Kisah Sedekah Anak SD dan Kang Asep - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

manfaat sedekah

Saprado yusuf ridho nasution سافرادو

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2020

Rabu, 2 Desember 2020 07:31 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kisah Sedekah Anak SD dan Kang Asep

    tentang sedekah

    Dibaca : 641 kali

    Sesudah Jum'atan kang Asep masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jama'ah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.

    Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue tradisional. Satu plastik harganya Rp 5 ribu. Kang Asep sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan dia beli satu plastik.

    Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dari kang Asep. Kebetuan dagangan si nenek masih banyak. Tak lama kemudian, kang Asep melihat seorang anak laki-laki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Diperkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.

    Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat kang Asep duduk.

    “Berapa harganya Nek?”

    “Satu plastik kue, Lima ribu nak,” jawab si nenek.

    Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribu dari kantongnya dan berkata, "Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

    Si nenek jelas sekali terlihat berbinar-binar matanya.

    “Ya Allah terima kasih banyak Nak. Alhamdulillah ya Allah Engkau telah kabulkan doaku untuk beli obat cucuku yang lagi sakit,” si nenek langsung jalan.

    Refleks kang Asep panggil anak laki-laki itu.

    “Siapa namamu ? Kelas berapa?”

    “Nama saya Ahmad, kelas 2, pak,” jawab dia sopan.

    “Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”

    ” Oh, tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”

    “Jadi, yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari Senin?,” tanya kang Asep semakin tertarik.

    “Betul Pak, jadi setiap Jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah, bahwa ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak,” anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

    Kang asep mengelus bahu anak itu, "Sejak kapan ibumu meninggal, Ahmad?”

    “Ketika saya masih TK, pak”

    Spontan air mata kang Asep menetes.

    “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Ahmad seru kang asep, ini aku ganti uang kamu yang Lima puluh ribu tadi ya…,” kata kang Asep sambil menyerahkan selembar uang Rp 50 ribu ke tangannya.

    Tapi dengan sopan Ahmad menolaknya dan berkata, “Terima kasih banyak, Pak, tapi untuk keperluan bapak aja. Saya masih anak kecil tidak punya tanggungan. Tapi bapak punya keluarga. Saya pamit balik ke kelas, pak”.

    Ahmad menyalami tangan kang Asep dan menciumnya.

    “Allah menjagamu, nak..,” jawab kang Asep lirih.

    Kang Asep pun beranjak pergi. Tidak jauh dari situ dia melihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas kang Asep kesana, dan melihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.

    Kang Asep bertanya kepada kasir berapa harga obatnya? Kasir menjawab, "Empat puluh ribu rupiah.”

    Kang Asep langsung menyerahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir. ”Ini saya yang bayar," kata dia. "Kembaliannya berikan kepada si nenek ini.”

    “Ya Allah, pak.”

    Belum sempat si nenek berterima kasih, kang Asep sudah bergegas meninggalkan apotik.

    Berbisik kang Asep dalam hatinya semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.

    Sahabatku sekalian ada kalanya seorang anak lebih jujur dari pada orang dewasa, ajarkanlah anak2 kita dari usia dininya tindakan nyata yang bukan teori semata.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.