Aku Terjebak Di Taipei City

Rabu, 12 Juni 2024 14:50 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kisah idealisme seorang keturunan Tionghoa untuk menjadi benar-benar Indonesia.

Judul: Aku Terjebak Di Taipei City

Penulis: Dede. C.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2006

Penerbit: Ombak

Tebal: v + 260

ISBN: 979-3472-59-9

 

Membaca novel ini saya seperti melihat diri saya dalam cermin. Pergumulan seperti yang ditampilkan dalam novel ini sungguh persis seperti yang saya alami. Pergumulan yang pasti juga dirasakan oleh mereka para Tionghoa yang lahir di era Orde Baru. Bergumul karena ragu dengan jatidiri. Tak bisa membuang identitas kecinaan, tapi juga tak kunjung usai untuk berupaya menjadi Indonesia.

Tak lagi menjadi cina (dalam pengertian etnisitas) karena tak lagi leluasa mengaktualkan budaya. Saat yang sama tak bisa benar-benar merasa sudah Indonesia karena selalu dicurigai. Seperti yang diungkapkan oleh Dede dalam novel ini, rata-rata keturunan Tionghoa di Surabaya (baca: Jawa) tak lagi lancar berbahasa nenek moyangnya. Mereka sehari-hari telah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Namun perilaku yang njawani tersebut tetap tak bisa menghapus mata sipit, kulit kuning dan rambut lurus yang melekat sejak lahir.

Kadang-kadang pilihan hidup pun serba bermasalah. Misalnya kisah A Cong dalam novel ini yang memilih untuk masuk Fakultas Pertanian di sebuah perguruan tinggi negeri. ”Cong, kamu yakin? Nggak takut dibeda-bedakan?” (hal. 14). Itulah reaksi mama A Cong saat mendengar anaknya mau masuk Fakultas Pertanian. Kisah A Cong dalam novel ini persis sama dengan yang saya alami. Saat saya memilih Fakultas Pertanian, keluarga besar saya banyak yang mencibir.

Bukan hanya dari keluarga sendiri, saat sudah masuk di Fakultas Pertanian pun sering mengalami pengucilan. A Cong dicurigai sebagai mata-mata RRT karena masuk Fakultas Pertanian. Aneh? Memang! A Cong sering harus duduk menyendiri di belakang karena diacuhkan oleh teman-teman kuliahnya.

Saya suka dengan apa yang dituturkan oleh Dede dalam novel ini. Meski penuh pergumulan dan rintangan, Dede membawa optimisme bahwa orang Tionghoa bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Novel berjudul ”Aku Terjebak di Taipei City” karya Dede. C ini menggambarkan upaya keras seorang pemuda Tionghoa Surabaya untuk sepenuhnya menjadi Indonesia. Melalui persahabatannya dengan teman-teman kuliahnya (mereka menyebutnya Keluarga Pelangi) mencoba untuk mewujudkan kehidupan yang berbineka. Ia berkawan akrab dengan Asyhari, Happy, Diani dan Dewi (Islam, Jawa), Belinda (Kupang, Kristen) dan Zulkifli (Banjar, Islam). A Cong sendiri adalah seorang Katholik. Melalui persahabatan inilah mereka membangun sebuah konsep bernegara yang berbineka dalam skala kecil.

Dengan sikapnya yang terus berupaya untuk menjadi Indonesia, lambat laun A Cong bisa diterima di lingkungan kampusnya. Bahka ia terpilih menjadi Ketua Angkatan dan pernah mewakili jurusan dalam lomba mahasiswa berprestasi tingkat Provinsi Jawa Timur.

Selepas kuliah, A Cong memilih untuk belajar Bahasa Mandarin ke Taipei. Melalui kehidupan A Cong sebagai pelajar di Teipei, Dede mengungkapkan bagaimana ia merasa menjadi Indonesia. Sebab orang-orang Taipei yang notabene Cina, menganggap A Cong sebagai orang Indonesia sepenuhnya (hal. 64). Hal seperti ini pernah diceritakan oleh Margareta Astaman dalam bukunya ”Ecuse-Moi” (2011). Margie, demikian Margareta Astaman disapa, justru dianggap sebagai Indonesia 100% saat ia tinggak di Singapura.

Dede juga memakai kisah A Cong yang kemudian menjadi pengusaha di Taipei untuk menggambarkan bagaimana A Cong tetap menjadi orang Indonesia meski telah sukses di luar negeri. A Cong mula-mula mempunyai usaha toko grosir yang menjajakan barang-barang dari Indonesia. Setelah sukses dengan toko grosir, A Cong juga mendirikan usaha rumah makan masalan Indonesia. Ia memilh untuk mendirikan rumah makan halal, meski ia sendiri bukan seorang Islam. A Cong berupaya untuk memperkenalkan Indonesia melalui usaha rumah makannya di Taipei.

Dede menyelipkan kisah perjalanannya ke Tiongkok dan Amerika. Perjalan ke kedua negara ini dipakainya untuk menggambarkan batin orang Tionghoa terhadap negeri nenek moyangnya (Tiongkok) dan negeri yang biasanya menjadi idola para orang Tionghoa Indonesia, yaitu Amerika. Keinginan untuk kembali ke tanah leluhur selalu ada pada orang-orang yang nenek moyangnya berimigrasi ke tempat baru. Walau keinginan untuk kembali tinggal di tanah leluhur itu kecil saja.

Demikian juga dengan A Cong yang berkesempatan untuk mengunjungi keluarga pamannya di An He. Kunjungan ke An He ini memberi kesempatan kepada A Cong untuk melihat kemajuan negeri leluhurnya. Tiongkok telah berubah menjadi negeri yang makmur. Namun A Cong juga melihat berbagai hal yang bertentangan dengan nuraninya. Misalnya tentang Pemerintah Tiongkok yang tidak demokratis.

Tentang Amerika, Dede mengisahkannya melalui A Cong yang melakukan wisata ke Amerika selama 5 hari. A Cong menikmati berbagai hiburan yang ada di negeri Paman Sam tersbut. Namun ia juga menyaksikan wilayah barat yang gersang. Dede memberikan gambaran tentang Amerika melalui seorang gadis teman A Cong yang bernama Sofie yang tinggal di Los Angeles karena tertarik pada penghasilan daripada sebagai tempat hidup yang tenang (hal. 155).

Kesimpulannya, A Cong lebih memilih untuk menjadi Indonesia seutuhnya!

Di akhir cerita, untuk menggambarkan kebinekaan yang lebih dalam, Dede memilih akhir cerita dimana A Cong menikahi Mariam seorang janda beranak 2 keturunan Tionghoa tetapi telah memeluk Islam (hal. 256). Dikisahkan pasangan A Cong (yang spermanya lemah) dan Mariam mengadopsi 8 anak dari berbagai suku di Indonesia, selain membesarkan anak dari Mariam.

Kisah A Cong yang diroce oleh Dede ini penuh dengan gagasan kebinekaan. Karya Dede ini menggambarkan kerinduan dari kebanyakan orang Tionghoa yang lahir di era Orde Baru. Dede menawarkan sebuah solusi lain daripada yang selama ini diusung oleh Orde Baru, yaitu pelarangan penampilan budaya di ranah publik, penggantian nama dan promosi pernikahan asimilasi yang berlebihan. Dede mengajak orang Tionghoa untuk menjadi Indonesia melalui pemikiran dan perilaku. 839

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua