Ada Opini dan Keluh Kesah, Mudik Tetap Dilarang - Analisa - www.indonesiana.id
x

keluh kesah

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 14 April 2021 21:41 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ada Opini dan Keluh Kesah, Mudik Tetap Dilarang

    Hanya orang-orang yang sombong dan berhati batu, tutup mata dan tutup telinga, yang merasa paling benar dan hebat, tak butuh masukan dan saran orang lain, publik, dan masyarakat, yang berkeluh kesah karena ketidakadilan dan ketidaksejahteraan, lalu mengganggap beropini dan berkeluh kesah tak penting. Untuk apa para siswa dan mahasiswa diajarkan teori dan praktik menulis dan beropini? Sebab, tak ada gading yang tak retak. Manusia juga tak bisa hidup tanpa orang lain. Ada saling mengingatkan. Jadi, benarkah beropini dan berkeluh kesah tak perlu ada lagi di negeri ini, sementara rakyat terus merasakan fakta ketidakadilan dan menderita yang entah sampai kapan hampir di semua sendi kehidupan?

    Dibaca : 329 kali

    Di tengah kondisi Indonesia yang penuh masalah dengan fakta keadilan dan penderitaan masih tak berpihak kepada rakyat jelata, hingga berbagai pihak terus beropini dan berkeluh kesah atas ketidakadilan dan penderitaan yang terus rakyat jelata terima, ternyata ada pihak yang berpikir beropini dan berkeluh kesah tak penting, yang penting berjuang bersama di bidangnya masing-masing. Bagaimana bisa? Di bidang masing-masing, yang diberikan amanah hingga rakyat jelata juga tak bersinergi.

    Ada media

    Untung ada media yang dapat menampung opini dan keluh kesah masyarakat. Sehingga, cara bermoral masih ditempuh berbagai pihak dalam rangka menyalurkan opini dan keluh kesahnya, karena banyak yang sudah mampet dan hanya peduli pada diri sendiri, kelompok dan golongannya.

    Bagaimana bila tak ada media yang menampung opini dan keluh kesah masyarakat yang memang sudah kecewa dan marah dengan berbagai kondisi yang ada. Apakah masyarakat harus bertindak dengan sikap dan perbuatan tak bermoral karena kecewa dan marah?

    Karenanya saya sangat prihatin dan heran, ada orang yang bisa tanpa berpikir panjang membicarakan orang-orang yang beropini dan berkeluh kesah. Seolah dia menjadi orang yang paling benar dan hebat sendiri.

    Mustahil masyarakat beropini dan berkeluh kesah  bila memang tak ada hal yang perlu diopinikan dan tak ada hal yang perlu dikeluhkesahkan. Terlebih, bila yang beropini itu adalah para akademisi, para ahli, pengamat, dan para praktisi di bidangnya.

    Mustahil akademisi, para ahli, pengamat, dan para praktisi di bidangnya beropini dan berkeluh kesah dengan dasar omong kosong tanpa latar belakang dan masalah yang sedang mendera. Namun, orang yang menganggap beropini dan berkeluh kesah tak penting, justru sering menjadi sumber masalah hingga ada pihak yang beropini dan berkeluh kesah atas sikap dan perbuatannya.

    Beruntung ada wadah yang menampung opini dan keluh kesah masyarakat. Di berbagai instansi dan institusi serta lainnya, bahkan ada tempat kotak saran yang menampung masukan opini dan saran publik. Untuk apa? Untuk perbaikan institusi atau instansi dan tempat publik itu sendiri. Karena mereka tahu mengabdi kepada masyarakat juga harus mendengarkan konsumen dan publik. Maka opini dan keluh kesah memang sengaja ditampung demi perbaikan.

    Lihat juga, ada berapa media yang dapat menampung opini dan keluh kesah masyarakat di Indonesia? Menurut data media komunikasi dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IPK), Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun ini, jumlah media daring 2.011. Sementara itu, media konvensional, koran, dan majalah 567 penerbit, televisi 194 stasiun, dan radio 1.165 stasiun.

    Berikutnya, jumlah telepon seluler (ponsel) yang beredar 374 juta atau lebih besar (142%) daripada 262 juta penduduk Indonesia. Data pengguna internet 132,7 juta (51,3%), pengguna medsos yang aktif mencapai 106 juta atau 40%. 

    Karenanya, dalam pembentukan opini publik di Indonesia, angka 106 juta pengguna medsos itu pasti memiliki peran yang menentukan karena derasnya opini dan keluh kesah akibat ketidakadilan dan penderitaan rakyat. 

    Akibat jumlah pengguna yang terus meningkat, medsos pun tak lagi dapat diharapkan hanya sekadar menyajikan informasi positif agar opini publik yang terbentuk pun bermanfaat bagi masyarakat. Pasalnya, kini setiap orang dapat dengan mudah beropini dan berkeluh kesah di medsos, tak perlu harus menjadi akademisi, ahli, pengamat, dan praktisi, meski adaUU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 19/2016, yang telah berhasil menjerat pengguna medsos yang beropini atau berkeluh kesah kebablasan.

    Berbagai bidang bermasalah

    Bila berbagai bidang di Indonesia tak bermasalah, tak ada persoalan, tak ada rekayasa, politik, intrik, dan taktik, yakin media dan medsos.di Indonesia tak akan laku, karena masyarakat tak perlu beropini dan berkeluh kesah.

    Tengok, masalah larangan mudik untuk yang kedua kalinya di negeri ini oleh pemerintah karena alasan Covid-19, siapa yang sudah beropini dan berkeluh kesah? Adakah pemerintah bergeming? 

    Apalagi menyangkut produk kebijakan dan UU yang digelontorkan oleh pemerintah dan parlemen, apakah opini dan keluh kesah masyarakat dianggap? Hanya jadi angin lalu, karena mereka lebih mementingkan kepentingannya sendiri.

    Di bidang olahraga, semisal sepak bola, berapa banyak publik sepak bola nasional yang sudah berteriak dan berkeluh kesah atas kegagalan demi kegagalan yang dilakukan PSSI yang juga terkesan terus menjadi kendaraan politik dan terus diangap oleh publik sepak bola nasional terus dihuni dan menjadi sarang mafia sepak bola. Apakah opini publik dan keluh kesahnya didengar?

    Hanya orang-orang yang sombong dan berhati batu, tutup mata dan tutup telinga, yang merasa paling benar dan hebat, tak butuh masukan dan saran orang lain, publik, dan masyarakat, yang berkeluh kesah karena ketidakadilan dan ketidaksejahteraan, lalu mengganggap beropini dan berkeluh kesah tak penting.

    Untuk apa para siswa dan mahasiswa diajarkan teori dan praktik menulis dan beropini? Sebab, tak ada gading yang tak retak. Manusia juga tak bisa hidup tanpa orang lain. Ada saling mengingatkan.

    Jadi, benarkah beropini dan berkeluh kesah tak perlu ada lagi di negeri ini, sementara rakyat terus merasakan fakta ketidakadilan dan menderita yang entah sampai kapan hampir di semua sendi kehidupan? Mudik pun tetap dilarang. Tak berpikir efek domino siapa saja yang kena imbas derita.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.