Dardanella - Sumbangan Indonesia untuk Dunia Dalam Seni Pertunjukan

Kamis, 11 Juli 2024 07:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Buku Dardanella karya Jaap Erkelens berkisah tentang sejarah sebuah group sandiwara yang pernah berjaya di Indonesia - yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Group ini melanglang buana dan memberi hiburan di kalangan kelas menengah di berbagai kota.

Judul: Dardanella – Perintis Teater Indonesia Modern Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana

Penulis: Jaap Erkelens

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2022

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xx  + 500

ISBN: 978-623-346-197-9

Sektor pertunjukan bisa memberi kita gambaran seberapa ramai kehidupan sosial, khususnya di perkotaan. Sebab sektor pertunjukan bisa menjadi indikator kesejahteraan masyarakat kelas menengah di sebuah kota atau negara. Ramainya sektor pertunjukan hanya bisa terjadi jika kelas menengah bisa mengalokasikan pendapatannya untuk membayar hiburan yang dibutuhkannya.

Jaap Erkelens melalui penelitian yang dibukukan melalui ”Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern - Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana” memberikan gambaran betapa meriahkan sektor pertunjukan di era pertengahan pertama abad 20 di wilayah Hindia Belanda. Pertunjukan teater ternyata tidak hanya marak di kota-kota besar, tetapi juga di kota-kota pinggiran. Pertunjukan tidak hanya marak di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Karya Jaap Erkelens ini bahkan menemukan bahwa Hindia Belanda (baca: Indonesia) menyumbang salah satu kelompok teater besar yang berkarya tak hanya di negeri sendiri.

Seperti dituturkan di awal buku ini, Jaap menyampaikan bahwa ia hanya tertarik untuk mencari tahu tentang lagu-lagu kabaret dan lagu-lagu mengenai kehidupan sehari-hari di pertengahan pertama abad 20 yang dibawakan oleh artis-artis Belanda. Ketertarikannya kepada lagu-lagu lama itu membawanya kepada sebuah penelitian yang serius tentang kelompok teater yang bersemi di wilayah negeri. Saat berburu piringan hitam untuk mengumpulkan lagu-lagu awal abad 20, Jaap menemukan banyak lagu stambul dan kroncong yang direkam di piringan hitam. Lagu-lagu tersebut merupakan bagian dari pertunjukan teater yang saat itu mulai marak. Jadilah Jaap tenggelam dalam penelitian tentang teater di awal dan pertengahan abad 20 di Hindia Belanda.

Jaap adalah seorang peneliti yang tekun. Ia menyadari keterbatasan referensi obyek penelitiannnya. Jaap menggunakan segala bahan sebagai sumber informasi penelitiannya. Ia menggunakan artikel koran, leaflet promosi pertunjukan dan berbagai iklan, selain menggunakan buku-buku yang jumlahnya terbatas sebagai rujukan. Berkat ketekunannya, Jaap berhasil merekonstruksi perjalanan kelompok teater yang bernama Dardanella yang menjadi kebanggan Indonesia di awal dan pertengahan abad 20.

Pengantar buku ini memberikan sejarah serba singkat seni pertunjukan teater di Asia Tenggara. Jaap menulis tentang berdirinya ”Komedie Stamboel” tahun 1891 di Surabaya. Kelompok teater ini didirikan oleh Auguste Mahieu dengan dukungan pendanaan dari Yap Goan Thaij. Komedie Stamboel memakai kisah-kisah Arab, khususnya kisah-kisah Seribu Satu Malam. Selain menjelaskan tentang lakon-lakon yang dipakai dalam pertunjukan, Jaap juga melengkapi informasi perintis teater ini dengan pengunjung, jenis musik, lagu-lagu dan aktor yang terlibat dalam pertunjukan. Jaap juga mengulik tentang pandangan pers Belanda, persaingan dengan bioskop dan munculnya opera-opra derma yang diinisiasi oleh kelompok-kelompok masyarakat Tionghoa.

Jaap memfokuskan kajiannya kepada peran tokoh-tokoh yang terlibat dalam komedie stamboel, opera, bangsawan dan tonil. Tokoh utama yang banayk dibahas di buku ini adalah Piedro. Piedro adalah keturunan Belarus yang mendirikan teater ”The Malay Opera Dardanella.” Dardanella mempunyai sri panggung yang bernama Miss Ja. Kelompok Dardanella harus bersaing ketat dengan kelompok Orion yang didirikan oleh Tio Tek Djien Jr. Orion menjadi terkenal karena mempunyai bintang panggung bernama Miss Riboet. Tokoh Mis Riboet dan Miss Ja diulas cukup mendalam dalam buku ini. Kedua kelompok teater ini tidak hanya berpentas di dalam negeri, tetapi juga melanglang sampai ke manca negara. Jaap menguraikan dengan rinci pertunjukan-pertunjukan yang dilakukan oleh kedua kelompok teater ini di dalam dan di luar negeri.

Tokoh lain yang diulas oleh Jaap adalah ”the big five.” Lima tokoh panggung yang ditulis mendalam oleh Jaap dalam buku ini adalah Astaman, Ferry Kok dan Dewi Mada, Fify Young, Miss Riboet II dan Tan Tjeng Bok. Mereka-mereka inilah yang menjadi aktor dan aktris yang merajai panggung teater, baik melalui Dardanella maupun Orion. Peran mereka tidak hanya di atas panggung pertunjukan tetapi juga di dunia film dan rekaman suara. Jaap juga menulis beberapa kisah asmara yang mewarnai kehidupan para bintang panggung ini. Termasuk kisah asmara Tan Tjeng Bok dengan ibu Piedro.

Selain dari mengisahkan perjalanan kelompok teater modern, para tokoh dan bintang panggungnya, buku ini juga merekam peran kelompok Tionghoa yang mempunyai andil yang besar dalam dunia pertunjukan di masa itu. Peran orang Tionghoa diantaranya adalah dalam hal pendanaan kelompok teater dan sebagai penikmat utama. Kelompok Tionghoa ini sepertinya adalah kelompok dominan kelas menengah sehingga mereka sudah berbudaya mencari hiburan. Kelompk Tionghoa bahkan memanfaatkan kegemaran akan hiburan melalui panggung pertunjukan tersebut sebagai sarana untuk pengumpulan dana (derma) untuk tujuan sosial.

Selain dari kelompok Tionghoa, peran dari para sultan/penguasa daerah juga sangat besar. Para sultan/penguasa daerah inilah yang mendanai perjalanan kelompok teater berpentas di wilayahnya. Jaap menulis tentang perjalanan kelompok teater ini di Kalimantan dan Indonesia Timur atas undangan dari sultan/penguasa daerah.

Kita harus berterima kasih kepda Jaap Erkelens yang telah mendokumentasikan sepenggal sejarah pertunjukan di wilayah Indonesia di awal dan pertengahan abad 20. Karya Jaap ini melengkapi kisah Hindia Belanda yang ternyata memberi sumbangan kepada dunia, termasuk di dunia hiburan. 846

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua