Serikat Petani Menolak Rencana Impor Beras 2023 - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih. Foto- Ist.

djohan chan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2019

Selasa, 29 November 2022 17:30 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Serikat Petani Menolak Rencana Impor Beras 2023

    Bulog menyatakan persediaan stok beras tidak mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri. Komisi IV DPR RI mendukung pemerintah impor beras pada tahun 2023 guna menjaga ketahanan pangan. Namun Serikat Petani Indonesia menolak rencana tersebut.

    Dibaca : 798 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Badan urusan logistik (Bulog) menyatakan persediaan stok beras tidak mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri. Komisi IV DPR RI mendukung pemerintah lakukan impor beras pada tahun 2023 guna menjaga ketahanan pangan. Namun Serikat Petani Indonesia menolak rencana impor beras tersebut. “Petani menolak rencana impor beras sesuai dengan Undang-undang Pangan No : 18 Tahun 2012, tidak boleh impor pangan sepanjang produksi pangan masih bisa diadakan dari dalam negeri,dan lagi Bulog hanya butuh cadangan beras, hingga akhir tahun 2022,” kata Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih.

    Pemerintah Akan Impor Beras 2023, Karena Gagal Panen

    Menurut dia selayaknya Bulog fokus menyerap beras dari petani guna memenuhi jumlah kekurangan stok beras Bulog, sebanyak 1,2 juta ton. Hingga pada akhir tahun 2022, dan lagi pemerintah, melalui Presiden dalam suratnya menetapkan, kebutuhan beras itu hanya untuk cadangan pangan, tetapi bukan untuk cadangan pangan nasional.

    Henry Saragih menilai kekurangan stok beras yang dihitung Bulog diduga hanya untuk cadangan pangan di lingkungan khusus. Belum memperhitungkan berapa cadangan pangan beras yang ada di sejumlah daerah, baik itu provinsi, kabupaten, dan kota yang ada di Indonesia.

    Pada hari Selasa (22/11/2022) Henry secara tertulis sempat menyatakan, “Betulkah beras yang disebut surplus, ada di tengah masyarakat petani, atau justru berada di tangan perusahaan besar, korporasi swasta besar? Kita tidak tau ada pemainnya atau tidak. Berapa sesungguhnya beras yang disimpan pemerintahan di daerah?" 

    Pertanyaan itu disampaikan Henry Saragih terkait adanya pengakuan Kementrian Pertanian yang mengataka  produksi pangan (beras) Indonesia cukup hingga Desember 2022. Kenyataannya sekarang Bulog mengatakan cadangan beras hingga Desember 2022 belum bisa untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

    Selain itu Henry juga menilai belum maksimalnya kerja Badan Pangan Nasional (Bapanas). "Semestinya Bapanas sebagai badan otoritas penentu mengambil keputusan, perlu dan tidaknya dilakukan impor beras, dalam cadangan pangan. Tetapi bukan ditentukan oleh pihak lain, sehingga terjadinya polemik impor atau tidak impor, seperti saat ini," katanya.

    Petani sudah kerja keras untuk berproduksi beras. Bulog dan Bapanas dianggap Henry belum kerja maksimal. "Seharusnya pas panen raya Bulog memperbanyak gudangnya untuk menampung hasil panen, bukan seperti saat dipertengahan atau panen kecil seperti sekarang," tuturnya.

    Sementara itu Direktur Utama (Dirut) Badan urusan logistik (Bulog) Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI di Senayan Jakarta, pada hari Rabu kemarin, (23/11/2022) menjelaskan. Stok beras yang ada di Badan urusan logistik (Bulog) yang dipimpinnya itu masih tersisa dibawah 600 ribu ton.

    Untuk cadangan di bulan Desember 2022 sebanyak 1,2 juta ton, dikhawatirkan Bulog tidak mampu memenuhi Survei Cadangan Beras Nasional (SCBN) tersebut, untuk itu Bulog berharap. Kementrian Pertanian (Kementan) dapat membantu kekurangan cadangan stok beras dimaksud.

    Dirut Bulog. Budi Waseso mengaku, pihaknya telah berupaya, menghubungi 4 perusahaan pengadaan beras di daerah, sebagaimana disarankan oleh Kementan RI. Bahwa PT Alung, katanya punya stok beras 100.000 ton, ternyat yang tersedia hanya sebanyak 7.000 ton.

    Demikian halnya dengan PT Pilar Menara Mas Malang (Willy), mwnueur pihak Kementan, perusahaan itu memiliki stok 260 ton, nyatanya hanya sebesar 20.000 ton, dan tidak bersedia kerja sama dengan Bulog. Selanjutnya, CV Alam Putra Mandiri Tegal (Doyok), informasi dari Kementan memiliki stok beras 100.000 ton. Nyatanya yang ada hanya 20 ton.

    “ ada tanggal 9 November 2022, hasil crosscheck Bulog, bersama TNI dan Polri, telah saya laporkan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Tentang kesediaan stok beras tersebut,” kata Buas. Dalam RDP dengan Komisi IV DPRRI yang diketuai oleh Sudin.

    Direktur Serealia Kementerian Pertanian, Ismail Wahab menjelaskan “harga beras di pasaran saat ini Rp 10.300/kg. Harga rata-rata beras di penggilingan sudah Rp 10.300 per kg. Oleh sebab itu cadangan beras Bulog tidak mencapai 1,2 juta ton, karena harga beli Bulog hanya Rp 9.700 per kg, itu kendalanya," kata Ismail dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (18/11/2022).

    Terkait dengan penjelasan Kementerian Pertanian, tentang harga beras yang dibeli oleh Bulog terlalu murah, maka untuk menutupi kekurangan stok beras Bulog Desember 2022 sebanyak 651.000 ton diserahkan penyerapannya pada Kementan, dan hal ini disepakati Kementan, melalui Sekretaris Jendral (Sekjen) Kementrian Pertanian, Kasdi Subagyono, dalam RDP dengan Komisi IV DPR RI.

    “Periode Oktober sampai Desember 2022, Bulog telah berupaya menyerap beras hingga 1,2 juta ton, namun realisasinya hanya mencapai 36.508 ton. Didapati dari Aceh 273 ton, Lampung 127 ton, Jawa Timur 1.289 ton, Sulawesi Seltan, dan Sulawesi Barat 31.373 ton, NTB sebesar 947 ton, dan Papu, Papua Barat sebesar 2.159 ton,” kata Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, dalam RDP.

    Ketua Komisi IV DPR RI. Sudin, dalam RDP yang dilaksanakan Rabu, (23/ 11/2022) di Senayan Jakarta menetapkan, bahwa Mentan harus memenuhi Cadangan stok Beras Pemerintah (CBP) ke Perum Bulog, sebanyak 600.000 ton. “ Angka itu hasil kalkulasi dengan stok Bulog yang ada pada saat ini, kurang dari 600.000 ton, maka nantinya terdapat total stok beras mendekati 1,2 juta ton,” kata Sudin.

    Dari keputusan RDP di DPR RI, bersama Komsi IV itu dapat disimpulkan, Kementan harus mengadakan 600 ribu ton beras untuk Bulog, pada hari Selasa/ Rabu, 29/30 Nopember 2022. Dalam kurun waktu selama 6 hari, terhitung sejak RDP Rabu, (23/ 11/2022).

    Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, dalam RDP menjelaskan. Beras di Perum Bulog per 13 November sebanyak 651.000 ton. Jumlah ini sangat rendah bila dibandingkan kebutuhan bulanan, mencapai 2,5 juta ton. Untuk itu ia minta adanya perhatian pemerintah pusat maupun daerah. Setidaknya stok beras untuk Bulog 1,2 juta ton sampai akhir 2022, kata Arief.

    Menurut Arief, cadangan beras Bulog sangat penting bagi stabilisasi harga beras di konsumen. Sebab, dengan cadangan di bawah 1 juta ton beras yang ada di Bulog, bisa memicu kenaikan harga beras di pasaran. Dicontohkan Arief, dalam 3 bulan terakhir. Agustus 2022, terjadi kenaikan harga beras sebesar 3,5 persen, September 4 persen, Oktober 3 persen.

    Dari catatan Bapanas, stok beras nasional minggu ke-1 November 2022 tercatat ada 6,71 juta ton. Perinciannya, 3 juta ton (50,5 persen) berada di rumah tangga, 1,4 juta ton (22,1 persen) di penggilingan, 800.000 ton (11,9 persen) di pedagang, 651. 000 ton (9,9 persen) di Bulog, 300.000 ton (5 persen) di hotel, restoran, café, dan 37.000 ton (0,6 persen) di Pasar Induk Beras Cipinang.

    Menurut Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, produksi beras nasional tahun 2022 akan naik 720 ribu ton atau 2,29 persen, jadi 32,07 juta ton. Dibandingkan tahun 2021 tercatat 31,36 juta ton. Harapan kenaikan produksi itu ditaksir sebanyak 5,9 juta ton atau naik 15,12% setara 780 ribu ton beras, pada bulan Oktober-Desember 2022. 

    Menurut Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah, Predikasi itu dari hasil Survei pihaknya pada bulan Juni 2022, digelar di 34 Provinsi. Meliputi 490 kabupat en/kota dengan jumlah sampel 47.817 sampel. Terdiri dari 14.100 sampel rumah tangga dan 33.717 sampel non rumah tangga, melibatkan 1.900 orang petugas sebagai enumerator," kata Habibullah.

    Di mana, berdasarkan hasil Kerangka Sampling Area (KSA) BPS, luas panen tahun ini diprediksi bertambah 1,87% atau 0,19 juta ha menjadi 10,61 juta ha, dibandingkan tahun 2021 yang tercatat 10,41 juta ha. sepanjang Januari-September 2022, produk si beras RI justru mengalami penurunan 0,22 persen (60 ribu ton), menjadi 26,17 juta ton. Hampir sama dengan produksi periode 2021, sebesar 26,23 juta ton. ***

    Ikuti tulisan menarik djohan chan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.