Inovasi Teknologi Melahirkan Revolusi Industri - Analisa - www.indonesiana.id
x

sumber foto: sindonews.com

Sri Kandhi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2020

Minggu, 4 April 2021 06:02 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Inovasi Teknologi Melahirkan Revolusi Industri

    Waktu terus berputar, zaman terus berkembang, begitu juga tentang teknologi. Inovasi teknologi terus ada lagi dan lagi. Hal inilah yang membuat adanya revolusi industri dari 1.0 hingga 4.0.

    Dibaca : 580 kali

    Kawasan-kawasan industri berdiri tegak di beberapa wilayah Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah kawasan ini semakin berkembang, dan Indonesia tidak lagi bergantung pada kegiatan pertanian saja. Inilah industrialisasi. Industrialisasi menjadi proses modernisasi di mana perkembangan ekonomi dan perubahan sosial memiliki hubungan yang erat dengan inovasi teknologi. 

    Di negeri ini, era industri dimulai pada masa kolonial Belanda tepatnya di tahun 1862. Kala itu, terdapat tiga pabrik gula di Pulau Jawa dengan menggunakan teknologi mesin-mesin produksi dan ketel uap. Waktu demi waktu berlalu, teknologi yang digunakan pun semakin berkembang. 

    Untuk memproduksi suatu barang atau jasa, sebelum memasuki era industri 1.0, manusia kala itu hanya mengandalkan tenaga otot, angin, bahkan air saja. Dengan mengandalkan kekuatan yang seadanya, ternyata masih ditemukan kendala seperti kekurangan tenaga kerja, dan pembangunan tenaga angin maupun air, hanya dapat diposisikan pada tempat tertentu saja. 

    Disinilah era industri 1.0 dimulai tepatnya pada abad ke-18. Penemuan mesin uap untuk memproduksi barang ditandai dalam era industri 1.0 ini. Di Inggris, mesin uap digunakan sebagai alat tenun pertama untuk industri tekstil sekaligus menjadi pengganti dari tenaga manusia hewan. Tidak hanya dimanfaatkan untuk industri tekstil semata, melainkan dimanfaatkan juga pada bidang transportasi laut. 

    Bukan lagi tentang mesin uap, di era industri 2.0 ditemukan tenaga listrik yang dapat mempermudah para perakit mobil untuk melakukan pekerjaannya. Di akhir tahun 1.800-an, transportasi mobil sudah mulai diproduksi massal. Akan tetapi, saat itu masih ada keterbatasan dalam tenaga kerja dan teknologi yang belum sepenuhnya mendukung. Tidak mungkin rasanya, apabila permintaan mobil terus meningkat tetapi terbatas dalam tenaga kerja. Bisa-bisa kewalahan! 

    Dari masalah inilah muncullah assembly line atau lini produksi yang menggunakan ban berjalan pada tahun 1913. Assembly line menopang proses produksi merakit mobil dari awal hingga akhir dengan dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Para perakit pun sudah dilatih menjadi spesialis yang mengurus satu bagian saja.

    Sudah mulai terlihat transisi masyarakat agraris menjadi masyarakat industri,kan? Yuk kita lanjut ke era industri 3.0. Peran manusia bukan menjadi yang utama pada industri 3.0, paket teknologi yang meliputi komputer dan robot hadir sebagai mesin bergerak dan “berpikir” secara otomatis. Kala itu, ukuran komputer tidak seperti sekarang. “Komputer purba” yang diberi nama Colossus digunakan dalam era perang dunia II untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman. Ukuran sebesar ruang tidur! Komputer tersebut dapat bekerja melalui pita kertas yang membutuhkan daya listrik sebesar 8.500 watt. Kini, pengendali lini produksi sudah digantikan posisinya oleh komputer dan robot. 

    Era industri 4.0 berawal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Industri ini merupakan sebuah tren yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Kecerdasan teknologi ini sangat berguna bagi kehidupan manusia. Revolusi industri 4.0 memberikan dampak baik yakni menciptakan lapangan pekerjaan baru, sejumlah profesi baru, dan lahirnya usaha-usaha baru yang tidak dapat kamu temui di industri 1.0 sampai 3.0. 

    Beberapa negara bahkan sudah siap menyambut era industri 5.0, sementara Indonesia apakah sudah siap secara 100 persen untuk masuk ke dalam era industri 4.0, utarakan pendapatmu!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.