5 Fakta Bahu Begum, Drama India Terbaru yang Dibintangi Samiksha Jaiswal dan Diana Khan - Seleb - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Selasa, 28 Januari 2020 10:12 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Bahu Begum, Drama India Terbaru yang Dibintangi Samiksha Jaiswal dan Diana Khan

    Dibaca : 3.738 kali

    Telah tayang semenjak 15 Juli 2019 dan telah usai merampungkan pada 21 Januari 2020 di India, Bahu Begum pun mampu menarik minat penggemar drama India di Indonesia. Berkisah tentang kehidupan Azaan, Sharya, dan Noor yang terikat dalam hubungan yang begitu pelik dan rumit, kisah cinta dan kehidupan mereka dihadapkan dengan beberapa kejadian.

     Lewat kejadian-kejadian tersebut membuat mereka harus kehilangan dan berpisah dengan orang tersayang karena keadaan yang semakin gila. Situasi di mana Sharya yang dipaksa untuk berpisah dengan Azaan dan Noor yang kehilangan sang tunangan beserta ibu tunangannya, merupakan bentuk kepedihan yang dirasa. Apakah ketiganya mampu melanjutkan hidup yang begitu menyiksa ini?

    Dibalik kisah mereka bertiga, terdapat lima fakta menarik yang perlu untuk diketahui terlebih dahulu. Mau tahu? Berikut ini fakta-faktanya:

    1. Alur ceritanya layaknya kisah nyata

    Membawa alur cerita tentang jalinan kisah cinta yang rumit antara tiga kepala, membuat drama ini sangat cocok untuk disajikan di Indonesia. Cinta segitiga yang hadir karena unsur kesalahpahaman ini memang tidak bisa dihindari ketika sudah terjerumus ke dalam masalah tersebut. Meski sudah menguatkan dengan beberapa pernyataan, nyatanya Azaan dan Sharya harus rela menjalani kisah rumah tangga yang tidak semanis sebelumnya.

    2. Kisah jalinan cinta yang rumit

    Seperti yang telah disinggung di atas, bahwasanya kisah antara ketika tokoh Bahu Begum begitu rumit. Azaan yang menikah dengan Sharya seusai merampungkan studinya di London dan masih mengecap manisnya berumah tangga, harus menikah kembali dengan teman kecilnya, Noor dan menjadikannya istri kedua.

    Sharya yang dituduh sebagai dalang pembunuhan ibu dan tunangannya, diminta untuk merelakan suaminya dengan menceraikannya. Meski bukan Sharya yang bersalah, tetapi Noor tetap ingin Sharya memberikan sang suami Azaan kepada dirinya. Noor yang sebelumnya memiliki sifat begitu baik kepada Sharya, berubah 180 derajat pasca kehilangan ibu dan tunangannya.

    3. Arjit Taneja kembali menghiasi layar kaca

    Pecinta drama India mana yang tak kenal dengan sosok Arjit Taneja? Lelaki India yang begitu tampan dan mahir berakting ini menjadi kesukaan para kaum hawa di Indonesia. Kembali lagi hadir dengan membawa cerita yang berbeda, Bahu Begum dinanti-nanti karena keterlibatan Arjit di dalamnya. Selain itu, kecantikan Samiksha Jaiswal sang istri kedua Azaan dan Diana Khan sang istri pertama pun akan turut serta meramaikan drama yang memiliki 134 episode ini.

    4. Tayang setelah Swabhimaan

    Akan menemani penggemar drama India setelah drama Swabhimaan, langsung digantikan dengan kehadiran Bahu Begum di channel TV ANTV. Akan tayang pada 28 Januari 2020 mendatang pukul 14.30, Bahu Begum diperkirakan akan memangkas waktu penanyangan Kasam. Dengan hadirnya Bahu Begum akan membuat ANTV memiliki tiga slot penayangan drama India, dimulai dari pagi sampai sore hari.

    5. Besarnya antusiasme penonton Indonesia

    Setelah memberikan pengumuman bahwa Ajrit Taneja akan kembali meramaikan jagat drama India di ANTV dalam drama bertajuk Bahu Begum, antusiasme pemirsa setia ANTV tidak bisa dibendung. Besarnya antusiasme tersebut membuat banyak yang tak sabar menyaksikan kebolehan akting ketiganya. Kira-kira akan seperti apa ya kisah ketiganya?

    Itulah sekilas sinopsis drama Bahu Begum antara Azaan, Sharya, dan juga Noor beserta dengan lima fakta menariknya. Jangan lupa untuk menyaksikan Bahu Begum yang akan tayang besok siang, ya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 449 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin