Kasus Reynhard Sinaga Dampak dari Kulturalisasi Liberalisme. - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kasus Reynhard Sinaga

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Sabtu, 11 Januari 2020 10:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kasus Reynhard Sinaga Dampak dari Kulturalisasi Liberalisme.

    Kasus Reynhard Sinaga adalah salah satu dampak dari budaya liberalisme yang dianut generasi.

    Dibaca : 2.765 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di awal tahun ini kita dikagetkan dengan kasus yang menodai nama baik bangsa Indonesia di mata internasional, mengapa tidak? Di tengah anak bangsa sedang giatnya mengejar prestasi internasional di berbagai bidang, baik di bidang olahraga, sains dan seni, justru seorang pria asal Indonesia berusia 36 tahun merupakan mahasiswa pasca sarjana di Inggris, bernama Reynhard Sinaga ini telah menggemparkan jagad Inggris dengan kasus kejahatan pemerkosaan kepada para remaja dan pemuda di Inggris, ia terjerat dengan 136 kasus pemerkosaan sesama jenis dan lebih dari 190 korban pemerkosaan.

    Kejahatan pemerkosaan yang dilakukannya sudah berlangsung sejak tahun 2017. "Dalam penilaian saya, anda adalah seorang individu yang sangat berbahaya, licik dan tidak akan pernah aman untuk dibebaskan", kata Hakim Goddard yang memutuskan perkara hukum untuk Reynhard Sinaga (dilangsir di BBC News).

    Berdasarkan keputusan pengadilan di Manchester, Inggris, ia dijerat hukuman penjara seumur hidup atas kasus kejahatan pemerkosaan yang dilakukannya. Sementara itu, Crown Prosecution Service (CPS) yang merupakan badan publik utama untuk melakukan penuntutan pidana di Inggris dan Wales mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa Reynhard adalah pemerkosa paling produktif dalam sejarah hukum Inggris. ini merupakan kasus kejahatan pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris bahkan dalam sejarah dunia. Ini benar-benar miris dan memalukan bangsa Indonesia.

    Kasus-kasus kejahatan seperti pemerkosaan, hubungan sesama jenis, narkoba, perampokan dan sebagainya itu terjadi bukan tanpa sebab. Kasus seperti ini hadir didasarkan pada pemikiran yang tidak terikat dengan nilai-nilai norma agama dan norma sosial, ia menganggap bahwa semua hal bisa dilakukan secara bebas selama hal tersebut dapat memberi kesenangan, kecukupan dan kedamaian hidup bagi individu tertentu, kecenderungan dari kebebasan berpikir tanpa terikat dengan nilai ini akan melahirkan ketidakpuasan dalam diri seseorang dalam mencapai hasrat individu dan individu akan terus mencari kepuasan-kepuasan itu serta akan melakukannya secara berulang.

    Tentu, individu-individu yang ingin bebas dalam segala aspek ini semakin masif, membentuk populasi yang besar yang kemudian membuat kelompok pergerakan yang menyuarakan aspirasi yang sama dari kelompok tersebut, yah, kelompok kebebasan. Bahkan mereka menuntut hak-hak legalitas dalam sebuah konstitusi untuk menyuarakan aspirasi yang sama hanya dengan alasan "Meng-aktualisasikan diri".

    Senada dengan hal tersebut pastinya sangat berbahaya jika istilah mengaktualisasikan diri ini dimaksudkan dalam segala aspek kehidupan, orang bebas berciuman di keramaian selama tak mengganggu yang lain, siapapun bisa berhubungan sex dengan siapapun bahkan dengan sesama jenis selama tak mengambil hak orang lain, siapapun dapat menggunakan narkoba selama untuk kesenanganya dan sebagainya, hal ini sangat berbahaya, terlebih jika gerakan masif para kelompok ini bahkan sampai melakukan propaganda massa, tak ayal mereka pun merekrut anggota dan melakukan regenerasi agar visi misi liberalisme atas nama aktualisasi diri yang mereka gaungkan dapat tercapai.

    Maka, muncullah kelompok-kelompok yang menamai dirinya kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Kelompok pergerakan LGBT ini sudah muncul sejak lama, Pada tahun 1960-an kaum LGBT atau GLBT (hampir seluruh Eropa) secara tegas menuntut kesamaan hak dengan warga negara lainnya tanpa membedakan orientasi seksualnya. Di Amsterdam, Belanda pada tahun 1970 melakukan aksi besar-besaran menuntut pemerintah Belanda mensahkan undang-undang perkawinan sejenis, maka Belandalah negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis, setelah itu diikuti oleh negara-negara lain di seluruh dunia. Di Asia pun semakin masif, khususnya Indonesia gerakan LGBT diyakini dimulai dengan berdirinya organisasi transgender pertama Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD), yang difasilitasi oleh Gubernur Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, pada 1969. Wadam adalah singkatan dari “wanita Adam”, istilah yang kemudian diprotes oleh seorang pejabat negara karena dianggap membawa-bawa Nabi Adam. Istilah ini kemudian diganti menjadi “waria” atau “wanita pria”, walaupun pemakaian yang lebih tepat secara politis adalah transgender atau transpuan dan transpria. Gerakan-gerakan seperti ini pun semakin masif dan semakin eksis di jagat sosial. Bahkan mereka menuntu di samakan di hadapan hukum, politik dan pelayanan publik. ini sangat menyedihkan bagi generasi bangsa ini (Magdalene.co)

    Terlepas dari sejarah singkat LGBT tersebut, mari kita coba berpikir menggunakan logika sederhana, apa jadinya jika kaum LGBT ini sampai melakukan pernikahan sejenis? Bagaimana dengan populasi penduduk suatu negara jika pernikahan sejenis disahkan? Pastinya populasi semakin berkurang dan akan terjadi ketidakseimbangan jumlah penduduk pria dan wanita. Rata-rata jumlah pria di dunia lebih sedikit daripada jumlah perempuan, sedangkan kasus pernikahan sejenis lebih banyak dilakukan oleh pria (Gay). Purwadi, dalam buku psikologi sosial yang ditulis meinarmo (2009) mengatakan bahwa jika terjadi ketidakseimbangan jumlah pria dan perempuan ini berakibat pada tingkat kecemasan sosial bahkan depresi dialami oleh perempuan, karena perempuan cenderung tak dapat menemukan pria normal sebagai pasangan hidupnya.

    Dunia sosial itu adalah dunia kedua setelah dunia nyata, semua orang dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Kulturalisasi Liberalisme semakin mudah dilakukan melalui media sosial, kaum-kaum LGBT ini makin gencar menulis artikel-artikel bahkan membuat buku yang ingin semakin meyakinkan publik bahwa mereka dapat diterima oleh khalayak, mereka menganggap dirinya layak dan harus disamakan di mata hukum, sosial, politik bahkan agama. Anehnya, justru para ahli medis di dunia kedokteran dan psikologi menganggap bahwa LGBT adalah bagian dari penyakit jiwa. Bagi saya alasan ini hanya memperkecil ruang jerat hukum bagi kaum LGBT dan justru semakin memperluas gerakan mereka dalam melakukan propaganda pada generasi muda, khususnya remaja dan anak-anak, hukum pun cacat tak dapat mengadili secara tegas para pelaku LGBT.

    Semakin lama terjadi degradasi moral yang semakin merajalela di kalangan generasi muda, mirisnya lagi ini menimpa anak-anak yang bahkan masih usia dini, pengaruh media sosial sangat buruk bagi perkembangan kognitif maupun perkembangan moral anak-anak. Media pertelevisian pun semakin kapitalis, mementingkan keuntungan peribadi dan kelompok mereka tanpa peduli dengan tayangan tv yang semakin membodohi masyarakat khususnya generasi muda bangsa. Bahkan parahnya banyak ditampilkan artis-artis yang notabene cenderung ke LGBT, hal ini semakin menambah buruknya moralitas generasi.

    Beberapa tahun lalu seorang menteri agama memberikan penghargaan bergengsi untuk kaum LGBT Indonesia, yang seharusnya menteri agama sebagai benteng moral bangsa mestinya dapat tegas menolak LGBT sebagai perusak generasi muda, inilah bukti bahwa Kulturalisasi liberalime sudah tertanam bahkan diciptkan oleh para penguasa dan pejabat negara,  ini benar-benar sangat menyedihkan, tidaklah heran jika generasi muda di era milenium ini semakin bobrok moralitasnya.

    Maka marilah kita sayangi generasi muda kita, tak ada satupun dari kita yang menginginkan generasi penerus bangsa menjadi buruk moralnya, karena ketika generasi muda saja sudah menjunjung tinggi nilai-nilai liberal dan memiliki moralitas yang buruk, apa jadinya bangsa ini ke depan?
    Apakah kita mau bangsa kita tercinta ini seperti Belanda yang populasinya semakin lama semakin sedikit hanya karena generasinya LGBT, dan populasi bangsa yang sedikit akan mudah dijajah bangsa asing?

    Apa kita juga menginginkan bangsa ini seperti sebagian besar negara Amerika yang menjadi negara adidaya tapi menjadi tak berdaya ketika masyarakatnya memiliki budaya yang bebas, Amerika adalah salah satu negara dengan tingkat HIV/AIDS terbesar di dunia?

    Apakah kita juga ingin seperti Jepang yang tingkat kemandirian masyarakatnya terbaik di dunia bahkan negara termaju dalam bidang tekhnologi, tapi juga negara dengan tingkat bunuh diri terbesar di dunia hanya karena negara ini mayoritas masyarakatnya tidak memiliki agama?

    Kita mesti bersyukur tinggal di bumi Pertiwi terdapat banyak agama yang hidup rukun. Maka jangan kita rusak dengan moralitas buruk ala negara barat. Mestinya kita semakin baik moralnya, jangan mudah terpancing dengan budaya-budaya liberalisme yang justru menjauhkan generasi bangsa ini dari nilai moral yang baik, maka mari kita jaga bersama.

    Kasus Reinhard Sinaga adalah salah satu contoh kasus yang disebabkan budaya liberalisme yang didasarkan pada buruknya moralitas generasi bangsa. Oleh karenanya, langkah konkrit untuk menghancurkan atau paling tidak untuk mengantisipasi menyebarnya Kulturalisasi liberalisme, khususnya pengaruh LGBT pada generasi muda adalah kita junjung tinggi nilai-nilai agama yang kita anut, sejatinya hanya nilai agamalah benteng terkuat kita dalam menghadapi tantangan jaman. Selanjutnya patuhi segala norma yang berlaku di masyarakat, karena norma masyarakat mengikat kita untuk tetap terjaga dalam lingkungan yang positif berdasarkan norma yang dianut dalam masyarakat tersebut. Terakhir, bagi para orangtua didiklah anak-anak kita dengan nilai-nilai agama yang luhur, berilah keteladanan yang baik, karena pola asuh terbaik yang diberikan orangtua dari sejak dini akan menentukan baik dan buruknya moralitas anak ketika ia dewasa. Begitupun bagi yang masih muda dan belum menjadi orangtua, perkuat diri kita dengan ilmu yang baik, libatkanlah diri dalam majelis ilmu yang baik dan juga dalam aktivitas-aktivitas positif sebagai bekal mendidik generasi selanjutnya.

    Semoga dari individu-individu yang baik moralnya akan tercipta di antara masyarakat yang juga baik moralnya, pastinya akan mengumpulkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh dengan kedamaian, kesejukan, kesejahteraan dan menjadi bangsa yang berakhlak mulia. Aamiin ...










    Ikuti tulisan menarik Irfansyah Masrin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.