Tjong - Novelisasi Seorang Imigran Hakka yang Penuh Teladan Kehidupan

Minggu, 5 Februari 2023 08:00 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Novel "Tjong" karya Herry Gendut Janarto adalah sebuah karya yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Tjong adalah seorang imigran suku Hakka yang merantau ke Jawa. Hidupnya penuh perjuangan sehingga kita bisa belajar bagaimana mengatasi kesulitan hidup sampai menjadi sukses.

Judul: Tjong

Penulis: Herry Gendut Janarto

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2022

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xix + 329

ISBN: 978-602-06-6230-5

 

Novel “Tjong” karya Herry Gendut Janarto (HGJ) adalah novelisasi dari kisah hidup tokoh nyata bernama Tjong Kie Lin. Kehidupan Tjong Kie Lin (Tjong) penuh perjuangan dan bisa menjadi teladan bagi generasi sekarang. Namun karena Tjong bukan orang yang terkenal, maka HGJ tidak memilih membiografikan sejarah hidup Tjong. Ia memilih untuk menuangkannya dalam bentuk novel.

Hidup Tjong tidak mengalami peristiwa yang heroik. Tjong juga bukan orang miskin dari daratan Tiongkok yang kemudian menjadi konglomerat di Indonesia. Itulah sebabnya penuangan riwayat hidupnya dalam bentuk biografi menjadi kurang menarik. Dengan menuangkan sejarah hidupnya dalam bentuk novel, maka kehidupannya yang penuh perjuangan bisa dipelajari dan dijadikan teladan. Novelisasi juga memungkinkan kisah hidup tokoh yang penuh teladan bisa menjadi menarik.

Tjong lahir dengan nama Tjong Kie Gui dalam sebuah keluarga yang sangat miskin di desa Fu Yim Tong. Karena keluarganya sungguh sangat miskin maka ia dijual kepada sebuah keluarga yang merindukan anak, pada saat ia berumur tiga tahun. Ia menjadi anak angkat dari keluarga Tjong Se Khong dan Wei Ling, serta menjadi cucu dari Nenek Mu Lan, dan berganti nama menjadi Tjong Kie Lin.

Pada umur 13 tahun ia berlayar ke Jawa untuk menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu membangun hidup di pulau yang saat itu menjadi bagian dari Hindia Belanda. Ayahnya telah membangun toko di Kutowinangun dekat Purwokerto, Jawa Tengah. Di rumah ayah angkatnya, Tjong bekerja keras. Ia dengan cepat terampil membantu toko ayahnya.

Karena perlakuan ayahnya yang kejam, Tjong minggat dari rumah. Sejak itu perjalanan hidupnya penuh derita. Tetapi sifatnya yang cepat belajar dan mau kerja keras, Tjong akhirnya bisa mapan di Bandung. Nasipnya pun baik. Ia menang lotere sehingga bisa mengunjungi sang nenek di Tiongkok. Saat pulang ke Guangdong itulah ia menemukan jodohnya. Mertua Tjong adalah seorang pengusaha yang punya beberapa bisnis di Jawa.

Perjalanan hidup Tjong belum selesai. Saat ia mulai sukses, ia ditipu kawan karibnya sehingga bisnisnya di Bandung berantakan. Ia kemudian pindah ke Jogja untuk membantu usaha sang mertua. Ia mendirikan toko “Tjong Kie Lin” di dekat Pasar Bringharjo. Tjong memboyong ibu angkatnya (Ke Ke, istri kedua Tjong Se Khong dan anak-anaknya). Ia tidak membenci keluarga ayah angkatnya yang telah berlaku keras kepadanya.

Tjong adalah seorang veteran perang kemerdekaan. Sebab di Jaman Jepang, ia mendukung perjuangan laskar-laskar yang melucuti Jepang dan melawan Sekutu yang menyerbu Jogjakarta.

Meski menulisnya dalam bentuk novel, HGJ tetap mempertahankan kronologi kehidupan Tjong Kie Lin. Ia tidak mengubahnya. HGJ hanya merekonstruksi kisah hidup tersebut dengan data-data dan informasi-informasi yang sesuai dengan jamannya. Konteks sejarah Tiongkok yang saat itu sedang dalam perang yang tak menentu, dipakai sebagai latar belakang kemiskinan desa-desa di Tiongkok Selatan tempat Tjong dilahirkan.

Ia dengan teliti mempelajari kehidupan desa-desa di Tiongkok pada masa kecil Tjong, khususnya Kabupaten Moiyen. Ia mempelajari bentuk rumah, jenis-jenis tanaman pertanian, relasi antar anggota keluarga dan sebagainya. Risetnya yang mendalam ini mebuat kehidupan Kie Lin bisa “dihidupkan” dengan menarik. Contoh menarik adalah penggambaran keluarga Tjong yang datang menyerahkan Tjong kepada keluarga Nenek Mu Lan. Jenis buah-buahan yang dibawa adalah buah-buah - yaitu jeruk pamelo, yang memang dibudidayakan di daerah tersebut.

Karena Tjong berasal dari sub suku Hakka, maka HGJ secara sengaja menulis novel ini dengan setting Hakka. Di awal novel, ia menggambarkan anak Tjong yang datang dari Paris mengunjungi desa dimana ayahnya dibesarkan. Bentuk rumah Hakka (rumah bundar), jenis makanan dan cara menjamu tamu agung dipaparkan dengan baik dan detail.

HGJ secara konsisten menggunakan istilah-istilah yang digunakan oleh orang Hakka, seperti Namyong untuk menyebut Hindia Belanda, sapaan bobo untuk nenek dan sebagainya. HGJ merekonstruksi perjalanan Tjong dengan kapal yang saat itu lazim melayari jalur Jawa-Tiongkok (Guangdong)-Tokyo, yaitu Kapal Uap Tjisondari.

HGJ juga menggambarkan betapa persatuan para imigran Hakka di Jawa begitu solid. HGJ menggunakan masa Tjong lari dari rumahnya di Kutowinangun sampai mapan di Bandung. Dalam perjalanan hidup Tjong masa itu, ia banyak ditolong oleh orang-orang Hakka semarga.

Pilihan HGJ untuk mendokumentasikan riwayat hidup Tjong Kie Lin dalam bentuk novel adalah sungguh tepat. Saya menikmati novel ini baik dari sisi sang tokoh yang menjadi aktor utama, maupun alur cerita hasil novelisasi kehidupan tokohnya. 694

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua