Demokrasi Menjadi Sarang Otoritarianisme - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mahmud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Oktober 2019

Rabu, 29 Januari 2020 10:15 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Demokrasi Menjadi Sarang Otoritarianisme

    Dibaca : 456 kali

    Mengidentifikasi problem demokrasi hari ini cukup kompleks. Tidak cukup melihat demokrasi dengan definisi yang baku dan normatif, sebagaimana yang dipahami pada umumnya. Keutuhan demokrasi itu dilihat dari keseimbangan antara teoritis dan prakteknya.

    Problem terjadi kesenjangan teori demokrasi dengan praktek politik demokrasi ini menimbulkan semacam chaos dalam demokrasi. Fariasinya banyak; mulai dari janji politik bohong, pemimpin yang korup, dan tirani pemimpin penindas, penghisap, dan eksploitasi. Hal ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat, apa pun yang dibicarakan oleh pemerintah, bohong.

    Politik demokrasi hari ini mengalami degradasi moral. Akibatnya, eksistensi demokrasi menjadi cacat dan mandul, tidak terarah. Kekacauan orientasi demokrasi semacam inilah sering menjadi alat untuk dipolitisir elit politik dan aktivis intelektual untuk kepentingan pragmatis. Bukan fokus mencerahkan publik, tapi justru menciptakan chaos dalam masyarakat.

    Melihat politik demokrasi hari ini, ada yang kacau, yaitu pasti ada yang kontradiksi antara teori demokrasi sebagai wujud abstraksi keinginan masyarakat untuk mencegah supaya demokrasi tidak menjadi mayoritas dan praktek demokrasi sebagai delegasi rakyat untuk menjalankan mandataris. Dengan mandataris inilah ketimpangan muncul di dalamnya, kekuatan dibentuk oleh kepercayaan, tidak adanya pengawasan yang ketat, dan dihidupkan oleh kebodohan masyarakat terhadap dunia politik dan demokrasi. Ali-alih demokrasi menjadi sarang otoritarianisme.

    Gejala Awal Otoritarianisme

    Mimpi hidup di neraka itu baru mimpi bukan kenyataan dan bukan penindasan. Hidup dalam pemerintahan yang otoriter itu sangat nyata dan penindasan yang nyanta.

    Sebagai fakta, otoriter itu benar adanya, tetapi sebagai kesadaran sosial, otoriter itu dikatakan sebagai ketegasan. Jadi, demokrasi otoritarienisme semacam inilah seolah-olah demokrasi diterima oleh rakyat dengan kesadaran palsu. Layaknya seorang kekasih mencubit dikatakan tidak sakit. Hakikatnya, memang sakit, tapi karna dilakukan dalam percintaan menjadi manis.

    Sekarang pemerintah menjadi otokritik, negara menjadi kebenaran tunggal, apa-apa yang dilakukan oleh negara itu diterima sebagai kenyataan yang ideal demi hajat hidup orang banyak, demi bangsa. Diucapkan oleh pemerintah, padahal kritik itu bentuk lain dari cinta, terbuka untuk sama-sama menerima kebenaran dan memperbaikinya.

    Pemerintah tidak bisa dikritik. Orang yang kritik terhadap negara membahayakan negara. Di cap makar, stigma radikalisme, oposisi fanatik. Jadi, kalau pemerintah tidak bisa dikritik itu alamat negara tidak ingin maju, hancur, dan itu membuktikan bahwa negara itu otoriter. Iya, kalau pemerintah hanya sekedar janji politik bohong, korup, dan tirani. Jelas pemerintah mesti harus di kritik.

    Sekarang kita melihat asal-usul dari otoritarienisme. Garis penghubung (ikatan, sistem) manusia hidup bersama. Berkembang dan maju bersama menyambut cita-cita hidup. Dibentuklah rambu-rambu dalam wujud sistem, demokrasi, dan negara untuk mengatur lalu lintas hubungan manusia.

    1. Menggantungkan Diri pada Manusia

    Menggantungkan diri pada manusia, bersiaplah untuk disandera, bahkan kesalahan yang Anda gantungi Anda membenarkan (bukan membutuhkan). Hajat personality diserahkan secara totalitas kepada orang lain untuk mengendalikan dan memutuskan kepentingannya. Demokrasi tidak begitu, kepentingan politik yang diserahkan. Hak politiknya, bukan basis dasar kemanusiaannya. Dalil otoritarienisme menggantungkan hidup pada orang lain Itu penyesatan sebagai sifat dasar kemanusiaan.

    2. Pemujaan Berlebih terhadap Pemimpin

    Orang mati-matian membela pemimpin pujaan garis fanatik. Dalam bahasa agama hidup dan matinya diserahkan untuk membela sang pujaan (pemimpin). Fokusnya orang, bukan pada perbuatannya. Sudah adilkah atau tidak?

    Korupsi juga manusia. Dilihat sebagai kelemahan manusia sehingga "ditolerir". Kecintaan terhadap pemimpin dicarilah alasan untuk merasionalisasikan perbuatannya sehingga menjadi benar. Bukannya dilihat apakah perbuatannya salah atau benar. Dibenarkan dulu itu pemimpin atas kultus fanatisme terhadap pemimpin. Belakangan di cari-cari alasan, bahasanya dibelakang hukum diajak selingkuh.

    3. Memberikan Kepercayaan Penuh kepada Pemimpin

    Formulasi kepercayaan yang dipegang pada utusan sebagai mandataris itu kepentingan politik. Saya tidak menjamin utusan bisa dipercaya. Dengan alasan kemanusiaan, ia bisa saja berbohong, mengelola seolah-olah kelihatan benar, dan manipulasi salah menjadi benar.

    Jaraknya berbeda, jauh. Check and balence tidak seimbang. Buktinya eksekutif yang lebih kuat. Banyak mengambil peran dalam mengelola negara.

    Negara dan hukum memihak. Eksistensi negara dan hukum diragukan keadilan. Evolusi masyarakat perbudakan (majikan, budak) bergeser ke masyarakat foedalisme (bangsawan, rakyat jelata) menjadi kapitalisme (borjuasi, proleteriat) melahirkan negara. Rentetan hirerki perkembangan masyarakat ini kita bisa melihat dimanakah posisi negara dan hukum?

    Negara lahir dari rahim kapitalisme. Adanya negara untuk melanggengkan kapitalisme, mempertahankan status qou. Kapitalisme mendapatkan angin segar untuk memperluas dan menyesuaikan dirinya. Perselingkuhan antara kapitalisme dan negara inilah saling "memanfaatkan". Hukum juga demikian, sudah menjadi rahasia umum.

    Kesadaran Tauhid

    Manusia sebagai makhluk, Tuhan sebagai khalik. Basis dasar manusia itu pemimpin. Hirerki antara manusia dan Tuhan adalah hirerki vertikal. Pencipta dan makhluk. Dengan sifat dasar manusia sebagai pemimpin ini tidak ada hirerki manusia dengan manusia. Hubungannya horizontal, yaitu hubungan makhluk dengan makhluk, manusia dengan manusia.

    1. Bentukan Teologi

    Manusia sebagai bentukan teologi (ciptaan Tuhan), hubungan pencipta dan yang diciptakan itu hubungan penghambaan, Tuhan memberikan mandat sebagai pemimpin kepada manusia untuk mengelola bumi. Mandat ini tidak bisa ditarik oleh manusia atas mandataris sebagaimana mandataris manusia. Kepemimpinan ini diberikan oleh Tuhan.

    Lalu, siapakah yang bisa menarik mandat ini? Saya tidak tahu, hanya Tuhanlah yang tahu. Akal saya begitu luar biasa tidak mampu menggambarkan itu.

    Manusia itu sama, sama sebagai makhluk. Dihadapan manusia pembedanya; fungsi dan atribut. Sebagai pencipta Tuhan melihat makhluknya equality. Sebagai hamba, Tuhan melihat manusia dari ketakwaan. Hanya itu perbedaannya, selebihnya bentukan antropologi.

    2. Bentukan Antropologi

    Pemimpin dipilih oleh kelompok orang untuk mewakili kelompoknya. Dibentuk dari konfeksi sosial, kesepakatan-kesepakatan. Ia bertanggungjawab penuh terhadap persoalan yang muncul ditengah masyarakat. Ia menjadi pelayan. Pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat akan tercermin pada kebijakan yang dikeluarnya.

    Pemimpin sebagai pelayan masyarakat. Pemimpin itu "budak", masyarakat itu majikan. Apa yang istimewa dengan pemimpin itu? Ia pelayan bagi masyarakat. Pelayan yang dibentuk dari konfeksi sosial sebagai utusan untuk mewakili sebagian kepentingan politiknya. Dalam menjalankan delegasinya bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan ia bisa ditarik mandatnya. Kalau tidak sadar diri turun, ditumbangkan.

    Manusia Memimpin Manusia

    Manusia memimpin manusia merupakan lanjutan dari pemimpin bentukan antropologi. Bentukan antropologi ini membentuk hirerkis pada manusia. Tidak terlihat kontradiksi dari sudut kepentingan politik, tapi kalau itu diselewengkan (praktek) ia akan kontradiksi dengan sifat kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa demokrasi hari ini kacau, ambur adur, dan tidak jelas.

    Hirerki kemanusiaan ini memposisikan manusia memerintahkan manusia. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Ada majikan, ada budak. Ada yang kuat, ada yang lemah. Akibatnya apa? Tirani, tindas menindas. Siapa yang paling kuat itulah yang menang dan akan mendapatkan jatah hidup yang mewah.

    Demokrasi

    Satu sisi demokrasi melihat manusia itu sama. Sisi lain demokrasi membentuk hirerki manusia. Demokrasi melihat orang yang tidak ikut partisipasi politik menanggung beban demokrasi.

    Demokrasi melihat manusia one man one vote (satu orang satu suara). Dalam demokrasi apakah ia presiden, raja, majikan, budak, ulama, dan sejenisnya, dengan fungsi dan atributnya masing-masing, tetap saja dilihat sama. Demokrasi menyamaratakan semuanya, ia bodoh atau cerdas, itu demokrasi.

    Melihat manusia itu sama pada demokrasi ada semacam kantradiksi dengan pembentukan hirerki pemimpin dan rakyat. Dalam politik demokrasi awalnya manusia sama, lama-lama dalam kalkulasi politik melahirkan hirerki. Ini jelas terlihat chaos dalam demokrasi. Akibatnya, one man one vote dan hirerki menularkan beban demokrasi pada orang yang tidak ikut berpartisipasi. Dinikmati sepehik, beban ditanggung bersama.

    Ukuran benar-salah, kalah-menang ditentukan oleh suara mayoritas. Kemenangan bukan ditentukan pada kebenaran. Suara mayoritas bisa saja dibeli, tidak peduli apa itu benar atau salah, lahap saja. Itu dalil demokrasi hari ini. Jadi semacam otoritarienisme yang dikemas dalam format demokrasi.

    Yogyakarta, 3 Juli 2018


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 556 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin