Bila Pemimpin Bermuka Dua, Rakyat Bermuka Berapa? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Bermuka dua

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 31 Oktober 2020 10:48 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bila Pemimpin Bermuka Dua, Rakyat Bermuka Berapa?

    Siapa yang terus melahirkan generasi bermuka dua, berkaki dua, dan penjilat di negeri ini? Bukankah seharusnya lahir generasi penerus bangsa yang berkarakter, cerdas intelegensi dan emosi hingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur? Tanpa perlu dijelas-jelaskan, tentu masyarakat tahu jawabnya siapa kelompok orang-orang yang tak pandai bersyukur dan jauh dari amanah ini. Dan yang patut disesalkan, kelompok orang-orang yang aktif berkaki dua, bermuka dua, dan bertopeng ini lekat dan dekat dengan "kekuasaan", sehingga sepak terjang mereka selalu "aman" dari hukum di dunia dan lupa ada hukum kekal dalam kehidupan yang abadi.

    Dibaca : 498 kali


    Hari Kamis, (29/10/2020) tepat di hari Libur Nasional, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ada sebuah judul berita di media massa online dengan diksi "bermuka dua". Ternyata judul itu memberitakan tentang kegemasan pemimpin tertinggi partai politik di Indonesia karena kadernya banyak yang "bermuka dua", bahkan berkaki dua.

    Sejatinya, persoalan ungkapan bermuka dua, berkaki dua yang tidak berbeda dengan ungkapan "bertopeng" atau "berpura-pura" karena tidak menjadi dirinya sendiri ini, bukanlah fenomena baru. Namun, hal ini justru sudah menjadi tabiat manusia yang karakternya tak berbudi pekerti luhur, karena terus diwarisi oleh generasi pendahulunya.

    Biasanya, manusia atau orang yang berperilaku bermuka dua, berkaki dua, bertopeng, berpura-pura adalah mereka yang tidak dapat memerankan menjadi dirinya sendiri karena berbagai latar belakang dan tujuan, serta hati dan pikirannya dipenuhi oleh ambisi. Mereka orang-orang cerdas intelegensi dan emosi, tapi berakal licik yang bila dianalogikan dengan ungkapan, bila rakyat biasa untuk makan saja susah hingga pertanyaannya menjadi "Hari ini bisa makan atau tidak?" Berbeda dengan kelompok ini yang pertanyaannya "Hari ini makan siapa?"

    Bahkan kini selain perilaku ini sangat lekat pada individu elite partai politik, perilaku bermuka dua ini pun sudah mulai membudaya pada masyarakat sejak gelaran Pilkada DKI dan Pilpres yang tentu dapat ditebak zaman siapa.

    Namun, yang kini sangat mencolok adalah sikap masyarakat yang tidak lagi menjadi dirinya sendiri dan terbelah dan terus berseteru karena peristiwa politik dan beda junjungan.

    Di luar urusan politik, orang-orang macam ini juga "berceceran" karena mereka hanya mengejar gengsi, kemewahan hidup, dan gaya hidup yang tak mau kalah dengan orang lain.

    Sejatinya, ketika kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana rasanya ketika saya harus berpura-pura menjadi orang lain? Bukan menjadi diri sendiri. Lalu, memerankan tokoh dalam kehidupan nyata menjadi bermuka dua, berkaki dua, dan berpura-pura karena ada latar belakang dan tujuan yang dasarnya tidak sesuai dengan pikiran dan hati nurani saya dan bertopeng.

    Dari pikiran dan hati saya terdalam, sebab saya sering memerankan tokoh lain dalam pentas drama panggung, bukan drama dalam kehidupan nyata, saya merasakan aneh, tidak santai, terlebih wajib bertanggungjawab atas kualitas peranan saya sesuai karakter tokoh seperti aslinya.

    Pertanyaannya, kira-kira bagaimana dengan orang-orang yang dalam kehidupan nyata harus memerankan diri sebagai orang yang bertopeng, bermuka dua, berkaki dua, dan hidupnya penuh kepura-puraan yang lebih dari sandiwara di atas panggung drama?

    Apakah sepanjang hidupnya orang-orang semacam ini akan tenang, nyaman?Terlebih harus selalu tampil dalam kepura-puraan, kebohongan, dan kepalsuan, terlebih selalu dikejar-kejar ketakuatan di balik topeng dan kepura-puraannya karena tidak mau orang lain tahu. Apalagi bila orang ini sudah masuk kategori penjilat dan hukum selalu menantinya?

    Untuk itu, bagi orang-orang yang belum terlalu jauh memerankan diri dalam kepura-puraan, berkaki dua, bermuka dua atau bertopeng apalagi menjadi penjilat, demi memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok atau golongan dengan cara instan, maka dapat dipastikan selama menjalani kepalsuan dan bertopeng tak pernah tenang dan nyaman. Selalu dikejar-kejar bayangan dan kesalahan karena menjalani hidup sebagai dirinya sendiri. Menjadi diri orang lain karena ambisi pribadi atau dimanfaatkan oleh pihak lain demi kepentingan politik dan lainnya.

    Biasanya, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tak melihat dirinya dan tidak mau menerima dirinya sendiri seperti apa adanya.

    Mereka juga biasanya adalah orang-orang yang sangat mengenal dirinya sendiri siapa, sehingga mampu menerima peran menjadi orang lain, pura-pura, bermuka dua, berkaki dua, dan bertopeng karena sangat memahami kelemahan dan kekuatan dirinya dan cerdas berinteraksi.

    Mereka juga orang-orang yang tak pernah kawatir terhadap apa yang orang lain katakan atau pikirkan. Mereka fokus pada sasaran sesuai peranan yang sedang dimainkan, serta sangat mencintai dunia kepura-puraan, dunia bertopeng demi mendapatkan kepuasan dan keuntungan pribadi dan golongan sesuai arah dan tujuannya.

    Meski kehidupannya lebih sering menjadi alat bagi pihak tertentu, sebagai pion bagi junjungannya, tapi karena saling menguntungkan, mereka sangat menikmati semua peranannya yang benar-benar jauh dari kehidupan aslinya.

    Siapa yang terus melahirkan generasi bermuka dua, berkaki dua, dan penjilat di negeri ini? Bukankah seharusnya lahir generasi penerus bangsa yang berkarakter, cerdas intelegensi dan emosi hingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur? Tanpa perlu dijelas-jelaskan, tentu masyarakat tahu jawabnya siapa kelompok orang-orang yang tak pandai bersyukur dan jauh dari amanah ini.

    Dan yang patut disesalkan, kelompok orang-orang yang aktif berkaki dua, bermuka dua, dan bertopeng ini lekat dan dekat dengan "kekuasaan", sehingga sepak terjang mereka selalu "aman" dari hukum di dunia dan lupa ada hukum kekal dalam kehidupan yang abadi.

    Bersyukurlah bagi orang-orang yang tetap menjadi diri sendiri. Meski terus dalam kondisi menderita dan kekurangan tak menjual harga diri demi ambisi hidup di dunia demi mengejar harta dan tahta. Dan, tetap dengan identitas sebagai rakyat biasa yang cerdas intelegensi-emosi, berkarakter dan berbudi pekerti luhur karena beriman dan dekat dengan Tuhan.

    Sehingga meski hidup serba susah dan kekurangan, namun dijalani dengan penuh rasa syukur, tenang, dan nyaman. Tidak dikejar-kejar oleh bayangan kesalahan yang pada saatnya baik di dunia dan akhirat wajib dipertanggungjawabkan.

    Memang tidak mudah untuk menjadi orang yang pandai bersyukur, tapi untuk mencoba dan memulainya tidaklah sulit terutama dengan selalu menyadari siapa diri kita.

    Bila pemimpin saja bermuka dua, rakyat akan diajak bermuka berapa?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.