Rosihan Anwar: Sastrawan dan “Raja Jin” - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rosihan Anwar. ANTARA/Fanny Octavianus

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 11 Mei 2022 20:26 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rosihan Anwar: Sastrawan dan “Raja Jin”

    Sosok Rosihan Anwar dikenal publik sebagai tokoh pers. Beliau adalah wartawan senior,yang melintasi 4 zaman. Akan tetapi, jarang yang mengenal bahwa Rosihan Anwar juga sastrawan yang andal.

    Dibaca : 421 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rosihan Anwar: Sastrawan dan “Raja Jin”

    Peringatan seabad Rosihan Anwar  dirayakan pada 10 Mei.  Ia pada lahir tanggal 10 Mei 1922, di Kelurahan Kubang Nan Duo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sosoknya  lebih dikenal publik sebagai tokoh pers, sejarawan, dan budayawan Indonesia.  Padahal, kiprahnya di bidang sastra pada masa Jepang juga tak bisa diabaikan.

     

    Sastrawan

    HB Jassin mencatat nama Rosihan Anwar sebagai sastrawan yang mulai menulis pada masa Jepang.  Giat keastraannya diawali  dimulai dengan memublikasikan puisi-puisinya di berbagai media massa pada waktu itu, antara lain, di surat kabar Asia Raya, Merdeka, dan majalah mingguan politik dan budaya Siasat.

     

    Beberpa puisinya dimasukkan H.B. Jassin ke dalam bukunya Kesusastraan Indonesia di masa Jepang (1948). Ia menulis sejumlah puisi berjudul:

    “Keyakinan,”

    “Mari Kumandangkan Indonesia Raya, ”

    “Manusia Baru, ”  

    “Pulang Berjasa,”

    “Musafir,”

    “Kini Abad Rakyat Jelata, ”

    “Di Kubur Pahlawan,”

    “Bukan Mimpi,”

    “Raja Jin,”

    “Di dalam Revolusi,”

    “Lukisan,”

    “Kisah di Waktu Pagi,”

    “Kami Kenangkan kembali”

    “Seruan Lepas”

    “Hamba”

    “Bertanya”

    “Lahir dan Batin”

    “Untuk Saudara”

    “Kepadamu Gunung,” dan

     “Indahlah Nusa.”

     

     

    Rosihan juga menerjemahkan puisi-puisi asing ke dalam bahasa Indonesia. Di antaranya, puisi yang ditulis oleh pahlawan kemerdekaan Filipina, Yose Rizal, yang berjudul “Mi Ultimo Adios” yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “Selamat Tinggal”.

    Walaupun bukan terjemahan langsung, puisi terjemahan itu dinilai para kritikus, antara lain Ramadhan K.H., sebagai puisi yang berhasil. Penelaahan Rosihan atas riwayat pahlawan Yose Rizal serta daya upaya Rosihan memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia membuat masyarakat Filipina senang.

     

    Tahun 1961, dalam rangka memperingati hari ulang tahun pahlawan itu, pemerintah Filipina mengundang Rosihan Anwar ke negaranya. “Selamat Tinggal” (“Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia) pun berkumandang, dan dibacakan langsung oleh Rosihan, pada acara itu.

     

    Terjemahan Rosihan yang lain adalah sebuah puisi dari Henriette Roland Holts, penyair Belanda yang sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1940-an. Puisi yang diterjemahkan itu, kemudian, dipasang menghiasi tugu batu pualam Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang.

     

    Selain menulis puisi Rosihan Anwar juga menulis cerita pendek dan novel. Dua cerpennya berjudul: “Pamanku” dan “Radio Masyarakat”. Cerpennya yang berjudul "Radio Masyarakat" memenangi sayembara penulisan cerpen pada masa Jepang. Satu novel yang ditulisnya berjudul “Raja Kecil: Bajak Laut di Selat Malaka.”

    Ragam tulisan berisi tentang kisah perjalanan, antara lain (1) Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959); dan (2) Inia dari Dekat, (1954). Karya Jurnalistik, antara lain (1) Profil Wartawan Indonesia, 1977; dan (2) Perkisahan Nusa: Masa 1973—1985, (1986). Ihwal sejarah, antara lain (1) Mengenang Sjahrir (editor) (1980); (2) Sejarah Pergerakan Nasional dan Islam, (1972); (3) Ajaran dan Sejarah Islam untuk Anda (1979); (4) Sebelum Prahara: Pergolakan Politik 1961—1965 (1981); dan (5) Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950, (1985). Studi, antara lain (1) Ihwal Jurnalistik (1974); (2) Islam dan Anda (1962); (3) Masalah-Masalah Modernisasi, 1965/1966; (2) Ke Barat dari Rumah (bersama Mochtar Lubis dan S. Tasrif) (1952); (3) Kisah-Kisah Zaman Revolusi, cerita kenangan, (1973); (4) Kisah-Kisah Jakarta setelah Proklamasi, cerita kenangan (1977); dan (5) Kisah-Kisah Jakarta Menjelang Clash I, cerita kenangan, (1979) dan (3) Bahasa Jurnalistik dalam Komposisi, (1979). Otobiografi, yaitu Menulis dalam Air, (1983).

    Daftar karya sastra dalam majalah, antara lain (1) Majalah Pandji Poestaka (1942): puisi "Angkatan Baru"; (2) Majalah Djawa Baroe 1943: cerpen "Radio Masyarakat" dan puisi "Untuk Saudara"; (3) Majalah Pandji Poestaka 1943: puisi "Bertanya", "Damba", dan puisi "Lahir dengan batin"; (4) Majalah Djawa Baroe 1944: cerpen "Pamanku" dan puisi "Jarak belum bertitian"; (5) Majalah Pembangunan 1946: puisi "Kepadamu, gunung"; (6) Majalah Siasat 1947: cerpen "Mippie" dan cerpen "Si Bisu"; (7) Majalah Siasat 1949: puisi "Journey"; 1968: "Kepercayaan seorang tua"; dan (8) Majalah Mahasiswa Indonesia 1966: puisi "Apel siaga" dan puisi "Tradisi Helli".

     

    Apabila kita mempelajari sejarah sastra Indonesia, kita mengenal beragam angkatan. Salah satunya adalah Angkatan 45. Ternyata, istilah "Angkatan 45" yang dikenal dalam dunia kesusastraan Indonesia berasal dari Rosihan Anwar.

     

    “Raja Jin”

    Selain menulis, Rosihan Anwar memiliki perhatian pada dunia film. Terbukti, ia sering menulis kirtik film dan dilibatkan penjurian Festival Film Indonesia. Selain itu, ia tunjukkan pula dengan selalu hadir pada setiap acara selamatan produksi film yang digelar Rapi Films pada awal produksi.

    ”Saya ini, waktu zaman Jepang, pernah main film jadi raja jin. Saya lumayan percaya diri, lho, buat main film,” kata Rosihan saat selamatan produksi film berjudul “Taring”.

    Film yang memulai pengambilan gambarnya pada 17 Februari 2009 ini didoakan Rosihan bisa laris. ”Kehadiran saya pada acara selamatan ini ada magic-nya, lho. Kalau saya datang, filmnya selalu laku. Insya Allah film karya Rizal Mantovani ini laku. Tadinya saya bingung, Mantovani zaman dulu, kan, penyanyi, ya? Mantovani yang sekarang ini sutradara film, he-he,” kelakar Rosihan.

     

    Rosihan Anwar adalah penyandang Bintang Kerajaan Tunisia (1955), Bintang Mahaputra Utama I (1973), dan Bintang Rizal  Piliphina (1977). Ia pun menerima Pena Mas dari Konggres Nasional XVI PWI (1978).



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.