x

Sumber gambar: Bing AI

Iklan

Wahyu Kurniawan

Penulis
Bergabung Sejak: 20 Juli 2021

Jumat, 28 Juni 2024 07:45 WIB

Menelusuri Mazhab Cinta dalam Tulisan

Aku telah mencoba menyelami berbagai karya penulis ternama, dari Buku Mahabbah Cinta imam Al-Ghazali, Kitab Raudhatul Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan kisah Layla Majnun yang mengharu biru hingga syair-syair Arab yang begitu indah.   

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Cinta, satu kata yang begitu sederhana namun penuh dengan makna dan menarik untuk dibahas. Sejak aku mulai menulis, cinta selalu menjadi topik yang paling aku sukai, terutama yang berkaitan dengan hubungan cinta makhluk kepada makhluk atau makhluk kepada khaliq/penciptanya. Aku menyelami berbagai karya penulis ternama, dari buku-buku terkait mahabbah (cinta) yang ditulis Imam Al-Ghazali, kitab Raudhatul Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan kisah Layla Majnun yang mengharu biru hingga syair-syair Arab yang begitu indah.

Menulis tentang cinta memberikan rasa puas tersendiri bagiku, entah bagi orang lain. Aku bisa merasakan setiap emosi yang muncul, dari rasa bahagia dan sedih. Malam ini, yah seperti malam-malam sebelumnya, aku memutuskan untuk mencoba menelusuri berbagai mazhab cinta yang tertuang dalam tulisan-tulisan para penulis hebat.

Pertama, aku membuka buku Mahabbah Cinta Imam Al-Ghazali, ia seorang ulama besar dalam sejarah Islam, membahas konsep cinta dalam berbagai karyanya, terutama dalam bagian "Kitab al-Mahabbah" dari buku monumental Ihya' Ulum al-Din (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama). Buku ini adalah salah satu karya paling terkenal dan berpengaruh dalam literatur Islam, dan di dalamnya, Al-Ghazali menyelidiki berbagai aspek cinta (mahabbah) dari perspektif spiritual dan teologis.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Cinta kepada Allah (mahabbatullah), menurut Al-Ghazali, adalah cinta tertinggi. Ia menganggap cinta ini adalah puncak dari segala cinta dan sumber kebahagiaan sejati. Menurutnya, cinta kepada Allah harus melebihi cinta kepada dunia dan segala isinya. Cinta ini diwujudkan melalui pengabdian yang tulus, ketaatan, dan rasa syukur.

Al-Ghazali juga membahas pentingnya mencintai orang lain karena Allah (Mahabbah Fillah) . Ini berarti kasih sayang dan persahabatan antara manusia harus didasarkan pada iman dan ketakwaan, bukan semata-mata pada keuntungan duniawi.

Cinta Suci (Mahabbah Mukhlisah). Dalam pandangan Al-Ghazali, cinta yang murni adalah yang terbebas dari hawa nafsu dan keinginan duniawi. Cinta yang demikian mengarah pada kebahagiaan abadi dan kedekatan dengan Allah.

Tingkat Cinta (Maratib al-Mahabbah).  Al-Ghazali mengklasifikasikan cinta dalam beberapa tingkatan, mulai dari cinta yang paling dasar dan bersifat fisik, hingga cinta yang paling tinggi dan bersifat spiritual. Tingkat tertinggi adalah cinta yang hanya ditujukan kepada Allah.

KeduaRaudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin (Taman Orang-orang yang Mencintai dan Keindahan Orang-orang yang Rindu). Salah satu karya yang di tulis oleh ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, seorang ulama terkenal dari abad ke-14, Prinsip-prinsip Utama dalam Cinta menurut Ibnu Qayyim, Keikhlasan (Ikhlas), Cinta yang sejati harus dilandasi dengan keikhlasan. Keikhlasan memastikan bahwa cinta tersebut murni dan tidak didasari oleh motif-motif duniawi atau hawa nafsu.

Pengorbanan (Tadhiyah), Cinta sering kali membutuhkan pengorbanan, baik dalam bentuk waktu, usaha, maupun harta. Pengorbanan ini adalah bukti nyata dari keaslian cinta. Kesabaran (Sabr), Kesabaran adalah kualitas penting dalam cinta, terutama ketika menghadapi ujian dan cobaan. Kesabaran menunjukkan keteguhan hati dan ketulusan dalam cinta. Rindu (Shawq), Perasaan rindu kepada Allah dan kebaikan adalah tanda cinta yang mendalam. Rindu ini mendorong seseorang untuk selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

Aku juga membaca buku Layla Majnun karya Nizami Ganjavi. Kisah ini adalah salah satu yang paling klasik dan abadi tentang cinta. Layla dan Majnun, dua sosok yang begitu mencintai satu sama lain, namun harus terpisah oleh takdir. Setiap kali membaca kisah ini, aku selalu merasa seolah-olah sedang berada di gurun yang sunyi, merasakan penderitaan Majnun yang kehilangan Layla. Cinta dalam kisah ini begitu murni dan tulus, sebuah cinta yang bahkan waktu pun tidak bisa menghapusnya.

Kemudian, aku berpindah ke puisi-puisi cinta dari dunia Arab. Puisi-puisi ini, dengan bahasa yang indah dan penuh perasaan, seringkali membuat hatiku bergetar. Seperti puisi dari Qais ibn Al-Mulawwah, yang cintanya pada Layla begitu dalam hingga ia dikenal sebagai Majnun Layla, yang berarti 'gila karena Layla'. Setiap kata dalam puisi-puisinya adalah ungkapan dari cinta yang tulus dan tanpa syarat.

Aku juga menemukan tulisan dari penulis modern yang mencoba menggambarkan cinta dengan cara yang lebih kekinian. Misalnya, karya-karya dari Nizar Qabbani, seorang penyair Suriah yang terkenal dengan puisi-puisi cintanya. Qabbani menggambarkan cinta dengan cara yang sangat berbeda dari penulis klasik, namun tetap berhasil menyentuh hati pembacanya. 

Menelusuri mazhab cinta dalam tulisan ini membuatku semakin yakin bahwa cinta adalah tema yang universal dan abadi. Setiap penulis memiliki cara mereka sendiri untuk mengungkapkan cinta, tetapi esensi dari cinta itu sendiri tetap sama. Cinta adalah tentang perasaan yang mendalam, pengorbanan, dan keindahan. 

Malam ini, aku duduk di depan laptop dan beberapa buku ku termasuk diary yang biasa menjadi tempat aku menulis rutinitas harian, aku memikirkan tentang cinta dalam hidupku sendiri. Aku teringat pada satu nama yang tak mungkin kusebut disini, seseorang yang selalu hadir dalam pikiranku. Menulis tentang cinta membuatku menyadari bahwa perasaanku padanya adalah cinta yang tulus, meskipun aku mungkin tidak pernah bisa mengatakan nya cara langsung.

Hari ini, aku belajar bahwa cinta dalam tulisan bukan hanya tentang kata-kata indah. Setiap kali aku menulis tentang cinta, aku merasa semakin dekat dengan pemahaman akan arti cinta itu sendiri. 

Menulis tentang cinta bukan hanya sebuah aktivitas kreatif, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang membawa kita lebih dekat dengan hati kita sendiri. Aku berharap, melalui tulisan-tulisanku, aku bisa menyentuh hati orang lain seperti bagaimana tulisan-tulisan penulis besar tersebut menyentuh hatiku.

 

Wahyu Kurniawan

Ikuti tulisan menarik Wahyu Kurniawan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler