Waria, Sebuah Posisi Antara

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Waria memang bukan lelaki dan bukan perempuan. Ia berada pada posisi antara. Namun, haruskah ia dianggap aib? Apakah betul ajaran agama juga menyokong atau menganjurkan untuk menyisihkan orang-orang yang berada pada posisi antara macam ini?

Banyak orang bilang, Tuhan menciptakan segala yang ada di dunia ini berpasangan-pasangan: lelaki-perempuan, hidup-mati, siang-malam, kecil-besar, bagus-jelek, benar-salah, dan sebagainya. Namun dalam realitas sehari-hari, kita kerap dipertemukan dengan yang bukan lelaki bukan perempuan, bukan hidup bukan mati, bukan siang bukan malam, bukan kecil bukan besar, dan seterusnya.

Ia bukan keduanya. Ia adalah antara (maaf, dalam hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan nama kantor berita milik pemerintah kita). Ia menunjukkan sesuatu yang posisinya berada di tengah. Selain itu, dalam KBBI, antara dimaknai pula sebagai sesuatu yang sementara.

Dalam beberapa kasus, posisi antara kerap dianggap hal yang biasa atau wajar. Dengan demikian ia dianggap bukan masalah. Namun pada kasus tertentu, posisi antara ini sangat dipermasalahkan, bahkan pelik. Salah satunya adalah kasus waria.

Waria adalah orang yang memiliki sifat yang dimiliki laki-laki dan perempuan sekaligus. Orang bilang, waria adalah perempuan yang terjerat di raga lelaki. Secara raga ia adalah laki-laki namun lebih kerap berpenampilan atau bergaya layaknya perempuan. Selain itu, waria lebih cenderung menyukai (secara hasrat seksual) sesamanya atau yang jelas-jelas lelaki.

Bagaimana masyarakat menyikapi kasus antara macam ini? Ada banyak pendapat. Namun yang lebih mengemuka, fenomena antara macam ini pelak dianggap sebagai penyimpangan sosial dan seksual. Sebab cap akhirnya adalah penyimpangan, tak heran bila kemudian mereka menyisihkan atau memandang waria dengan sebelah mata.

Kasus antara macam ini memang tak segampang menentukan solusi posisi akan suatu tempat. Ini fenomena yang sensitif, apalagi jika diseret ke wilayah agama. Lain halnya untuk posisi yang menunjukkan tempat. Orang bisa saja berbeda pendapat, namun kerap segera berakhir dengan win win solution secara mudah.

Kita ambil tamsil. Jika ditanya kota apa yang terletak antara Bandung dan Jakarta, sebagian akan mengatakan Cianjur dan sisanya akan mengatakan Purwakarta. Dua kubu yang berbeda ini akan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Keduanya bisa saling menyalahkan lawan. Namun dengan sedikit penjelasan lebih lanjut, perbedaan keduanya akan segera luntur karena mereka akan segera menyadari bahwa Cianjur dan Purwakarta adalah jawaban yang sama-sama benar.

Untuk kasus waria, betapa tak mudah menyelesaikan fenomena ini seperti tamsil di atas. Secara riil, ada kubu yang bersikukuh bahwa waria adalah aib dalam pandangan agama yang ditafsirkannya. Karena dianggap aib, maka ia mesti disisihkan (kata lain dari dimusnahkan?). Caranya bisa beragam, biasanya bergantung pada posisi kekerabatannya. Jika yang menjadi waria itu adalah sang anak dalam sebuah keluarga, tak jarang ia diusir oleh orang tuanya dari rumah dan tak lagi dianggap sebagai anak. Jika yang menjadi waria itu adalah orang lain (tanpa kekerabatan darah), yang paling populer adalah dengan cara mengolok-olok. Malang betul nasib waria!

Waria memang bukan lelaki dan bukan perempuan. Ia berada pada posisi antara. Namun, haruskah ia dianggap aib? Apakah betul ajaran agama juga menyokong atau menganjurkan untuk menyisihkan orang-orang yang berada pada posisi antara macam ini? Jika harus diyakini demikian caranya, sebegitu kaku-kah (untuk tidak mengatakan diskriminatif) ajaran agama?

Lantas, apa artinya agama, yang katanya, diturunkan agar menjadi rahmat bagi seisi alam?*

Bagikan Artikel Ini
img-content
Uhan Subhan

Pengajar, Traveler, dan Penyuka Sastra.

0 Pengikut

img-content

[Indonesiana] Lomba Makan Kerupuk

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler