Ketahui 2 Jenis Kayu untuk Plafon Kayu - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Haq Rifki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Januari 2020

Rabu, 5 Februari 2020 14:03 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Ketahui 2 Jenis Kayu untuk Plafon Kayu

    Dibaca : 425 kali

    Plafon kayu untuk Rumah - Bahan material untuk mendekorasi rumah yang dibuat dengan menggunakan material kayu tentunya banyak sekali, salah satunya adalah plafon kayu. Sesuai dengan namanya plafon ini dibuat menggunakan material kayu alam seperti bengkirai ataupun keruing.

    Kayu yang digunakan tentunya bukan sembarangan, dalam artian harus ada spesifikasinya tersendiri. Kayu untuk plafon kayu ini harus memiliki tingkat kekerasan yang tinggis sekaligus memiliki beban yang tidak terlalu berat. 

    plafon kayu solid

    Di Indonesia sekarang ini sudah banyak penjual plafon kayu yang bertebaran, anda bisa mencarinya di toko - toko lantai kayu di daerah sekitar anda. Penggunaan plafon kayu bisa dipasangkan untuk area langit - langit rumah ataupun penutup tembok dinding. Untuk perawatannya plafon kayu ini tidaklah terlalu rumit, selain itu apabila warna permukaan mulai terlihat kusam anda juga bisa mewarnai ulang guna menjadikannya kembali terlihat fresh seperti baru kembali.

    Kayu Bengkirai dan Keruing untuk Plafon Kayu

    Kayu bengkirai adalah salah satu jenis kayu yang banyak tumbuh di daerah hutan tropis. Di Indonesia kayu bengkirai ini banyak tumbuh di pulau Kalimantan. Kayu yang satu ini juga biasa disebut yellow balau karena warnanya yang memang cenderung kuning dengan campuran krem.

    Kekuatan dari kayu bengkirai ini hampir setara dengan jenis kayu jati, durabilitasnya cukup tinggi. Karena hal tersebut maka bengkirai ini banyak digunakan untuk bahan dasar plafon kayu.

    plafon kayu solid

    Kayu keruing, adalah jenis kayu yang juga memiliki tingkat durabilitas yang tinggi oleh karena itu selain dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plafon. Kayu keruing juga banyak dipakai sebagai bahan dasar untuk konstruksi rumah ataupun jembatan. Kayu keruing ini banyak tumbuh di benua Asia tenggara seperti India, Malaysia, Thailand hinggi Indonesia tentunya.

    Nah Kedua jenis kayu tersebut memang lebih banyak digunakan sebagai bahan dasar plafon kayu karena memang durabilitas dan kekuatannya yang bisa diandalkan. 

    Fungsi dari plafon kayu ini sebenarnya sama saja dengan plafon lain pada umumnya, yaitu untuk menutupi bagian langit-langit rumah dan melindungi ruangan dari kotoran seperti debu yang berasa dari atap. Anda juga bisa memasangkan plafon kayu di bagian dinding contohnya dipasangkan di ruang tamu, ruang kerja ataupun bisa juga di sauna. Dengan plafon kayu maka ruangan akan lebih terasa menyejukan karena bahan dasarnya adalah kayu dan juga lebih artistik. 

    Alternatif selain Plafon Kayu Solid

    Di pasaran sekarang ini selain plafon kayu solid juga tersedia jenis plafon lain yang bisa anda dapatkan dengan harga yang lebih murah, yaitu plafon kayu pvc. Dari namanya saja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa plafon ini dibuat dengan bahan dasar kimia yang di olah sedemikian rupa. Plafon pvc ini tersedia dengan berbagai motif dan salah satunya adalah motif kayu.

    Sekian saja artikel mengenai Plafon kayu yang bisa diberikan, semoga bermanfaat untuk anda sekalian.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 451 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin