x

Gambar oleh claude alleva dari Pixabay

Iklan

Nur Hanifah Ahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Sabtu, 25 Desember 2021 09:07 WIB

Dibalik 4 Bulan Puasa Daud

Puasa Daud itu puasa terberat yang kualitasnya tertinggi. Maka dari itu Puasa Daud itu sangat baik dampaknya bagi yang melaksanakan dengan rutin. 4 bulan melaksanakan sudah berhasil merubah banyak hal dan mendapatkan banyak kebaikan. Itu nyata. Meski ada yang jauh lebih tinggi juga. Tetap... harus bersyukur dengan di share. Ada yang seutuhnya kisah penulis, ada juga yang tergolong kisah lain orang. Jadi... Selamat membaca. Yogyakarta, 24/12/2021

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

September 2021. Teringat waktu itu yang bertepatan 4 bulan sebelum tulisan ini mulai diketik. Keadaan yang sungguh kacau dalam hidup. Hingga linglung hampir terjatuh dalam jurang lebih berbahaya. Beruntung waktu itu bertemu berbagai solusi yang sungguh tepat. Ada solusi ke Psikiater dan bertemu mata kuliah Spiritualisme Agama. Nahh... Puasa Daud ini tergolong dalam hal yang bisa di pelajari dalam mata kuliah tersebut. Sehingga tepat tampaknya, di antara berbagai penyebab, menyelamatkan jiwa, menjaga diri, memperbaiki diri, juga penelitian untuk Final Paper di akhir perkuliahan mata kuliah tersebut.

4 bulan berlalu, tidak di sangka berhasil berlangsung selama 4 bulan ini, dengan jeda istirahat 1 minggu dalam 1 bulan khas wanita dan beberapa keadaan seperti saat sakit dan saat berada di suatu kondisi tertentu istirahatnya. Terhitung di luar jeda istirahat wajar ada 9 kali batal. Proses demi proses terlalui. Pada masa itu juga ada masa kondisi diri sungguh dapat terkendali, namun ada juga kondisi diri sulit terkendali. Namun tetap, dalam segala kondisi tetap berusaha mengendalikan diri lebih jauh sesuai tujuan awal melakukan Puasa Daud.

Kejiwaan. dalam arti kondisi mentalku. September 2021 secara wajar saat berbagai sudut dari yang wajar sampai 1 yang tidak wajar menekan mentalku membuat Aku merasakan linglung, bayangan tentang dunia tampak gelap. Rasanya kehidupan sudah di ujung tanduk saat itu. Fikiranku kacau balau. Kepalaku sangat sering sakit juga akibat berbagai tekanan mental wajar tersebut. Hal ini membuat Aku berjuang menyelamatkan diriku lebih jauh dengan ke Dokter Jiwa, ibadah lebih di kuatkan dan terutama Puasa Daud.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sakit. Kepala sangat sakit itu kurasakan sangat kuat di bulan September. Bahkan saat Ujian KKN dalam kondisi sakit kepala berat, namun tetap Aku sempatkan dan berdrama baik-baik saja. Berhasil. Setelah ujian KKN selesai, Aku tidak bisa menahan lagi. Menangis lagi. Depresi lagi. Sakit di kepala. Berat rasanya pada waktu itu. Tetap, dalam kondisi sakit, ada tanggung jawab yang harus di selesaikan. Beruntung sungguh selesai dengan nilai yang sangat baik.

Awal Puasa Daud itu dampaknya belum begitu kuat kurasakan, meski sudah lumayan baik, terutama bagian menjaga ibadah wajibku. Sehingga kekacauan fikiran mental beberapa kali tetap Aku rasakan. Ada beberapa problem yang Aku terima. Problem seputar kesalahfahaman paling utama.

Puasa Daud mulai kujalankan. Niat ku bulatkan dengan berbagai tujuan. Kuliah, kejiwaan, agama dannnn cinta. Semua bersatu padu untuk hal yang jauh lebih baik. Kuliah itu paling utama dengan bentuk penelitian sepanjang melaksanakan puasa daud. Kejiwaan itu juga agar bisa menjalankan berbagai kehidupan dengan baik. Kehidupan akademik juga harus didukung dengan jiwa yang sehat. Agama juga penting banget. Ada kekacauan di dalam diriku terkait agama yang pada September 2021 Aku alami dan berusaha Aku perbaiki. Terakhir tentang cinta. Rasa cinta itu wajar adanya kepada lawan jenis. Namun kalau Aku sudah jatuh cinta kepada seorang pria, aku sangat ingin chat seorang pria tersebut dan juga salting berat. Makanya Aku perjuangkan ke normalan rasa dengan Puasa Daud juga.

-=-

Kuliah, Menjalani dengan bahagia dan semangat. Dosenku juga semangat sebabnya. Penyampaiannya enak dan menyenangkan. Membuat Aku betah ikut kuliah online via Zoom tersebut. Meski berbeda tempat, namun tetap ada catatan khusus tentang kuliah tersebut. Sedikit catatan atau banyak catatan. Kejadian paling unik itu kuliah sambil mengendarai motor. Tidak mau ketinggalan kuliah zoom di mata kuliah ini maupun mata kuliah lain. Zoom Meeting itu pengganti kuliah offline yang bagus juga.

Ilmu yang Aku dapatkan semasa 4 bulan menjalani perkuliahan itu cukup banyak. Meski ya biasa. Pemahamanku tidak setinggi teman-teman lain. Tetap Aku berusaha untuk memahami isi materi yang di sampaikan. Lalu di sesuaikan dengan tujuan Final Paperku. Ada ilmu 'Bir Wa Taqwa' yang sangat Aku ingat. Lalu beberapa teori dan video yang di berikan.

Menjalankan kuliah dengan puasa daud itu sangat menyenangkan. Ada beberapa kemudahan yang dirasakan. Termasuk kemudahan dalam hal quota. Ada saja jalan agar tetap mengikuti kuliah. Jika tidak ikut kuliah sesuai jadwalnya itu rasanya sangat menyesal. Ilmunya bagus sekali. Kuliah melalui Zoom Meeting atau Google Meet selalu Aku ikuti. Enak. Keadaan beruntungnya sangat mendukung.

Akhir perkuliahan tepat masa 4 bulan. Final Paper sudah siap inti-intinya. Namun ada keinginan lain mengganti dengan tema lain. Saat hari ujian baru di persiapkan. Selesai dengan tidak maximal. Mengirimkan tidak maximal. Namun penyesalan itu berusaha Aku hapus dengan memaximalkan tulisan ke berbagai media. Mengaplikasikan ilmu di perkuliahan ini agar bisa sampai berbagai media. Kalau Aku nulis banyak, berarti sama saja Aku memahami yang Aku tulis. Itu dia tujuan utamanya, memahami ilmunya. Biar tidak sia-sia ikut kuliahnya. Nilai itu juga penting banget, paling utama untuk membahagiakan kedua orang tuaku kalau nilainya bagus.

Terakhir, usaha maximal sudah berusaha di lakukan, saatnya menunggu hasil. Berharap bisa mendapatkan hasil terbaik. Akan ada rindu kuliah bersama di S 1 pastinya nanti.

-=-

Membicarakan suatu problem yang cukup menekan mentalku. Wajar jika tertekan mental. Ada suatu sindiran dan diskriminasi yang tertuju jelas padaku saat bertemu langsung ataupun saat berada di suatu forum online. Aku yang pernah mengalami trauma beberapa tahun silam dengan bullying verbal, sangat merasakan tekanan mental begitu kuat dengan kejadian yang mirip tersebut.

Sindiran dan diskriminasi. Sindiran itu adalah sindiran berupa tuduhan yang jelas salah kaprah. Parah banget asli. Ada sindiran pencurian, nark, cewek bernoda. Itu disertai diskriminasi yang hanya mementingkan kelompok tersebut dengan menyisihkan Aku. Anggota lain di ajak jajan, Aku tidak seolah Aku tidak memiliki uang pada waktu itu. Jika seperti itu wajar Aku sadar sekali sedang terkena bullying verbal dengan sindiran salah kaprah. Aku perhatikan. Lucu sekali sikap kekanak-kanakkannya para pelaku yang sok paling benar sendiri. Sok paling keren juga tampaknya. Lucu. Waktu kejadian Aku ada sesi menahan tawa. Aku tidak sesuai dengan sindiran mereka. Lucu. Mungkin mereka menyindir yang goib kali ya. Tapi kok ngarah ke Aku terus ya. Ya sudah kuanggap sedang menyaksikan komedi. Hahaha...

Kondisi mendapatkan bullying verbal dengan sindiran tersebut Aku menanggapinya dengan diam dan bersikap tenang. Hal ini memiliki beberapa penyebab. Pertama, Aku sudah capek menambah masalah. Baru banyak masalah wajar Aku pada waktu itu. Kedua, Aku ingin pelaku dan korban sama-sama tetap nyaman. Ketiga, Aku sedang butuh Do'a maqbul, nahhh moment itu tepat sekali untuk Aku gunakan ber Do'a sepuasku. Kan Do'a orang teraniaya dekat dengan Allah. Berdo'a yang baik-baik saja, terutama Do'a menyerahkan segala pembalasan bullying verbal itu kepada Allah. Tidak mau mengotori mulut dan tanganku untuk membalas hal yang sia-sia. 1 korban banding 10 pelaku. Wajar Aku tau kemungkinan besar Aku akan kalah. Meskipun Aku benar. Biar Aku mengalah saja. Aku puaskan berdo'a saja dan bersikap tetap tenang. Setelah mentalku tidak kuat lagi bertahan dan Do'a sudah puas Aku panjatkan, Aku pergi dari rombongan tersebut. Pamit dengan balasan yang cukup menyiratkan menyudutkan Aku banget dari beberapa anggota.

Kepergianku cukup membuatku terluka. Sangat terluka di dalam hati. Tidak menyangka akan menjadi seterluka itu kebersamaan bersama mereka yang Aku kira sungguh baik. Mengendarai motor pun dengan fikiran ku yang sungguh kacau akibat ulah kurang beradab tersebut. Aku mencoba meredakan kekacauan diri dengan mengelilingi Kota berkali-kali, namun nyatanya gagal. Aku kembali ke kontrakan, menangis kencang, linglung, sakit kepala, fikiran menuju ke akhir hidup  yang salah, usaha bertahan hidup Aku lakukan dengan kuat. Aku pun ke Dokter Jiwa berbayar demi menyelamatkan diri. Usai dari berobat, Aku masih linglung dan sering sakit kepala.

Hasil konsultasi ke Dokter Jiwa, Aku harus menjauhi lingkungan negatif dan memperbanyak lingkungan positif. Aku pun memutuskan untuk menghentikan semua tanggung jawab awalku pada lingkungan yang sudah menjadi negatif tersebut. Sebelum berlanjut ke hal yang sulit Aku lepaskan. Alasannya Aku sakit kepala. Itu alasan yang benar. Alasan di balik alasan yang sebenarnya yaitu Jiwaku, mentalku terganggu akibat ulah mereka. Beruntung mereka mau memahami.

Hari selanjutnya, sungguh Aku berusaha menghindari mereka. Jika bertemu Aku tetap bersikap baik-baik saja, meski ada rasa sesak di dalam diri. Beruntung lama-lama Aku menjadi biasa kembali kepada mereka yang pernah membully verbal ke Aku. Hingga Aku benar-benar menghapus rasa sebelku ke pelaku. Meski ingatan kejadian bullying verbal tersebut masih sulit terhapus begitu juga lukanya yang masih sulit Aku hapus. Pada kondisi seperti ini, Aku baru berani kembali ke mereka tanpa membicarakan kejadian yang sebenarnya itu sebuah permasalahan. Biar tetap damai kedua belah pihak.

Yaa, begitulah. Bermuka dua untuk hal baik tidak apa-apalah ya. Meski muka duanya itu suatu saat akan terbongkar juga mungkin.

-=-

Agama. Menjadi seorang muslim memiliki kewajiban dalam beragama yang baik. Menjalankan kewajiban sebagai seorang umat beragama dengan baik. Itulah yang sedang Aku perbaiki. Sebab terkait agama, Aku pernah mengalami kekacauan. Shalat pernah seutuhnya di tinggalkan sampai membuat hidup terasa sangat hambar. Kemudian setelah masa kacau di kejiwaan, Aku berusaha mengembalikan ke taatan itu dengan beragam lika-liku dari konsisten dan tidak konsisten. Tetap saja harus ada usaha dalam kebaikan. Menjadi umat beragama juga harus menjalankan kewajiban. Jika bisa ya ada hal sunnah.

Puasa Daud yang Aku lakukan ini membuat keagamaanku lumayan baik. Ada penjaga untuk tetap melaksanakan kewajiban di saat wajib melaksanakan. Setiap kali down sekali ibadah, puasa Daud kembali menjaga. Sikap juga menjadi jauh lebih terjaga. Ada ketenangan yang Aku rasakan saat puasa Daud. Ada banyak luka yang  berhasil terhapus semasa melaksanakan Puasa Daud.

Melaksanakan Puasa Daud di masa 4 bulan melaksanakannya membuat ketergantungan dengan Puasa Daud. Meski terhalang beberapa keadaan normal wanita. Ada kemalasan. Ada keadaan luar berupa godaan makan bersama juga. Semua cobaan berusaha di hadapi.

-=-

Cinta. Ku Akui jika Aku jatuh cinta itu sangat aneh. Makanya Aku berusaha untuk mencegah diriku jatuh cinta dahulu. Inginnya jatuh cinta kepada jodoh nanti kalau sudah pantas. Sebab dampak dari rasa cintaku ini akan aman kalau tercurahkan kepada yang sudah sah. Kalau belum sah, ya sangat bahaya.

Saat sedang jatuh cinta, Aku sangat sulit menahan keinginan chat ke seorang pria yang Aku cinta. Pernah saat maba kejadian buruk ke pria, yang beruntung pada beberapa tahun kemudian hubunganku dengan pria ini kembali baik. Kemudian semester 5 Aku jatuh cinta kepada seorang pria baru tanpa ada penjagaan kuat yang membuat Aku keseringan chat dan salting kepada pria baru ini. Endingnya saat Aku merasa sudah tidak kuat lagi, Aku Ikhlaskan dan hapus rasa cintaku kepada pria baru yang sejak semester 5 Aku cinta. Berhasil dan Aku kembali normal ke seorang pria baru.

Jika wanita keseringan chat Pria bukan Mahram nya itu sangat tidak baik. Bisa membuat risih Pria tersebut. Wanita juga mar'ah / harga diri yang harus dijaga baik-baik. dengan sering chat Pria bukan Mahram dengan tujuan sangat tidak penting itu bisa merusak harga diri wanita. Maka itu yang Aku cegah di setiap hal baru lain.

Cinta terakhir saat ini yang sedang berusaha Aku hapus juga di akhir tahun 2021, hadir bertepatan juga saat sikapku Aku jaga dengan Puasa Daud. Hal unik terjadi. Sikap wajarku banyak keinginan chat terminimalisir. Pencapaian besar banget itu. Aku jarang banget chat seorang Pria yang Aku cinta. Kambuh besarnya itu kalau Aku lagi bulanan 1 minggu. Makanya hubunganku dengan pria baru lain ini yang terakhir aku cinta sementara, mungkin itu cukup baik hingga bulan ke 4 Aku puasa Daud. Baik dengan sedikit kekacauan. Lumayanlah... Aku apresiasi diriku sendiri atas hal baik ini. Good job. Lanjutkan. 

Puasa Daud terbukti merubahku di bab cinta. Jadi kalau puasa Daud Aku lakukan sejak lama, kemungkinan besar sikapku ke Pria yang Aku cinta sebelumnya tetap baik sejak lama. Namun tidak apa-apa. Aku juga sangat bersyukur atas lika-liku yang tergolong indah ini. Berhasil mengambil hikmah di balik permasalahan yang Aku miliki. Berharap seperti itu terus ketika memiliki kesalahan, harus di instropeksi untuk diseleksi yang perlu di perbaiki beserta solusi keluar dari permasalahan yang ada.

Cinta dan Puasa Daud untukku itu cukup berhubungan erat. Puasa Daud menjagaku dalam rasa cinta. Cinta yang sulit Aku jatuhkan ke sembarang orang. Cinta yang apa adanya. Tidak tau penyebab hadirnya.

-=-

4 bulan puasa Daud.

Haloooo ini akhir bulan Desember 2021. Hidupku sudah jauh terasa lebih bahagia. Jiwaku sudah sehat. Perubahan baik sudah banyak Aku temukan. Jadinya terkait apapun itu di balik 4 bulan puasa Daud, Aku sangat berterimakasih. Terimakasih untuk Allah. Terimakasih Dosenku yang baik. Terimakasih seorang bukan mahram yang sedang berusaha Aku hapus dari hatiku. dan banyak lagi yang baik-baik saja. Terimakasih banyak. Hidupku saat ini lebih terasa indah.

End

 

Ikuti tulisan menarik Nur Hanifah Ahmad lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu