Hutan Tangap, Bukti Perhatian Bupati Berau pada Kebutuhan Pariwisata Masyarakat - Travel - www.indonesiana.id
x

Mentari Pagi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Januari 2020

Senin, 27 Januari 2020 06:07 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Hutan Tangap, Bukti Perhatian Bupati Berau pada Kebutuhan Pariwisata Masyarakat


    Dibaca : 1.415 kali

    Menghilangkan penat dari segala rutinitas dan beban kerja adalah kebutuhan bagi setiap insan manusia, terutama para pekerja. Akhir pekan pun menjadi waktu yang dinanti. Berbagai aktivitas seperti staycation, liburan ke kota satelit, piknik di taman kota, atau sekadar keluar makan beramai-ramai bersama anggota keluarga dirasa cukup untuk mengisi daya semangat dan energi.

    Menangkap gelagat berplesir singkat ini, banyak pihak mulai menanggapi dengan membuka warung makan hingga tempat hiburan. Tak ingin ketinggalan, pemerintah daerah pun juga turut menyediakan ruang publik yang mewadahi kebutuhan plesir masyarakat. Salah satu daerah yang sempat marak dengan fenomena ini adalah Kota Surabaya. Banyak taman dipercantik dan menjadi tempat berkumpul sekaligus beraktivitas oleh warganya.

    Pada 2017 silam, Hutan Kota Tangap di Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau juga mulai ditata dan dibenahi supaya dapat dikunjungi oleh warga Berau. Bupati Berau, H. Muharram berharap agar program ini bisa mewadahi kebutuhan plesir warga dengan akses yang mudah dan juga harga yang tidak terlalu mahal.

    Perhatian Bupati Berau, H. Muharram terhadap Hutan Tangap dan pariwisata untuk masyarakat juga ia tunjukkan pada Oktober 2019 silam. Seperti yang dilansir pada laman Prokal.co (10/19), lahan Hutan Tangap akan digarap oleh perusahaan tambang.

    Sehubungan dengan hal tersebut, Muharram kemudian melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan agar objek wisata yang sudah dibangun oleh masyarakat tetap hidup, walaupun di titik yang berbeda. Tindak lanjut dari lobi ini adalah pembuatan MoU (memorandum of understanding) dengan Pemda Berau untuk pengadaan desain pariwisata di titik yang berbeda dengan dana dari CSR (Corporate Social Responsibility) sebesar Rp8 miliar rupiah. Dengan demikian, geliat pelesir dan aktivitas pariwisata akan tetap berjalan dan menguntungkan pelaku serta konsumen pariwisata.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.