x

Peserta di sela-sela pelaksanaan Festival Jurnalisme Warga

Iklan

Rasp Rasp

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 September 2019

Rabu, 2 Oktober 2019 10:22 WIB

Jurnalisme Bersanding Lurus dengan Agama

Artikel ini tentang prinspip-prinsip jurnaliseme dan korelasinya dengan agama Islam.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jurnalisme adalah perkara mendasar dari kebutuhan manusia dari semua jenis moral yang diciptakan. Jurnalisme secara murni memiliki tujuan yang besar demi menyelamatkan eksistensi manusia dari segala ancaman di alam semesta. Ia bergerak dalam alam kesadaran manusia.

Eksistensi adalah rasa cemas dalam diri manusia yang terkurung di dalam kegelapan. Terhalang bukit dan gunung, sehingga tak mampu melihat apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi, juga apa yang akan menimpa mereka.  Maka manusia senantiasa dalam kekosongan dan kecemasan (absence dan existence). Dengan itu ia membutuhkan kabar agar rasa cemas mereka dapat ditentramkan melalui berita yang benar.

Namun, dalam kasus yang berbeda, pada tingkat realitas yang ekstrim, manusia persis yang digambarkan Plato di dalam Poletia (Negara/Republik) bahwa manusia adalah jenis mahluk yang terikat rantai besi tangan dan kaki serta lehernya –dan ia terkurung di dalam sebuah gua gelap. Ia tak pernah melihat sinar matahari atau cahaya lain selain apa yang memancar di depannya. Ia hanya mampu melihat bayangan sendiri. Ia tak mampu melihat kebenaran yang lebih luas. Ia terjebak dalam istilah Walter Lippman sebagai stereotype dan terbatas akses informasinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dua kenyataan di atas kondisi manusia itu berdiri dalam posisi saling memunggungi. Namun keduanya adalah persoalan manusia di mana dan kapan saja. Satu mewakili sebuah kecemasan melalui kesadaran untuk kemudian mencari dan mendapatkan rasa aman. Sementara satu lagi adalah mewakili ketidakberdayaan terhadap kekuatan besar yang membuatnya hanya mampu melihat satu sisi, sementara di sekitarnya terbentang luas alam semesta yang membebaskan. Semua pandangannya hanya menatap bayangannya sendiri pada dinding gua

Jurnalisme modern melihat persoalan itu. Secara etik, jurnalisme pun menjadi obor yang menerangi jalan kegelapan manusia. Masalahnya, setiap kegelapan tak selalu mampu diterangi oleh obor yang kecil. Setiap waktu, ada ruang kosong dari cahaya. Setiap saat ada jalan simpang yang menyesatkan dari tujuan murni jurnalisme.

Jurnalisme adalah murni kesadaran dan tujuan manusia menuju lanskap peradaban dunia. Di mana secara ekstrim hal itu dikhayalkan oleh Sir Thomas More dalam Utopia di tahun 1516 sebagai utopia. Namun, manusia jenis mahluk yang senantiasa berkehendak, maka utopia bisa pula menjandi distopia.

Bias Jurnalisme

Jurnalisme pun berada dalam kehendak manusia yang kompleks. Ia berada pada persimpangan jalan. Namun esensinya adalah mengabarkan sesuatu hal agar setiap orang mendapatkan gambaran apa yang di luar dirinya. Ketika industri yang disemangati oleh nilai-nilai tertentu, dan hasrat kapital semakin menjadi hasrat yang menguat, lahirlah misalnya jurnalisme kuning di masa abad 19. Sebuah semangat industri yang membelokkan semangat lurus jurnalisme. Jurnalisme Kuning praksis adalah pertarungan dua raksasa dalam industri koran Amerika Serikat, Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst melalui New York World (1883).

Masyarakat disuguhi berita-berita semacam panggung sinetron yang mengaduk-ngaduk emosi melalui berita bohong dan skandal. Maka, manipulasi judul dan isi menjadi keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang jurnalis kuning. Infotainment pun kemudian mengambil ruangnya sebagai ahli waris dengan menyebarkan jenis hiburan yang mengekspolitasi hasrat dan emosi manusia dengan membaurkan kebencian, fitnah, narsisme, ghibah dan segala yang buruk demi industri media.

Kesadaran politik kekuasaan juga kemudian memanipualsi fungsi jurnalisme. Mereka menjadikan media sebagai alat memanipulasi rasa, agar orang tidak suka menjadi suka melalui kabar yang diolah sedemikian rupa (agenda setting, framing, priming) untuk mempengaruhi massa demi kesan atau citra tertentu. Hal demikian persis yang diposotulatkan Eric Fomm dalam bukunya Kiri Baru (New Left) bahwa kapitalisme memiliki instrumen untuk membentuk pasar. Dan salah satu instrumen adalah iklan yaitu untuk memanipulasi rasa masyarakat, agar yang semula tidak butuh menjadi merasa membutuhkan barang yang semula tak dibutuhkan.

C. Wright Mills dalam The Power Elite (1957) menyebutkan para elite yang terdiri dari para politisi, pengusaha, militer membangun pijakan untuk menuju posisi ke atas (kekuasaan dan kekayaan) melalui cara indoktrinasi dan media. Kuncinya adalah komunikasi satu arah melalui media.

Peran Agama

Dalam kondisi bias jurnalisme demikian, peran agama menjadi sinergi yang sepantasnya dipertimbangkan sebagai rujukan etis, di mana Al-qur’an sendiri memberikan perintah pada penganutnya untuk selalu memperhatikan verifikasi atau tabayun dalam mengirimkan atau menerima kabar. Agama juga melarang berita-berita ghibah. Kita bisa membaca perintah agama itu dalam surah Hujurat sebagai berikut:

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6].

 Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. [al-Hujurât/49:12].

Bacaan ayat-ayat di atas dikombinasikan dengan tujuan jurnalisme modern serta kode etik jurnalistik sudah sepantasnya secara ideal mampu menjadi pencegah bagi pembuat atau penerima informasi berita. Setidaknya bagi para kaum yang mengimani agamanya (Islam). Dengan demikian, perilaku etika tersebut juga dharapkan mampu menjadi rahmat bagi alam semesta, bagi mayarakat luas yang beragam. Mungkin demikian.

Penulis: Ranang Aji SP

Ikuti tulisan menarik Rasp Rasp lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler