar tahun 1970-an setelah pelukis Nashar pada tahun 1973 menyampaikan konsep Tiga Non: non-prakonsepsional, non-estetik akademis, dan non-teknik akademis yang ramai diperbincangkan para akademsi. “Sebelumnya lukisan abstrak di Indonesia tidak dianggap, meskipun lukisan Jakson Pollock begitu populer.”

    Usai belajar di Belanda, Sulebar kemudian menjadi dosen di IKJ dan ikut terlibat di Dewan Kesenian Jakarta sebagai salah satu direkturnya. Sulebar menyadari bahwa lukisan abstrak membutuhkan identitas yang membedakan dengan lukisan abstrak yang bergaris mazab Wassily Kandinsky, juga abstrak-ekspresionisme model Jackson Pollock.

    Kenyataan bahwa masih ditolaknya karya seni modern Indonesia itu membuatnya berpikir bahwa penting mengupayakan corak lukisan abstrak Indonesia yang menjadi identitas seperti halnya cita-cita S. Sudjojono dalam seni rupa secara umum. Maka, kemudian ia bersama pelukis abstrak lainnya di Indonesia mencoba terus melakukan rumusan-rumusan yang tepat.

    “Jika lukisan abstrak Barat lebih menekankan pada semangat visual, lukisan abstrak Indonesia memiliki perspektif spiritual Timur. Itu prinsipnya. Kita terus berupaya mencari itu,” jelas dia. Sulebar kemudian mendirikan Indonesian Visual Art di tahun 1998 sebagai upaya melahirkan seni rupa Indonesia Baru yang dicita-citakan pula Sudjojono di masa lalu. Dengan lembaga ini ia membuat kajian, riset dan workshop.

    Pada tahun-tahun berikutnya di Jakarta, 2005 beberapa seniman membuat pameran Manifesto Lukisan Abstrak Indonesia bertempat Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki Jakarta dan selanjutnya secara rutin diselenggarakan pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak Indonesia.  Pada tahun 2008 disepakati para pelukis abstrak Indonesia dengan membuat Gerakan Seni Abstrak Indonesia yang bertujuan melahirkan wacana seni abstrak Indonesia.

    Bahasa Rupa

    Tidak kalah penting bagi Sulebar, selain pemikiran Persagi, belakangan ia juga menyebut Profesor Primadi Tabrani dari ITB sebagai perangsang gerakan pencarian identitas tersebut. Meskipun pemikiran itu diambil hanya sebagai metode. Menurutnya, temuan bahasa rupa Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB)  itu sangat bernilai dan bermanfaat bagi pencarian jati diri seni rupa modern Indonesia, terutama abstrak yang ia geluti.

    Bahasa Rupa Pimadi menjelaskan bahwa seni rupa Timur selalu bersifat naratif, deformatif. Dalam satu bingkai formatnya menyatu antara ruang, waktu dan bersifat datar (flat). Bahasa rupa yang berkembang dan dikenal oleh bangsa Indonesia sekarang kebanyakan bukan bahasa rupa asli Indonesia,tetapi kebanyakan bahasa rupa dari Barat (Primadi, 1991 :3).

    Dalam buku Bahasa Rupa Primadi Tabrani (Kelir, 2000) memang menyebutkan bahwa bahasa rupa adalah metode untuk memahami bahasa rupa baik Timur dan Barat. Misalnya Ruang-Waktu-Datar (RWD) adalah jenis seni rupa Timur. Sedangkan Barat dicirikan dengan Naturalis-Perspektif-Momenopname (NPM).

    “Bahasa Rupa temuan Pak Primadi Tabani itu tepat untuk digunakan sebagai metode pencarian. Karena dengan bahasa rupa itu kita bisa memmbaca dan melihat secara historis bagaimana pola seni rupa kita,” kata Sulebar.

    Selain itu, temuan Primadi tentang Bahasa Rupa yang tertuang dalam disertasinya sudah diakui secara akademis di Amerika Serikat karena menawarkan hal baru yang belum dikenal dalam literatur Barat. American Library of Congress dari Amerika Serikat tahun 1991 memesan 7 peti yang dibagikan pada berbagai perguruan tinggi seni rupa di Amerika.

    Menurut Sulebar, temuan Primadi Tabrani yang sudah diakui di dunia Barat itu memberikan semangat bagi seniman Indonesia, terutama dirinya, untuk terus berupaya menemukan format lukisa abstrak yang otentik Indonesia.

    “Mungkin, dalam sejarah seni modern,  termasuk abstrak lahir dari Barat, namun sebagai seniman, seperti halnya S. Sudjojono yang bersemangat dengan kredonya bahwa seniman harus mampu memperlihatkan jiwa dalam dari karya seninya, seniman abstrak Indonesia harus juga mampu merumuskan karya abstrak Indonesia sendiri. Meskipun itu tidak mudah. Tapi seniman harus selalu optimis dan kreatif,” kata Sulebar M Soekirman.[]

    Penulis: Ranang Aji SP


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.