Atas Nama Perjuangan Sad Boy, Mari Menolak Pola Kaderisasi Sugar Daddy - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi: omtimes.com

Rahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Februari 2021

Senin, 22 Februari 2021 13:39 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Atas Nama Perjuangan Sad Boy, Mari Menolak Pola Kaderisasi Sugar Daddy

    Istilah Sugar Daddy menurut British Dictionary adalah slang untuk orang kaya biasanya paruh baya yang memberikan hadiah mahal pada wanita muda sebagai imbalan persahabatan atau kenikmatan seksual. Tapi kenapa diksi itu kini tengah ramai dirembug di medsos-medsos? Apakah maraknya perbincangan sugar daddy itu cerminan dari dunia nyata? Benarkah fenomena om-om senang ini memiliki akar dalam tradisi di negeri kita?

    Dibaca : 591 kali

    Malam sudah tidak lagi muda, terpaksa dengan paruh kesadaran saya tetap menatap layar dan menari di susunan tombol-tombol laptop sambil sesekali menyeruput sisa kopi di meja yang sudah tentu tinggal dasar ampasnya. Tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi, notifikasi itu mengembalikan kesadaran saya yang hampir musnah. Ha, notifikasi WhattsApp?.

             “Kamu sudah tidur?”, pesan pertama.

    “Tau ga tadi pas aku di bandara ada Sugar Daddy minta nomor ku terus ngajak aku makan sambil pamerin jam tangan mewah, Iphone 12 Pro Max, sama katanya dia punya perusahaan juga di Pontianak,” pesan kedua menyusul dengan kabar yang tidak kalah aneh.

    Saya tau kawan ini baru menyelesaikan perjalanannya dari Bandung ke Pontianak, tapi kenapa ada makhluk yang bernama Sugar Daddy dalam ekspedisi perjalanannya, secara ia tidak terlalu nyentrik dalam berpakaian bahkan bisa dibilang sangat-sangat tertutup.

             “Terus gimana Lid?” centang dua biru. Jawab ku setengah sadar setengah penasaran.

    ***

    Istilah Sugar Daddy semakin ramai diperbincangkan di Indonesia setelah salah satu pengguna Twitter membawa istilah itu dalam cuitannya. Istilah ini diartikan oleh British Dictionary dengan Slang atau bahasa gaul yaitu orang kaya biasanya paruh baya atau pria tua yang memberikan hadiah mahal pada seorang muda sebagai imbalan atas persahabatan atau kenikmatan seksual.

    Sebenarnya istilah ini sudah sangat lama namun dengan bahasa yang berbeda seperti Om-Om Senang, Gadun, dan istilah lainnya merujuk pada makna yang sama. Namun demikian istilah Sugar Daddy juga bukan hal baru terlebih di negara asli istilah bahasa tersebut.

    Dictionary.com telah berhasil menjelajahi fenomena dalam budaya popular, dari Sugar Daddy tahun 1975 Fleetwood Mac hingga film Sugar Daddies tahun 2014. Jauh dari pada itu, dilansir dari kumparan.com menampilkan laporan dari Reporterherald, istilah Sugar Daddy disebut berasal dari kisah pernikahan seorang pengusaha gula yang kaya raya asal Amerika Adolph Spreckles dengan seorang wanita yang berumur 24 tahun lebih muda bernama Alma pada tahun 1908. Saya jadi ingat dengan mahakarya Pramoedya dalam bukunya Bumi Manusia, istilah ini sangat mirip dengan praktik pergundikan yang direpresentasikan oleh karakter Nyai Ontosoroh.

    Bahkan sangat mudah dilihat dari sosok pendiri majalah Playboy Hugh Hefner yang meninggal di usianya yang ke-91 tahun, disebut-sebut sebagai Sugar Daddy top dunia. Tidak dinyana di Indonesia sebagai penghasil Sugar Daddy terbesar di Asia dengan jumlah 60 ribu lebih om-om muda nan kaya setelah India dengan 338.000. (emang ga ada obat om-om di India). Data ini diambil dari hasil survey SeekingArrangement situs kencan yang pernah mengadakan pertemuan Sugar Baby Summit pada tahun 2016 dan 2018. (sedangkan kalian para sad boy cuma mikirin top rangking game online)

    Entah harus bersikap bagaimana dalam menyikapi prestasi bangsa ini, sangat disayangkan fenomena hubungan Sugar Date sudah menjadi bagian dari subkultur masyarakat kita bahkan bersporadis dengan rasa bangga. Namun jika diperhatikan fenomena Sugar Date merepresentasikan keadaan bangsa kita.

    Mungkin sebagai warisan budaya feodal dari masa kolonial yang membentuk mental sebagian generasi bangsa ini. Tidak pernah merasa memiliki kehormatan dan kemerdekaan bahkan pada tubuh sendiri demi hidup yang terjamin dan budaya yang hedon. Menurut hemat saya hal ini disebabkan oleh beberapa situasi sosial yang melekat dalam tubuh bermasyarakat kita, hingga pola pengkaderan Sugar Baby sangat kuat.

    Biaya Pendidikan yang Tinggi

    Dilansir dari CNBC Indonesia, Biaya pendidikan di Indonesia ternyata masuk dalam 15 besar urutan biaya pendidikan termahal di dunia dengan urutan ke 13 menurut survey yang dilakukan oleh HSBC. Hal ini menjadi pendapat umum dari terjadinya fenomena Sugar Date dengan melihat keadaaan sosial terdekat kita.

    Hingga banyak wanita muda yang sedang menempuh pendidikan kerap kali mencari dukungan finansial melalui pria mapan. Sebenarnya tidak semua pelaku Sugar Babby wanita, terdapat juga pria muda dengan Sugar Mommy atau sesama jenis.

    Dalam praktiknya Sugar Daddy akan membiayai satu atau bahkan lebih Sugar Baby mulai dari biaya pokok seperti biaya pendidikan dan kehidupan sehari-hari juga akan membiayai kebutuhan sekunder hingga Sugar Baby dapat menjalani hidup dengan glamor dan hedon.

    Tapi jika dipikirkan hal ini semacam pelacuran terselubung dengan cara yang lebih halus. Bedanya jika praktik prostitusi hubungan dilakukan dengan waktu yang terbatas atau jasa layanan semalam, sedangkan praktik Sugar Date lebih bersifat hubungan jangka panjang dan saling menikmati keuntungan dari hubungan tersebut.

    Kesenjangan Sosial

    Hasil dari penelusuran Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Indonesia berada diurutan kesenjangan sosial orang kaya dan orang miskin tertinggi keempat di dunia. Taraf warga miskin di Indonesia juga sangat memperihatinkan sehingga kesenjangan sosial ini harusnya sudah menjadi perhatian khusus oleh pemerintah.

    Tidak kaget jika detiknews mewartakan bahwa 1% orang mampu menguasai 50% aset nasional. Kesenjangan sosial ini sering terjadi di wilayah perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi dan jumlah populasi yang padat sangat rentan terjadi keluasan jarak rentang kesenjangan sosial. Walaupun di pedesaan juga tidak kalah banyak dilihat dari penguasaan aset segelintir orang kaya yang mampu menggunakan tenaga dan kemampuan orang-orang yang dibawah kelas sosial dan ekonomi miliknya.

    Hingga tidak heran dari efek kesenjangan sosial ini dimana para masyarakat kelas atas mampu menghadirkan gaya sosial baru yang terbatas dengan biaya begitu tinggi. Dan para muda-mudi yang tidak memiliki kemampuan sering terjebak dalam praktik Sugar Date secara sadar maupun tidak. Hal ini juga dimanfaatkan oleh pria paruh baya sebagai salah satu kepuasaan dan standar kelas sosialnya. (yang mulia eyang Karl Marx tersenyum melihat ini)

    Sweet Home

    Waduh, udah seperti serial Netflix aja dan pasti Sugar Dady berubah jadi monster ya. Tapi sebenarnya dari serial Netflix ini dapat dilihat relasi antara problem yang ada di serial tersebut dengan problem sosial Sugar Date ini. Dimana kehangatan rumah yang cacat menjadi momok yang sangat menakutkan, dan dilain sisi jika tercapai maka menjadi obat paling ampuh menghadapi dunia yang bajingan ini.

    Tidak semua soal salah muda-mudi dalam menjalani kehidupan sehingga masuk dalam arus putaran praktik Sugar Date tuntutan zaman. Namun juga peran keluarga dalam ruang lingkup rumah sangat menentukan tumbuh perkembangan anak, fase remaja menuju dewasa adalah keadaan paling rentan yang sering disebut dengan Quarter Life Crisis. Pada fase ini seseorang akan merasa kehilangan arah, khawatir, kebingungan, dan akan mempertanyakan alasannya hidup.

    Jika situasi ini lepas dari pengaruh makna rumah yang sesungguhnya seseorang akan mudah menjadi target kaderisasi para Sugar Dady. Karena saya tidak ahli dalam ilmu tafsir perasaaan manusia atau yang bersifat psikologis, maka dari itu saya kutip pendapat dari ahlinya saja.

    Dilansir dari okezone.com Psikolog Meity Arianti mengatakan "Orang tua mesti memberikan perhatian yang serius di momen perkembangan anak, karena percayalah, semua yang terjadi di luar sana harus diakui kalau faktor keluarga cukup berperan dalam menentukan hal itu terjadi," ungkap Mei.

    Krisis, Covid 19, dan Digitalisasi.

    Zaman membentuk arena permainannya sendiri, dan masa ini adalah dimana keadaan yang tidak pernah terencanakan berhasil menembus kesadaran kita bahwa hidup selalu tidak pasti. Sejak setahun terakhir wabah Covid 19 mampu mendobrak tatanan sosial kita, mulai dari sumber ketahanan keluarga sampai ruang gerak juga ikut terampas. Sehingga Indonesia masuk kedalam jurang resesi ekonomi dan dilain sisi intensitas penggunaan perangkat media sosial dengan basis digital semakin meningkat.

    Sehingga situasi ini menambah bumbu-bumbu kekuatan alur pola kaderisasi Sugar Baby dengan memanfaatkan keadaan yang krisis dan intensistas pengguna media sosial. Sehingga banyak terjadi keterhubungan seorang anak dengan orang-orang tua dalam hubungan Sugar Date. Banyak pula situs-situs yang menawarkan celah kebutuhan ini kepada mereka. Bahkan situs SeekingArrangement tidak hanya sebagai penghubung antara calon Sugar Baby dengan para Sugar Daddy, namun juga menjadi mentor bagi calon Sugar Baby agar mampu mencapai tujuan hidup dan membentuk kebiasaan yang elitis.

    Mau tidak mau fenomena ini sudah menjadi labelitas bangsa kita, dan saya kira perihal Sugar Date ini adalah masalah serius yang tidak ada waktu lagi bagi kita dalam mencibiri pelakunya (selain karena saya marasa terkhianati dan tercurangi oleh bapak-bapak yang terhormat lagi mapan itu sebab banyak kaum sejenis saya akan patah sebelum berjuang). Tindakan yang harus dan paling pantas untuk kita lakukan adalah merubah dan membatasi pola ekspansinya, dengan menjaga mulai dari lingkaran-lingkaran terkecil seperti keluarga, tetangga dan seterusnya.

    Disamping  itu juga situasi-situasi yang diluar batas kemampuan masyarakat biasa harus segera dipikirkan oleh pihak yang berwewenang. Sehingga kemerdekaan bangsa ini benar dirasa dan terjadi bukan hanya sebagai kalimat politis saja.

    ***

    “Ya aku tolaklah, harga diriku mau diletak dimana. Sesusah apapun aku, hal terakhir yang akan aku pegang ya kehormatan ku. Lagian itu bapak-bapak kenapa mesti aku sih,”, ocehan kekesalannya yang bisa saya maklumi.

    Lalu saya hanya manggut-manggut saja sambil mengulang-ulang kalimat soal kehormatan yang disampaikannya. Terpujilah bagi wanita yang teguh dalam pendiriannya, selalu menjaga harga diri dan kehormatannya meski tuntutan hidup datang tanpa kesepakatan meski perjudian dalam hidup begitu bajingan.

    Rahmad Agus Suryadi

    Mahasiswa Institut Pertanian Stiper Yogyakarta dan Pegiat Literasi kembul.id

    Aktif juga di Rahmad._raa

    Telah terbit di Rahma.id



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.