Mengapa Hatinya Kotor? - - www.indonesiana.id
x

Hati

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 April 2022 22:32 WIB

  • Topik Utama
  • Mengapa Hatinya Kotor?

    Apakah hati saya bersih? Saya tahu, orang lain juga tahu dan dapat merasakan dari sikap dan perbuatan saya. Apalagi Allah.

    Dibaca : 736 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perbuatan benar dan baik, selalu datang dari hati yang bersih dan otak yang cerdas.

    (Supartono JW. ditulis ulang, 17042022)

    Kapan berhenti, kapan disudahi? Para pemimpin sendiri juga terus ikutan memanasi. Ada yang mau duel sebagai ujung dari saling serang. Ada yang terus dihujat. Dan ada yang ini, ada.yang itu, rasanya suasana Ramadhan tetap saja sama seperti bulan-bulan yang lain. Penuh hawa nafsu.

    Dalam fase 10 hari kedua ibadah Ramadhan yang penuh ampunan ini, ternyata kisah-kisah tentang perbuatan manusia yang dasarnya dari hati tak bersih, masih terus konsisten di +62, sebab antara pemerintah, parlemen, dan rakyat terus ada jurang masalah.

    Hal itu dapat dipotret minimal hanya dari sekadar membuka berita di media massa maupun membuka media sosial. Isinya membanggakan diri, saling serang, menyalahkan, saling tantang, dan sejenisnya, tetapi rakyat pada umumnya tetap saja tertekan. Dan, itulah manusia-manusia Indonesia yang ikut ambil bagian dalam pesta kekuasaan terkini, sifat dan karakternya nampaknya justru semakin terbentuk bak sifat setan.

    Malaikat, setan, manusia@@ Semua umat manusia, siapa yang tidak tahu, bila sesuai ajaran agamanya, Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini memiliki sifat khusus.

    Malaikat, diciptakan Allah dengan sifat khususnya selalu patuh pada Allah dan selalu berbuat baik. Jika ada malaikat yang tidak patuh, maka ia tidak lagi dinamakan malaikat. Karena kepatuhan itulah ia disebut dengan malaikat.

    Setan, diciptakan oleh Allah dengan sifat khusus, selalu ingkar kepada Allah dan selalu berbuat kejahatan. Jika setan ada yang patuh dan berbuat baik, maka ia tidak lagi dinamakan setan dan harus diganti namanya.

    Manusia dicipta Allah sifat patuh dan ingkar. Kepatuhan manusia kepada Allah bisa lebih malaikat daripada malaikat. Sebab kalau malaikat patuh tidaklah aneh, karena ia tidak mempunyai sifat ingkar. Akan tetapi, jika manusia yang patuh dapat dikatakan luar biasa, karena manusia sanggup mengekang sifat ingkarnya.

    Pertanyaanya, mengapa manusia bisa ingkar? Jawabnya, karena manusia diciptakan dari dua unsur. Unsur yang pertama ialah jasmani atau jasad, diciptakan dari tanah dan bersifat benda atau materi.

    Jasmani manusia juga dilengkapi dengan hawa nafsu. Hawa nafsu, berarti keinginan dan kecenderungan kejasmanian dan ia tidak mungkin dibunuh kecuali manusia itu sendiri yang mati. Tanpa nafsu manusia tidak akan ada keturunan.

    Karenanya, hawa nafsu wajib dikontrol dan dikendalikan. Bila tak terkontrol, maka ia akan mendorong manusia mementingkan hidup kematerian atau kebendaan. Manusia seperti itu akan mudah hanyut dalam kehidupan yang tidak bersih, bahkan mudah berbuat kejahatan. Dengan kata lain, manusia seperti ini biasa berkubang dalam kebejatan, karena hanyut dalam pusaran duniawi.

    Kedua, manusia dicipta dengan dilengkapi unsur rohani. Berasal dari unsur roh, yang berarti suci. Karena roh berasal dari sesuatu yang suci, maka kebutuhannya pun juga bersifat rohani dan suci. Roh inilah yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang suci dan terpuji.

    Karena terbuat dari dua unsur, jasmani (hawa nafsu) dan roh, maka keingkaran manusia dapat lebih setan daripada setan. Sebab setan tidak pernah memotong-motong hak rakyat, sedangkan kebiadaban manusia bukan hanya mampu memotong hak sesamanya, bahkan tega melakukan perbuatan yang sangat biadab sekalipun.

    Itulah sebabnya, manusia bisa menjadi setan, maksudnya bukan bentuk manusia yang berubah menjadi setan, tetapi perbuatan manusia itu sendiri sudah menjadi perbuatan setan, bahkan melebihi perbuatan setan.

    Untuk itulah Allah membimbing manusia dengan mewajibkan beribadah kepada-Nya agar rohani manusia selalu bersih dan bening. Dengan kebersihan rohani inilah keinginan jasmani manusia akan dapat terkendali.Tempat bersemayamnya rohani manusia pada hati. Kebersihan hatilah yang menentukan buruk-baiknya seseorang.

    Dalam Al-Quran Surat Al -Hajj, ayat 46, Allah berfirman: "Maka sesungguhnya bukan mata kepala mereka yang buta, tetapi mata hati mereka yang buta. Apabila dalam dirinya terdapat hati yang bersih, maka akan lahir di sana akhlak yang terpuji. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang tersimpan hati yang kotor, maka akan lahir di sana akhlak yang bejat."

    Dalam kenyataannya, hati yang bercahaya akan melahirkan watak terpuji, seperti keikhlasan, kejujuran, kesederhanaan, baik pada diri manusia mulai dari rakyat jelata sampai pada pemimpin bangsa. Sedangkan hati tanpa nurani akan melahirkan watak kotor dan jahat, biadab.

    Orang-orang yang memiliki hati bersih, dapat mengoreksi diri, merefleksi diri, instrospeksi diri, tahu diri, luhur budi, rendah hati, hingga dapat mengendalikan diri.

    Mengapa Alquran diturunkan Allah Yang Maha Suci, pada bulan Ramadan yang suci? Sebab Allah menurunkannya kepada orang yang hatinya suci. Bukan kepada orang yang hatinya kotor dan berkarat.

    Semoga di fase 10 hari kedua ibadah Ramadhan 1443 Hijriah ini, orang-orang yang terus bikin keruh dan kisruh di Indonesia, yang masih berperilaku lebih setan daripada setan, dibukakan mata dan hatinya, lalu menyadari bahwa perbuatan mereka selama ini adalah perbuatan setan, bukan manusia. Sebab, hatinya tak bersih, jadi sangat gemar berlumpur kejahatan.

    Hakikat malaikat selalu patuh, hakikat setan selalu ingkar dan jahat, dan hakikat manusia adalah patuh dan ingkar, jahat. Bila hati manusia bersih, maka akan terhindar dari sifat dan sikap ingkar dan perbuatan jahat.

    Apakah hati saya bersih? Saya tahu, orang lain juga tahu dan dapat merasakan dari sikap dan perbuatan saya. Apalagi Allah.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.