Kita Tak Ingin Berpisah, Kita Hanya Dipaksa Berpisah oleh Keadaan

Kamis, 6 Juni 2024 06:43 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perkenalan kami memang singkat namun membuatku merasa bahwa kami memiliki banyak kesamaan. Setiap kali kami berbicara, aku semakin yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untukku. Namun, seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa perasaan kami harus diuji oleh kenyataan yang pahit.

Tulisan Ini hanya fiksi & Buah Imajinasi Penulis

Aku masih mengingat hari itu dengan jelas, hari ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kali di sebuah kajian agama di salah satu masjid ternama yang ada di Pekanbaru, belum ada percakapan sama sekali karena hanya sekilas memang dan tanpa sengaja. Pada akhirnya kami bertemu kembali untuk kedua kalinya, bedanya kali ini pertemuan itu di rencanakan dan di bantu oleh beberapa teman yang kebetulan juga temannya. Kali ini, aku dan ia berbicara banyak hal dan untuk pertemuan perdana yang di rencanakan, perbincangan kami cukup nyambung dan mengalir. Dia adalah wanita yang anggun, dengan senyum yang meneduhkan hati. Kami mulai berkenalan dan dalam waktu singkat, kami sering berbincang tentang banyak hal, terutama tentang agama dan kehidupan. Aku adalah seorang alumni dari salah satu universitas Islam negeri di Pekanbaru, dan dia adalah seorang guru, alumni santriwati dari pesantren ternama di Indonesia, serta lulusan universitas Islam yang juga terkemuka.

Perkenalan kami memang singkat namun membuatku merasa bahwa kami memiliki banyak kesamaan. Setiap kali kami berbicara, aku semakin yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untukku. Namun, seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa perasaan kami harus diuji oleh kenyataan yang pahit.

Ketika dia menceritakan tentang diriku kepada orang tuanya, kami dihadapkan pada kenyataan yang sulit. Meskipun aku berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan keseriusan dan komitmenku, serta latar belakangku, restu dari orang tuanya tak kunjung datang. Mereka memiliki kekhawatiran yang berbeda, dan meskipun dia mencoba untuk menjelaskan, keputusan orang tuanya tetap tak berubah.

Aku tahu bahwa restu orang tua adalah hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Meskipun hatiku berat, aku memahami bahwa kami harus menerima kenyataan ini. Kami memutuskan untuk berpisah dengan cara yang baik-baik, meskipun perasaan kami masih kuat satu sama lain. 

Berpisah karena keadaan, bukan karena keinginan sendiri, adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Kami berbicara dengan penuh kejujuran dan saling pengertian, dan memutuskan untuk tetap menjaga kenangan manis tentang pertemuan kami. Aku berharap dia menemukan kebahagiaan yang sejati, dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya.

Perpisahan ini mengajarkan aku tentang arti pengorbanan yang sebenarnya. Meskipun kami tidak bisa bersama, aku yakin bahwa setiap keputusan yang diambil dengan niat baik akan membawa kebaikan di masa depan. Aku akan terus melangkah dengan doa dan harapan, semoga suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang lebih baik, atau mungkin mempertemukan kami dengan orang-orang yang akan membawa kebahagiaan yang baru.

Kini, aku menjalani hari-hariku dengan kenangan indah tentangnya. Dia adalah seseorang yang mengajarkanku banyak hal, tentang kesabaran, pengertian, dan pengorbanan. Meski kami tak bisa bersama, aku percaya bahwa cinta sejati adalah tentang memberikan yang terbaik, bahkan jika itu berarti harus merelakan yang terindah. 

Semoga dia menemukan kebahagiaan yang dia cari, dan aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Begitulah kehidupan, penuh dengan kejutan dan rencana yang tak selalu sesuai dengan harapan kita. Namun, dengan keyakinan dan doa, aku yakin semua akan baik-baik saja.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terkini di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua

Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua