Biarlah Tuhan yang Menagih Sumpah dan Janji Warga DPR - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 2 Oktober 2019 07:59 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Biarlah Tuhan yang Menagih Sumpah dan Janji Warga DPR

    Saya tercenung melihat wajah-wajah anggota DPR yang tetap tampak sumringah ketika mengucapkan sumpah dan janji itu. Bulu kuduk saya berdiri. Itu sumpah dan janji yang berat. Sumpah eh sungguh..., sumpah dan janji itu jauh lebih berat ketimbang janji-janji yang ditebar para politisi di masa kampanye, karena membawa-bawa asma Tuhan ke dalamnya.

    Dibaca : 3.166 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Dengan wajah sumringah, 575 anggota DPR mengikuti proses pelantikan di ruang sidang yang megah. Di hari pertama bulan Oktober kemarin, mereka mengucapkan sumpah dan janji. Walaupun rakyat tidak berada dalam ruang sidang itu, rakyat menyaksikan, mengingat, dan bahkan mencatat sumpah dan janji mereka.

    Sumpah itu sungguh mulia dan menggambarkan tekad luar biasa para anggota Dewan untuk berbakti kepada bangsa dan negara, begini bunyinya:

    ‘Saya bersumpah saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang berpedoman pada Pancasila dan UUD RI 1945.

    ‘Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi dan golongan.

    ‘Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan NKRI.’

    Sungguh mulia bukan sumpah dan janji anggota DPR? Bahkan, yang membuat miris, sebelum mereka mengucapkan sumpah, Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali mengingatkan kepada anggota DPR bahwa sumpah dan janji itu adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan manusia [mungkin maksudnya rakyat], harus ditepati dengan segala keikhlasan dan kejujuran. Dan ketika Ketua MA mengajukan pertanyaan kolektif kepada anggota DPR apakah bersedia bersumpah dan menepati janji, terdengarkah suara serentak anggota DPR: “Bersediaaaa..” Ah, jadi teringat koor yang itu: "Setujuuu...."

    Saya tercenung melihat wajah-wajah anggota DPR yang tetap tampak sumringah ketika mengucapkan sumpah dan janji itu. Bulu kuduk saya berdiri. Itu sumpah dan janji yang berat. Sumpah eh sungguh..., sumpah dan janji itu jauh lebih berat ketimbang janji-janji yang ditebar para politisi di masa kampanye, karena membawa-bawa Tuhan ke dalamnya. Jika rakyat suatu ketika menagih janji mereka, dan mereka acuh tak acuh, rakyat mungkin sukar melangkah lebih jauh. Tapi, jika Tuhan yang menagih janji mereka, entahlah ... apa mereka sanggup mengelak.

    Oh ya, setelah pelantikan usai, salah satu stasiun televisi menayangkan wawancara singkat dengan seorang politikus [atau politisi? Saya kurang paham mana istilah yang terdengar lebih bagus dan mana yang secara substansial memang lebih bagus] yang telah tiga kali berturut-turut menjadi anggota DPR. Di hadapan sejumlah jurnalis, ia mengatakan akan bekerja sebaik-baiknya—saya menduga, di awal periode keanggotaan yang lalu maupun dua periode yang lalu, ia mengucapkan kalimat yang sama. Barangkali ucapan itu terdengar klise, tapi sebagai politikus atau politisi agaknya memang kalimat itulah yang harus ia ucapkan, berulang-ulang bahkan, agar orang banyak percaya bahwa ia akan bekerja secara sungguh-sungguh, bahwa ia akan bekerja dengan sebaik-baiknya.

    Di hari pelantikan itu pula, Puan Maharani, seperti sudah direncanakan, dipilih menjadi Ketua DPR. Patut juga diingat dan dicatat janji Puan setelah terpilih: “DPR adalah lembaga yang merupakan representasi rakyat, sehingga gedung DPR adalah rumah rakyat. Oleh karena itu, kita akan selalu terbuka terhadap setiap aspirasi dan masukan yang kita terima dari masyarakat.” Sungguh indah dan bijak, bukan, janji Puan?

    Tiba-tiba terbayang-bayanglah sampul majalah Tempo yang bikin heboh itu, “Janji Tinggal Janji.” Tapi masak iya sih sampai sebegitunya? Ah, begini saja, jika suatu ketika rakyat menagih janji bahkan sampai memar dan berdarah-darah tapi tetap dicuekin, ya biarlah Tuhan saja yang menagihnya.... >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.