Kenangan Terakhir Bersama Gurunda Al Ustadz Alimuddin Alhafidz Rahimahullah, Sang Inspirator - Urban - www.indonesiana.id
x

Ainun Suci Qur'ani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Mei 2020

Kamis, 29 Juli 2021 14:10 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Kenangan Terakhir Bersama Gurunda Al Ustadz Alimuddin Alhafidz Rahimahullah, Sang Inspirator

    Ada tiga pesan yang saya terima sebelum merantau belajar ke tanah Jawa. Tiga pesan yang ternyata menjadi pesan terakhir kudengar. Bagaimana tidak, setelah hampir dua tahun dalam perantauan, saat hendak kembali saya mendapat kabar duka itu. Beliau telah berpulang.

    Dibaca : 432 kali

    Menurutku tak ada yang lebih manis melainkan rasa seorang murid yang sedang duduk bernostalgia dengan gurunya, izin pamit meminta doa dan ridhonya sambil ditemani secangkir teh juga gorengan hangat. Tetapi ternyata juga ia kenangan yang terakhir yang sangat berharga.

    Setelah 6 tahun dididik dan ditempa di pondok, agak berat hati rasanya pergi jauh darinya tanpa pamitan dan ridho dari mereka yang telah berjasa mendidik saya hingga ke titik ini. Untuk itulah tepatnya sekitar beberapa hari lagi sebelum terbang merantau ke pulau seberang menuntut ilmu melanjutkan study di STIBA Arrayah, kusempatkan bersilaturrahmi ke rumah guru-guru. Sekaligus saya ingin mengatakan Taqobballlauhu minna wa minkum kepada mereka yang sudah saya anggap sebagai orang tua motivator hidup. Tiga orang teman juga ikut serta bersama sambil berinsiatif tuk menghadiahkan kue brownis cokelat, cukup sederhana.

    Dari rumah ke rumah, saling menyapa dengan penuh senyum kepada asatidz, berpelukan melepaskan rindu dan haru kepada ustadzaat. Bercerita tentang di universitas mana kita akan berlabuh dan tentunya di setiap pertemuan akan ada nasihat dan pesan-pesan indah yang saya dan taman-teman dapat.

    Ada satu hal yang berbeda untuk kali ini, ketika bersilaturrahmi kerumah ustadz Alimuddin, sosok yang kepribadiaannya terkenal penuh humoris dengan kata-katanya yang penuh hikmah tak jarang membuat para muridnya tertawa ceria dan terus semngat jika belajar bersamanya. Waktu itu entah kenapa hati saya dan teman-teman tergerak tuk merekam momen silaturrahmi bersamanya, hingga segala pesan dan perkataan yang penuh humoris lelucon terekam baik, bercerita, berdiskusi dan tentunya dibarengi hidangan gorengan dan secangkir teh yang masih hangat.

    Setelah alustadz bertanya kepada kita akan di uneversitas mana kita akan lanjut, dan setelah beberapa lelucon yang dilontarkan, beliau bertanya, “Coba lihat, betapa banyak pondok-pondok di negri ini, betapa banyaknya juga mesjid-mesjid bertebaran, hampir tak terhitung negeri ini mampu mencetak para penghafal Qur’an tiap harinya. Hampir tiap hari kata-kata dan kalimat motifasi tuk terus menerus menghafal qur’an terdengar dimana-mana. Ini bahkan tentang alqur’an laa royba fihi  tidak ada keraguan didalamnya, namun coba jawab! Mengapa hingga sekarang negeri Indonesia ini blm mengalami kemajuan, bahkan tiap hari negeri ini semakin krisis dan krisis?”

    Pertaanyaan itu tentu membuat hati tersentak. Sebuah pertanyaan yang membuat saya juga teman-teman bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas hati sedikit teriris dengan pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang patut disedihkan dan direnungi.

    Melihat kami kebingungan, sambil tersenyum ia lanjut berbicara dan menjawab,"Kerena kecuekan kita. seakan mereka berkata biarlah kalian terlena khusyu’ beribadah di mesjid-mesjid, tenang! Kami akan menfasilitasi segalanya bahkan memberi beasiswa tuk para penghafal Qqur’an. Tapi satu hal jangan pernah berbicara tentang politik! Dan lihat! benarkan betapa gelisahnya mereka, ketika para cendikiawan dan ulama maju untuk mengkritisi.

    Yang penting yang perlu kalian ketahui jaga Al Qur’an didada kalian! Hafal! Dan bukan sekedar hafal! Di pondok mungkin Al Quran yang selalu di tangan kalian, tapi ingat pesan saya! Di luar sana gedget akan bebas bersama kalian, maka baca alquran dari mushaf aslinya bukan dari HP. Teruslah membaca buku-buku bacaan! Jangan pernah berhenti karena ada banyak hal yang kalian akan ketahui dan kalian tidak akan memperolehnya di bangku kelas. Dan nanti jikalau kalian telah selesai S1, lanjut dan terus lanjut teruskan pendidikan”.

    Yah, tiga pesan dalam sebuah momen yang sangat jarang saya dapat. Tiga pesan yang ternyata menjadi pesan terakhir kudengar. Dan ia sebuah momen pertama dan terakhir yang saya jumpai. Bagaimana tidak, setelah hampir dua tahun dalam rantauan di tanah Jawa dengan koneksi yang sangat terbatas, sebelum beberapa bulan akan pulang kembali, saya berencana bersilaturrahmi kembali ke pondok dan mengkhususkan bertemu dengannya. Akan tetapi kabar duka menghampiri bahwa ia telah pergi ke Rahmatullah tuk selamanya. Rohimakumullah yaa Ustaadzi

     #catatan sebelum merantau kembali tuk melanjut s2



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.