Kiat-kiat Wirausaha dari Novel Nasi Uduk Nekat - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

37 Andika Mahmud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Maret 2021

2 hari lalu

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kiat-kiat Wirausaha dari Novel Nasi Uduk Nekat

    tulisan ini memuat review dari sebuah novel karya Qayyum Nur yang berjudul asli NASI LEMAK BONDA dan diadaptasi ke Bahasa Indonesia menjadi NASI UDUK NEKAT. berkisah kakak beradik yang mulai merintis usaha nasi uduk yang ibu mereka buat untuk bekal sekolah menjadi sebuah bisnis yang bahkan pendapatannya melebihi gaji saat ibu mereka bekerja di pabrik kayu

    Dibaca : 102 kali

    Identitas Buku

    1. Judul Buku : Nasi Uduk Nekat
    2. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2011.
    3. Penulis : Qayyum Nur
    4. ISBN : 978-979-22-6510-1
    5. Ukuran : 19 cm.
    6. Halaman : 198

    Nasi uduk atau dalam bahasa Malaysia disebut nasi lemak adalah sebuah kuliner yang sangat sederhana yaitu sajian berupa nasi yang dimasak dengan santan kelapa yang kemudian dilengkapi dengan berbagai toping mulai dari sambal ikan teri, telur rebus dan irisan ketimun.

    Di bagian awal cerita novel ini, dikisahkan sebuah keluarga yang hidup sederhana Ibu Aisyah, Ahmad sang kakak dan alif sang adik dan ayah mereka yang sakit-sakitan. Mereka hidup hanya bergantung pada gaji ayahnya yang sudah tidak bekerja karena mengidap penyakit kencing manis. Karena sang ayah adalah karyawan yang rajin, bos perusahaan tetap memberikan setengah dari gaji pokok. Namun suatu saat ayah mereka harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakitnya semakin parah. Akhirnya ayah meninggal dan terputuslah sumber penghasilan keluarga itu.

    Sepeninggalan ayah mereka ibu aisyah pun yang hanya memiliki tabungan sedikit harus pintar-pintar berhemat. Karena lauk yang dimasak ibu aisyah hanya berupa telur setiap hari alif yang merupakan anak bungsu mogok makan. Ibu Aisyah harus memutar otak bagaimana agar anaknya tidak mogok makan dan bisa terus berhemat sampai ai mendapatkan pekerjaan. Disuatu pagi dia membuatkan bekal anaknya yaitu berupa nasi uduk dengan lauk sambal ikan teri, telur rebus, dan irisan ketimun. Sederhana namun begitu menggiurkan. Sampai sampai saat bekal itu dimakan bersama teman-teman Ahmad dan alif di kantin sekolah mereka ingin memesan nasi uduk itu. Mulai dari sini muncul ide untuk berjualan nasi uduk.

    Makin hari jumlah nasi uduk yang dipesan anak-anak sekolah pun kian banyak mulai dari 7 bungkus, naik ke 10 bungkus hingga pernah mencapai 50 bungkus. Tantangan pertama pun mereka hadapi yaitu saat guru melarang mereka untuk berjualan disekolah.

    Namun usaha mereka untuk berjualan nasi uduk tidak putus disitu. Saat mereka di larang untuk berjualan disekolah, Ahmad sang kakak meminta izin kepada ibu Aisyah untuk mulai berjualan nasi uduk dengan mengelilingi kampung, beliaupun setuju namun dengan syarat yaitu mereka harus memprioritaskan sekolah. Ibu Aisyah juga sudah diterima disebuah pabrik kayu di desa mereka jadi keluarga ini sudah memiliki penghasilan bulanan yang tetap.

    Suatu ketika saat perjalanan pulang, mereka yang biasanya gembira kini murung masing masing larut dalam pikirannya. Saat mereka akan berangkat mengaji disalah rumahnya Pak Sofyan. Masing- masing memberikan sepucuk surat kepada ibu Aisyah. Begitu anak-anaknya pergi ia langsung membaca isi surat itu yang ternyata adalah surat dari sekolah. Dalam surat Ahmad dituliskan dia sudah lima kali tidak masuk sekolah dan bedanya dengan surat Alif dia sudah beberapa kali tertidur dikelas. Perasaan ibu Aisyah pun campur aduk. Kini ia menunggu kepulangan putra-putranya dari rumah Sofyan. Begitu mereka sampai ibu Aisyah mulai meluapkan perasaan yang dari tadi dia pendam terlihat begitu jelas diwajahnya kecewa, marah, sedih. Beliaupun melarang anak-anaknya untuk berjualan nasi uduk lagi.

    Ahmad yang saat itu kehausan singgah di salah satu warung makan untuk minum. Tak lama ada seorang bapak masuk dan bertemu dengan pemilik warung. Ternyata beliau menitipkan dagangannya di situ dan memberikan komisi 50 persen kepada sang pemilik warung. Ahmad yang melihatnya pun mulai mendapatkan ide untuk berjualan kembali.

    Dia mulai mendatangi restoran yang berada di pasar dan mendatanya kemudian dia berencana pada hari sabtu untuk meminta ibu Aisyah untuk membuatkan nasi uduk sebagai sarapan dan makan siang mereka. Karena pada hari sabtu ahmad dan alif tidak sekolah tapi ibu Aisyah tetap pergi bekerja. Nasi uduk untuk makan siang mereka bungkus lalu diantarkan kepada tujuh restoran yang berada di pasar untuk dijadikan sampel. Dari 7 restoran hanya 4 restoran yang mau menerima nasi uduk mereka.

    Kini tantangan terberat mereka adalah membujuk ibu mereka untuk membuat 40 bungkus nasi uduk setiap hari. Dengan dalih seorang teman Ahmad memesan 40 bungkus untuk dijual di restorannya. Ibu Aisyah pun setuju.

    Kesehatan Ibu Aisyah pun mulai terganggu, karena bekerja di pabrik kayu. Dengan bujukan dari anak anaknya beliau pun luluh untuk pergi ke dokter. Ternyata ada serbuk kayu yang masuk kedalam saluran pernapasan beliau yang akibatnya Ibu Aisyah susah untuk bernafas. Dokter pun menyarankan untuk Ibu Aisyah berhenti bekerja saja. Setelah menyelesaikan urusan di dokter. Ibu Aisyah melimpir kesalah satu restoran untuk mengisi perut sebelum meminum obat Pereda nyeri yang dibeli. Saat melihat bungkusan nasi uduk itu ternyata itu adalah buatannya yang menurut pemilik restoran diantar oleh kakak beradik, perasaan pun campur aduk sedih, marah kecewa karena dibohongi untuk kesekian kalinya oleh putra putranya.

    Sepulangnya Ibu Aisyah dia langsung memarahi kedua anaknya. Sebagai cara untuk meminta maaf Ahmad dan Alif menulis sebuah surat yang diletakan di dapur, surat itu dan ada setangkai bunga mawar merah.  Ibu Aisyah yang membaca surat itu menangis haru, selain karena surat itu ternyata di dalamnya ada hasil ujian Ahmad yang menyatakan Ahmad mendapat nilai tertinggi disekolahnya.

    Singkat cerita akhirnya ibu berhenti kerja di pabrik kayu dan menjalankan bisnis nasi uduk yang sehari mendapatkan permintaan sebanyak 500 bungkus. Kini nasi uduk pun berkat saran dari sang adik memiliki varian seperti nasi uduk sambal kerang, sambal cumi dan rendang ayam. Ahmad setelah lulus sekolah dasar, melanjutkan SMP di kota jadi dia sudah pergi berasrama. Karena permintaan akan nasi uduk yang kian banyak, dan alif sudah kelas 5 ibu Aisyah mempekerjakan seorang pembantu yang dibayar perhari. Kini nasi uduk milik Ibu Aisyah sudah memiliki nama yaitu NASI UDUK NEKAT. Nama itu dibuat Alif karena mengingat keberhasilan usaha ini dilalui dengan kenekatan seorang Ahmad dan Alif untuk membatu perbaikan ekonomi keluargnya sambal tetap bersekolah.

    Cerita yang disajikan sangat menarik hati pembaca terutama dibeberapa bagian seperti pada awal cerita langsung dikisahkan ayah mereka sakit dan meninggal lalu pada bab 4 dimana mereka mulai merintis usaha nasi uduk, sampai di bagian “Ibu Maafkan Kami” surat yang ditulis untuk ibu Aisyah lumayan menyentuh hati saya pribadi. Dan saat ahmad pergi melanjutkan pendidikannya ke kota disitu tokoh Alif mulai nampak jelas.

    Banyak pesan moral yang menurut saya pribadi disampaikan penulis ke pembaca secara tersirat. Mulai dari harus banyak bersyukur walaupun keadaan sulit. Terus berusaha apapun tantangannya. Hal ini tergambar jelas dari penokohan maupun dialog Ahmad dan Ibu Aisyah.

    Kesimpulan dari isi cerita novel Nasi Uduk Nekat yang di adaptasi dari novel asli yang berjudul Nasi Lemak Bonda karya Qayyum Nur adalah alur cerita yang sangat menarik emosi yang didapatkan dari awal cerita hingga bagian akhir bagai roller coaster bagaimana tidak, pada awal cerita ayah meninggal, alif yang mogok makan, lalu Ahmad dan Alif yang harus berdagang sambal sekolah lalu harus menghadapi Aris yang menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. Kisah dalam novel ini juga bisa memberi kiat-kiat untuk berwirausaha, bagaimana menghadapi pesaing, memperluas jangkauan pemasaran dan lain-lain.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.