K3 dalam Bidang Pertanian - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sulaiman nur Rahman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Mei 2020

Senin, 12 Oktober 2020 12:29 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • K3 dalam Bidang Pertanian

    Ada banyak risiko yang harus dihadapi oleh pekerja di sektor pertanian baik itu keamanan, kesehatan, lingkungan, biologis, dan pernapasan.

    Dibaca : 510 kali

    K3 Adalah Singaktan dari Kesehatan dan keselamatan Kerja. Ada banyak risiko yang harus dihadapi oleh pekerja di sektor pertanian baik itu keamanan, kesehatan, lingkungan, biologis, dan pernapasan. Peralatan pertanian lagi dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja di sektor pertanian dan beberapa faktor lainnya. Berikut ini beberapa risiko kerja yan harus dihadapi oleh pekerja di bidang pertanian:

    1. Kecelakaan pada kendaraan pertanian

    Menurut laporan kecelakaan akibat kendaraan pertanian banyak terjadi dan hampir setengahnya menyebabkan kecelakaan deadly. Luka yang diakibatkan oleh kendaraan pertanian lagi bisa serius. Misalnya saja traktor dan kendaraan penyimpanan. Traktor pertanian dilaporkan menyebabkan kematian 1.533 orang antara tahun 2003 dan 2011, dan menyebabkan pekerja luka-luka. Cara aman untuk menghindarinya yaitu dengan mengikuti beberapa langkah berikut:

    • Tidak mengizinkan penumpang lain mengendarai kendaraan pertanian
    • Tidak mengizinkan orang yang tidak berkepentingan masuk ke space aktivitas pertanian
    • Mematikan kendaraan saat diisi bahan bakarnya
    • Parkir kendaraan saat tidak ada sopir di dalamnya, kendaraan harus dalam keadaan mati.

    Sedangkan untuk kendaraan penyimpanan sebaiknya tidak menempatkan di dekat rumah penyimpanan. Yakinkan bahwa kendaraan akan sederhana keluar dari tempat penyimpanan, jalannya rata dan bersih dan tidak mengizinkan orang lain yang bukan pekerja dan anak-anak berada di tempat penyimpanan.

    1. Kepanasaan

    Penyakit yang disebabkan oleh kepanasan dapat mematikan. Per tahunnya ribuan pekerja sakit karena kepanasan dan bahkan beberapa meninggal. Pekerja yang terpapar panas dan dalam keadaan lembab memiliki risiko tinggi terkena penyakit terutama jika mereka melakukan kerja yang berat dan pakai baju pelindung berat dan peralatan.

    Pekerja yang baru lagi memiliki risiko yang lebih besar dari lainnya jika mereka tidak tahan dengan kondisi panas. Untuk mencegah terserang kelelahan dan penyakit karena kepanasan maka perlu banyak minum air, beristirahat, dan berteduh. Jika dalam keadaan terpapar panas matahari maka minum air per lima belas menit meskipun tidak sedang harus. Beristirahatlah jika merasa lelah, istirahat dilakukan di tempat yang teduh. Sebaiknya memberitahu lokasi pada pekerja lain sehingga dapat dengan sederhana ditemukan jika membutuhkan bantuan.

    1. Jatuh

    Pekerja di bidang pertanian berisiko terjatuh hingga dapat terluka atau bahkan meninggal. Tempat kerja yang kadang tidak rata dan struktur tanahnya tidak kuat dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Cara untuk mengatasinya antara lain:

    • Mengeliminasi risiko
    • Menempatkan alat pencegah jatuh
    • Memakai sistem posisi kerja
    • Mengunakan tangga tetap atau moveable
    1. Luka pada otot dan tulang

    Pekerja di bidang pertanian baik itu pertanian tanaman dan produksi hewan cenderung pakai gerakan yang berulang dengan posisi yang kurang nyaman sehingga dapat menyebabkan luka pada bagian otot dan tulang. Misalnya saja saat harus membungkuk terus-menerus waktu menanam atau mencangkul.

    Teknologi pertanian dapat mengurangi risiko akibat aktivitas pertanian tersebut namun dapat meningkatkan risiko jenis lainnya. Misalnya saja peternak susu sapi tradisional dapat berisiko menderita osteoarthritis pada lututnya, setelah pakai teknologi maka hasilnya malah terjadi gangguan pada bahu, tangan, dan lengannya. Pekerja perlu pakai alat yang layak, tambalan untuk mengurangi vibrasi, dan mengurangi aktivitas yang berulang-ulang untuk menghindari risiko sakit pada otot ini.

    1. Peralatan berbahaya dan mesin

    Pekerja pertanian secara rutin pakai pisau, cangkul, dan alat potong lainnya, atau pakai mesin. Peralatan tersebut dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja jika tak beroperasi dan dioperasikan dengan baik. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

    • Semua alat harus dirawat dengan baik dan digunakan sesuai dengan instruksinya.
    • Peralatan yang pakai listrik herus ditempatkan dengan benar dan dilapisi dua kali.
    • Pekerja pertanian/peternakan harus pakai alat pelindung diri dan memeriksa pakaiannya tidak ada yang berpotensi dapat tersambar oleh mesin. Rambut yang panjang perlu diikat ke belakang.
    1. Bahaya di tempat penyimpanan

    Tempat penyimpanan hasil panen memang tampak aman namun tetap memiliki risiko kerja. Pekerja dapat mengalami kekurangan napas saat berada di tempat penyimpanan dan tertimbun oleh hasil panen tersebut. Hal ini tentu sangat berbahaya sehingga posisi hasil panen harus benar-benar aman dan tidak mencelakakan para pekerja.

    1. Lingkungan kerja yang kurang sehat

    Pekerja yang kurang minum air, fasilitas sanitasi yang buruk, dan tidak terbiasa mencuci tangan dengan benar dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Pekerja pertanian dapat terserang warmth stroke dan dehidrasi kerana tidak bisa air, infeksi pada saluran kencing karena rest room yang tak layak, dan keracunan karena tidak mencuci tangan dengan bersih.

    1. Pestisida dan zat kimia lain

    Pestisida berisiko menjadi sumber penyakit bagi para pekerja. Pekerja yang terkontaminasi oleh pestisida dapat melalui kontak langsung, udara, ataupun melalui makanan yang terkontaminasi oleh pestisida. Perlu dilakukan pelatihan khusus bagi para pekerja terutama yang melakukan kontak langsung dengan pestisida dan zat kimia lainnya agar dapat bekerja dengan aman.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 392 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.