Remember - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustr: Cuded Art \x26 Design

salma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Senin, 29 November 2021 10:21 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Remember

    HUBUNGAN SEDIH SERTA KENANGAN INDAH ANTARA SAUDARA SEKANDUNG

    Dibaca : 86 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku Karin, aku punya seorang kakak dan seorang adik laki-laki yang berumur tujuh tahun. Orang tua aku sibuk dengan profesi masing-masing dan bekerja di luar kota. Aku paham, mereka bekerja demi keluarga. Aku berharap mereka bisa memberikan waktu yang lebih dalam hidupku. Masa kecilku. Mungkin sejak saat itu, tanpa kusadari, aku mulai memimpikan keluarga kecilku sendiri. Keluarga yang orang tuanya terus hadir untuk menghabiskan waktu bersama ku dan keluarga.

    Suatu hari, di rumah terjadi pertengkaran hebat antara aku dengan kakak, sedang adikku berada di rumah sakit.

    “Kau tahu, adik sakitkarena mu!” teriaknya sambal menyodorkan jari telunjuk ke wajahku.

    “Kenapa kau menyalahkanku, seharusnya kau sadar, kau ini kakak tertua, berarti dia sakit karena kelalaian mu dalam menjaganya”, balasku padanya.

    “Aku memang kakak tertua, tapi kau juga kakaknya kan? Dia juga menjadi tanggung jawab kita”

    Awalnya aku menganggap pertengkaranku dan dia hal yang normal. Pertengkaran antara kakak dan adik. Karena aku terus menjawabnya sambil mempertahankan egoku, dia semakin marah, mukanya berubah menjadi merah padam.Tanpa aku sadari dia mendaratkan satu tamparan di pipiku dan mendorongku kedinding, dia mencekikku. Mulutku kaku, Nafasku serasa akan berhenti. Ketika sedang melawan, aku melihat tongkat kasti disisi kananku, aku berusaha meraihnya, aku barhasil, tanpa menunggu aku memukul kepala kakakku dengan brutal. Niatku hanya agar bebas dari cekikannya.

     

    Tubuhnya terhempas di depanku, awalnya kupikir dia hanya berpura-pura tak sadarkan diri. Namun, beberapa menit kemudian, aku merasa aneh, tubuh kakakku masih saja membatu di atas lantai. Perlahan aku memberanikan diri mendekatinya, kuulurkan tangan kananku untuk mengecek detak jantung dan pernapasannya, kuraba dan kurasa, ternyata segalanya berhenti. Detik itu aku tahu bahawa kakakku telah tiada. Aku menjadi kacau. Rasa marah, takut, dan sedih menghantamku bersamaan. Aku berpikir keras, kemana harus kubawa jasad kakakku, Agar orang tua dan adikku tak mengetahuinya.

     

    Kemudian, Tanpa menunggu lama, aku menyeret jasad kakakku kekamarku, aku memasukkannya kedalam plastik hitam besar dan mengikat bagian kepala palastik kuat-kuat. Lalu, aku mendorongnya kebawah ranjangku. Ranjangku yang tinggi dan dilapisi balutan sprai menghapus tanda keberadaan plastik itu. Aku melakukan segala hal sambil menangis, suaraku menjadi parau. Aku tak tahu, mengapa dalam beberapa detik lalu aku sangat kejam.

     

    Aku menyandarkan pundakku di sisi ranjang. Dalam tangisanku, aku teringat momen-momen indah bersama kakak. Hari Minggu, usai pulang sekolah dia membawaku bersepeda. Aku suka duduk di belakangnya, karena aku tidak perlu lelah mengayuh sepeda dan aku bisa bebas merasakan lembutnya angin di sela-sela jemariku, ketika aku merentangkannya kelangit. Kami pergi kerumah pohon di dekat sungai. Riukan air danau terdengar asri di telingaku, udara yang segar tercium halus di hidungku. Disana, dia mengajariku bermain kasti.

    “Karin, kamu harus bisa bermain kasti supaya tak di ejek temanmu”,katanya padaku.

    “Iya kak, aku pasti bisa, mereka harus tahu kalau aku bisa bermain kasti”,balasku padanya.

     

    Setelah memori itu pergi dari ingatanku, tangis kupecah, mataku tertuju kebekas dinding dia mencengkeramku, seperti binatang buas yang kelaparan, terlebih lagi ketika mendapati tongkat kasti yang masih tergeletak di lantai ruangan.Tongkat yang pernah memberi kenangan indah, sekarang menoreh luka dalam hidupku. Karena derai air mata yang terus mengalir hingga membuat mata kulelah, sehingga membuatku terlelap.

     

    Esok harinya, aku bersiap-siap pergi menjenguk adikku di rumah sakit. Ketika sedang melewati koridor rumah sakit ,sempat terbesit dalam pikiranku, jika adik sudah sadar dari komanya dan bertanya tentang kakak, jawaban apa yang harus kuberi padanya. Aku harus bisa menyembunyikan segalanya dari dia, dia tak boleh tahu kejadian antara aku dan kakak. Aku harus menutupnya rapat-rapat.

    Aku sampai di depan pintu ruangan adikku, dengan bergetar aku langsung membuka pintu dan mendapati adikku yang masih berbaring lemah-koma-di atas Kasur. Tampaknya keadaannya belum membaik. Tak ada yang bisa kulakukan selain memanjatkan doa kepadaTuhan Yang Maha Kuasa. Karena rasa takut yang masih saja menghantuiku, aku berencana untuk menginap beberapa hari di rumah sakit.

     

    Malamnya, sebelum tidur aku beranjak ke kamar mandi. Ketika sedang meratakan air di wajah, tiba-tiba lampu di kamar mandi padam. Aku tergesa-gesa keluar dari kamar mandi, ternyata hanya di ruang adikku yang seperti itu. Aku mulai merasa aneh dan berpikir yang bukan-bukan. Apakah arwah kakakku sedang menggangguku atau mungkin dia ingin balas dendam padaku. Segala prasangka buruk timbul memenuhi pikiranku.Tubuhku bergetar hebat, aku mengambil telpon genggam untuk menelpon pihak keamanan rumah sakit. Setelah lampu kembali menyala, akupun merasa tenang.Tetapi tetap saja seperti ada yang menjanggal di hatiku.

    Paginya, karena rahmat dari Tuhan, keajaiban datang. Adikku sadar dari komanya, aku senang, namun disisi lain aku juga takut jika dia mempermasalahkan tentang kakak. Kata pertama yang di lontarkan dimana ayah dan ibu, aku merasa tenang. Langsung ku jawab bahwa ayah dan ibu masih di luar kota. Timbul kesedihan di raut wajahnya, tebakanku mungkin dia berharap ketika dia bangun, Dia mendapati orang tua kami disampingnya. Namun, karena tuntutan pekerjaan mereka, membuat hubungan kami terbilang kurang akrab.

     

    Beberapa hari setelah adikku bangun dari komanya, keadaannya semakin membaik, dokter mengabarkan bahwa dia sudah boleh pulang. Dia bilang padaku, dia tak sabar ingin bermain bersama teddy, boneka beruang kesayangannya. Ketika kami sampai dirumah, dia langsung buru-buru mencari teddynya. Aku senang melihatnya riang kembali.

    Seminggu berlalu seperti biasa, tak ada yang spesial segalanya berjalan dengan normal. Adikku tak pernah bertanya tentang kakak. Aku sedikit heran. Hingga suatu hari, Ketika sedang bermain di ruang tv, dia bertanya,”Kenapa seminggu ini kakak terus mengikutimu dan menyandarkan kepalanya di bahumu?”. Pertanyaannya membuatku kaget bukan kepalang, kupikir dia tak pernah bertanya tentang kakak karena sibuk bermain setelah sembuh, ternyata dia bisa melihat kakak-arwah-bahkan disaat aku tak bisa melihatnya lagi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.