Saranjana, Kota Magis dalam Novel, dan Pesona yang Ditawarkannya - Viral - www.indonesiana.id
x

Ihsan Habibi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Januari 2020

Senin, 27 Januari 2020 11:18 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Saranjana, Kota Magis dalam Novel, dan Pesona yang Ditawarkannya

    Dibaca : 920 kali

    Ribuan ton alat berat dikirimkan dari Jakarta ke satu alamat yang berlokasi di sebuah kota yang bernama Saranjana pada 1980-an. Konon pesanan alat berat itu telah dibayar lunas kepada pihak perusahaan oleh si pemesan yang enggan menyebutkan identitasnya.

    Ketika hendak dikirim ke alamat yang tertera pada resi pengiriman, lokasi yang dituju tidak sesuai. Orang-orang di alamat itu pun merasa tidak pernah sama sekali memesan ribuan ton alat berat, apalagi mesti membayarnya dengan sejumlah nominal yang tak sedikit. Hingga kini cerita tentang kiriman sejumlah alat berat ke kota Saranjana itu masih dilingkupi oleh pelbagai selubung.

    Dan tentu saja perkara itu bukanlah satu-satunya temuan misterius yang membuat kita bakal berkerut-kening berkaitan dengan Saranjana.

    Saranjana sendiri diyakini sebagai sebuah kota yang lokasinya terletak di sekitar Pulau Laut, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Bagi masyarakat yang bermukim di luar Kalimantan Selatan sendiri, Saranjana barangkali terdengar begitu asing. Kendati demikian, bagi masyarakat yang tinggal di Kalimantan Selatan, Saranjana justru telah begitu melegenda.

    Berhamburan kisah-kisah janggal dari mulai wilayahnya yang tidak tercantum di peta; topografi kotanya yang acapkali digambarkan berdiri lusinan gedung pencakar langit serta kompleks perumahan elit; ukuran buah-buahan dan sayuran yang lebih besar tinimbang yang lain; paras masyarakatnya yang cantik dan tampan; hingga berbagai temuan mistik dari kesaksian masyarakat luar Kalimantan Selatan sendiri saat melawat, seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari Saranjana.

    Lantaran hal-hal itu pula banyak masyarakat hari ini yang dibuat penasaran akan keberadaan kota Saranjana. Apalagi ditambah ketika warganet kembali memperbincangkan ihwal kota misterius itu di linimasa. Dari mulai orang-orang yang hanya tertarik menyelisik bagaimana sebenarnya topografi kota itu, sampai para pengepul misteri cap kapak yang begitu antusias mencari tahu tentang selubung-selubung maupun hal-hal enigmatik tentang Saranjana.

    Namun di antara upaya-upaya penelusuran tentang kota Saranjana yang telah disebutkan di atas, ada satu hal yang nampaknya cukup menarik jika dikaitkan dengan Saranjana itu sendiri. Hal yang dimaksud adalah tentang kota-kota fiktif yang menjadi latar tempat dalam sebuah karya sastra—entah itu puisi, cerpen, maupun novel. Dan bagi para pembaca karya sastra, misteri-misteri tentang kota Saranjana bisa jadi sudah begitu lekat. Karena telah banyak juga kisah-kisah tentang suatu tempat misterius yang termaktub dalam sebuah karya sastra, dan tempat-tempat itu pula acapkali menghadirkan pesona yang bermacam-macam.

    Ambil contoh misalkan wilayah Macondo yang jadi latar novelnya Gabriel Garcia Marquez berjudul One Hundred Years of Solitudei, atau yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni Seratus Tahun Kesunyian. Di wilayah Macondo sendiri, dikisahkan kehidupan keluarga Jose Arcadio Buendia. Macondo sendiri adalah sebuah wilayah yang terusun dari lempeng mitologi, menyimpan pergerakan mimpi, himpunan fantasi serta religi, hingga sebuah wilayah yang pepat dengan perkara-perkara magis yang menakjubkan.

    Keluarga Buendia yang bermukim di wilayah Macondo pada mulanya tinggal di sebuah kampung yang dihuni oleh seorang hantu penggemar sabung ayam gentayangan yang bernama Prudencio Aguilar. Riwayat Prudencio sendiri dikisahkan mati karena tertancap tombak di leher akibat dari sebuah kelakarnya sendiri. Keluarga Buendia sendiri bisa dibilang cukup ganjil sekaligus memikat.

    Pasalnya di wilayah Macondo, konservatisme dan liberalisme ada dalam satu ceruk yang sama. Dan hasil dari kawin silang itu adalah sebuah gairah hidup yang meletup-letup. Elan modernisme berkelindan langsung dengan sikap tradisional yang turut serta menyelubungi babakan demi babakan. Para tokoh yang dikisahkan hidup di wilayah Macondo datang dari akulturasi budaya dunia yang luas. Dari sekelompok gipsi yang piawai bermain sulap, sang pembuat perkamen, pedagang dari negara Arab, hingga seorang kapitalis pemilik perusahaan pisang yang melakukan genosida pada buruh-buruhnya: semuanya hidup beriringan di wilayah Macondo.

    Misal jika mesti menarik tiga peristiwa yang menjadi guncangan terbesar bagi masyarakat Macondo, ketiganya punya pengaruh pada bagaimana pesona Macondo sendiri. Pertama, tentu saja Macondo sebagai medan palagan atau peperangan yang telah berlangsung dalam kurun waktu puluhan tahun. Kedua, wabah penyakit lupa sekaligus kegemaran makan pisang yang menjangkiti masyarakat Macondo. Dan yang terakhir adalah ambisi turun-temurun yang diwariskan oleh sang Jose Arcadio Buendia pada anak cucu serta cicitnya. Sampai sini, kita bisa menelingsut sejauh mana pesona magis sekaligus menakjubkan dari wilayah Macondo hadir layaknya Saranjana di benak sebagian masyarakat Indonesia.

    Itu baru wilayah Macondo yang kiranya bisa disandingkan dengan Saranjana. Selain itu ada lagi satu kota fiktif dalam sebuah karya novel yang tak kalah magisnya dengan kisah Saranjana maupun Macondo. Kota yang dimaksud adalah kota tanpa nama yang menjadi latar dari novel Blindness karya Jose Saramago. Apalagi yang dikenal dari kota tanpa nama di novel Saramago ini selain epidemi kebutaan yang tiba-tiba melanda seantero negeri.

    Aktivitas seluruh kota betul-betul lumpuh total. Masyarakat yang terjangkit epidemi kebutaan itu dilanda kelaparan dan kehilangan sanak familinya masing-masing. Deskripsi yang dihadirkan Saramago tentang kota itu betul-betul chaos. Otoritas tertinggi yang diwakili oleh menteri dan militer segera mengambil sikap. Mereka yang terjangkit, digelandang ke bangsal-bangsal kumuh.

    Ada pula yang diisolasi di sebuah bangunan bekas rumah sakit jiwa. Semua kian terasa kacau ketika orang-orang itu hanya didorong oleh keinginan makan dan buang hajat. Lebih sakleknya, orang-orang yang terjangkit kebutaan di kota tanpa nama itu seakan kembali menjadi hewan yang dipaksa berpikir, selepas menanggalkan status sosial serta fantasinya akan individu modern yang kholistik.

    Dalam novel setebal 487 halaman itu, Saramago dengan cerkasnya menghadirkan suatu wahana yang magis sekaligus ironis, jika bukan malah kekalutan massal akan sebuah epidemi.

    Kini jika kembali lagi pada kisah kota Saranjana sekaligus wilayah Macondo, kota tanpa nama dalam novel Saramago pun nyaris mempunyai pesona yang sama. Dengan pelbagai deskripsi, peristiwa, topografi, bahkan hingga karakter-karakter para tokohnya: semuanya menyiratkan ihwal perkara yang magis kerap kali bisa bertaut dengan wahana-wahana lain semisal ironi dsb.

    Peristiwa-peristiwa di Saranjana yang dikisahkan dari mulut ke mulut masyarakat Kalimantan Selatan tak kalah janggal, dan nyaris menautkan juga pada bagaimana peristiwa-peristiwa yang dialami setiap tokoh di novel Gabo dan Saramago. Misal pernah ada masyarakat Kotabaru yang raib tanpa jejak saat memasuki Saranjana. Konon orang itu sengaja diambil oleh masyarakat Saranjana untuk dijadikan imam. Atau kisah nelayan yang lenyap di laut dekat kota Saranjana dan tak pernah kembali lagi setelahnya.

    Kini ketika kota Saranjana kian dipebincangkan sebagai kota yang menyimpan pesona magis, tentu akan banyak pula orang-orang yang siap merogoh kantungnya untuk mengunjungi wilayah itu. Tidak seperti Macondo atau kota tanpa nama dalam novel Saramago yang bisa kita akses dengan membaca bukunya. Saranjana adalah wahana yang lagi-lagi menambah khazanah Indonesia sendiri dalam sentra wilayah ramah hantu setelah Desa Penari dan wilayah-wilayah lain yang diprediksi bakal muncul lebih banyak di waktu yang akan datang.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.