Tahun 2023 Indonesia Produksi Mobil Listrik, Mengurangi Biaya Impor BBM - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Contoh Jenis Mobil Listri yang diklaim buatan anak Indonesia, yang akan diproduksi pada tahun 2023 mendatang. Foto - Ist.

Djohan Chaniago

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Desember 2020

Jumat, 26 November 2021 21:19 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Tahun 2023 Indonesia Produksi Mobil Listrik, Mengurangi Biaya Impor BBM

    Presiden Jokowi merasa resah, setiap bulan harus mempersiapkan dana yang cukup besar, untuk biaya Infor BBM

    Dibaca : 735 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pemerintah Indonesia, merencanakan untuk memproduksi jenis kendaraan otomotif (Mobil), dengan tenaga listrik. Selain ramah lingkungan, juga untuk mengurangi besarnya beban belanja Bahan Bakar Minyak (BBM) Impor. Untuk Pelaksanaan pembuatan mobil listrik dalam negri ini, menurut rencananya, Pemerintah akan menggandeng para pemodal yang melibatkan Investor yang terdiri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan dari Penanaman Modala Dalam Negri (PMDN).  

    Keberadaan mobil listrik perlu kita wujudkan, Selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, juga untuk mengatasi dari besarnya biaya pengeluaran biaya untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) impor tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) RI, impor minyak mentah RI selama Januari-Oktober 2021 tercatat mencapai 10,86 juta ton, naik 18,8% dibandingkan Januari-Oktober 2020 yang tercatat sebesar 9,14 juta ton. 

    Total nilai impor minyak mentah, dalam kurun waktu 10 bulan terakhir Oktober 2021, mencapai US$ 5,31 miliar, melonjak 80% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020 sebesar US$ 2,95 miliar. Secara rinci impor BBM jenis bensin, bahan bakar pesawat atau avtur, hingga diesel, selama Januari-Oktober 2021 mencapai 16,93 juta ton, naik 0,5% dari periode tahun yang sama 2020 sebesar 16,85 juta ton.

    Untuk impor minyak bensin dengan nilai oktan (RON) 90 ke atas, seperti minyak Pertamax. Selama Januari-Oktober 2021 sebanyak 5,92 juta ton, mengalami kenaikan sebesar 55%, bila dibandingkan periode yang sama ditahun 2020 sebesar 3,81 juta ton. Sedangkan untuk impor minyak bensin dengan nilai oktan di bawah 90, seperti Premium. Mencapai 4,81 juta ton, dalam kurun waktu 10 bulan pada tahun tahun 2021. Artinya, mengalami penurunan 19%, dibandingkan periode yang sama ditahun 2020, mencapai 5,97 juta ton.

    Dalam kurun waktu 10 bulan terakhir, Januari-Oktober 2021 impor bahan bakar pesawat, jenis minyak aviation gasoline (avgas) dan aviation turbine (avtur), mencapai 27.511,2 ton, anjlok 70% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang sebesar 92.962,5 ton. Secara nilai impor avtur ini turun 39,3% (US$ 16.96 juta) dari periode yang sama ditahun 2020 US$ 27,94 juta. 

    Badan Pusat Statistik (BPS) RI juga menjelaskan data impor bahan bakar diesel, sejak bulan Januari - Oktober 2021 tercatat sebesar 2,77 juta ton, mengalami penurun sebesar 18,5%,  dibandingkan pada periode yang sama ditahun 2020 mencapai 3,40 juta ton. Namun dari sisi nilai pembayaran pada Januari-Oktober 2021 mengalami peningkatan 17,28%  (US$ 1,47 miliar), apabila dibandingkan pada periode yang sama 2020, hanya sebesar US$ 1,25 miliar. 

    Untuk impor gas Elpiji (LPG), dalam kurun waktu Januari-Oktober 2021 mencapai 5,30 juta ton, naik tipis dari periode yang sama 2020 sebesar 5,24 juta ton. Tapi, pembayarannya mengalami peningkatan 53,24% (US$ 3,19 miliar), apabila dibandingkan pada priode yang sama ditahun 2020 sebesar US$ 2,08 miliar. Karena besarnya pengeluarana biaya pembelian BBM Impor tersebut, dalam setiap bulannya menjadi beban Pemerintah. Maka Presiden Jokowi mempertimbangkan ketergantungan mobil yang menggunakan BBM, untuk diubah dengan Mobil Listrik. 

    Presiden Jokowi, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (20/11/2021) menyatakan di hadapan Menteri BUMN Erick Thohir, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dan Komisaris Utama PLN Amien Sunaryadi. Untuk mencarikan solusi peralihan ketergantungan penggunaan BBM, diantaranya memproduksi Mobil Listrik. Pertimbangan itu dilakukan, untuk menaggulangi dari besarnya nilai tukar mata uang ripiah pada kurs dolar yang harus disediakan setiap bulan oleh Pertamina, untuk biaya impor BBM.

    Beranjak dari rencana untuk memproduksi Mobil yang menggunaka enegi listrik itu, Presiden Jokowi telah mendapatkan nama dan data 7 jenis tipe mobil listrik, yang merupakan hasil karya anak bangsa Indonesia. Diantara nama jenis mobil listri itu adalah : 1. Mobil Listrik Tucuxi, 2. Mobil Listrik Gendhis, 3. Bus Listrik Ahmadi, 4. Mobil Listrik Hevina, 5. Mobil Listrik Si Elang, 6. Mobil Listrik Evina ,7. Mobil Listrik Selo. Menurut rencana produksi Mobil bertenaga enegi listrik itu akan di produksinya pada bulan Maret 2022 mendatang.  

    Salah seorang Chief operating Officer (COO) Hyundai Motor Asia Pacific Lee Kang Hyun, dalam acara diskusi Investor Daily Summit pada hari Rabu, 14 Juli 2021 melalui video Konferensi menyatakan, siap mendorong Industri Otomotif Ramah Lingkungan. Pernyataan siap dari Lee Kang Hyun itu dibuktikan bahwa Hyundai sudah mulai membangun pabrik di Deltamas Cikarang, dengan nilai investasi mencapai US$ 1,5 miliar. Untuk tanah, sebagai lahan pabrik seluas 77 hektare.

    Untuk itu, pada Mei 2021 Hyundai sudah mempersiapkan pilot production, dan pada akhir tahun ini (2021) ini, pihaknya akan meluncurkan 2 model mobil dengan mesin konvensional atau internal combustion engine (ICE) dan satu model mobil listrik completely knock down (CKD). “ Sekitar bulan Maret 2022, kita akan luncurkan buatan completely knock down (CKD) di Indonesia,” kata Lee Kang Hyun menambahkan, pada tahun 2020 mobil listrik di seluruh dunia telah dipasarkan sekitar 2 juta unit. Pada tahun 2030 mendatang, diprediksi jumlahnya akan terus meningkat, hingga mencapai 30 juta unit.

    “ Selain Mobil listrik completely knock down yang diproduksi oleh Hyundai Motor Asia Pasific. Sejumlah pengusaha industri mobil Indonesia juga akan bermunculan pada tahun depan (2022), untuk memproduksi berbagai jenis mobil listrik lainnya,” kata Lee Kang Hyun. ” Kenapa kita harus mendorong pemakaian mobil listrik?, untuk menjaga lingkungan dan mengurangi Co2, dan ini program pemerintah Indonesia, perlu kta dukung,” kata Lee.

    Sebagai gambaran, tentang keadaan fisik (Body) dari jenis mobil listrik itu, dianataranya Mobil listrik Tucuxi, mirip dengan lumba-lumba. Mulai dari body, kabin, hingga warnanya mobil listrik Tucuxi mirip sekali dengan mobil Ferrari. Contohnya telah diproduksi pada tahun 2012. Danet Suryatama, seorang alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya dan University of Michigan, memprakarsai mobil listrik generasi pertama di Indonesia ini, juga menjadi mobil listrik sport, serupa dengan mobil sport asal Eropa.

    Mobil listrik Tucuxi ini memiliki kemampuan dengan kecepatan jarak tempuh maksimal hingga 400 kilometer per jam, dengan kapasitas mesin motor listriknya cukup besar, hingga mencapai 268 daya kuda. Sedangkan untuk Mobil Listrik Hevina, dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada tahun 2013. Mobil listrik Hevina ini memiliki tenaga motor listrik sebesar 62 daya kuda, menghasilkan torsi sebanyak 156 Nm, dengan kecepatan 140 km/jam, dan sejumlah jenis mobil listrik lainnya (Djohan Chaniago).



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.